Pentingnya uang sebagai imbalan kreativitas

Tim peneliti menuliskan intisari mengenai hasil studi yang membahas hubungan antara kreativitas dan penghargaan.

Kreativitas masih dipandang banyak orang sebagai hobi, bukan profesi. Oleh karena itulah masih banyak pekerja kreatif yang kesulitan memperoleh penghasilan layak atau setidaknya setara dengan rekan-rekan mereka yang berkarier di ranah industri lainnya.

Anda yang memiliki kemampuan menggambar atau menulis pasti sekali dua kali pernah mendengar seseorang yang meminta bantuan profesional Anda berujar bahwa kemampuan Anda seolah bisa dikerjakan oleh banyak orang.

Kenyataannya, tidak semua orang bisa memanifestasikan bakat atau hobi menjadi karya yang impresif.

Menurut penelitian terbaru yang ditulis seorang pakar di Illinois University, penghargaan paling tepat untuk karya kreatif adalah uang bukan sekadar pujian.

Peneliti menyimpulkan bahwa dalam sebuah konteks yang menempatkan karya premium sebagai sesuatu yang orisinal, penghargaaan atas karya yang berasal dari imajinasi belum memadai dan tidak meginsipirasi pelaku kreatif.

Penghargaan yang dimaksud berasal dari perusahaan, organisasi swasta, atau pemerintahan.

Rahvi Mehta, seorang profesor administrasi bisnis yang juga salah satu rekan peneliti menjelaskan, konsensus umum dalam makalah penelitian tentang kreativitas mengatakan bahwa uang menghancurkan kreativitas.

“Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya yang menghasilkan kesimpulan tersebut, periset mengamati anak-anak sebagai peserta. Mereka tidak secara khusus diberi tahu kalau ada pemberian hadiah untuk yang paling kreatif. Jadi, apa yang akan terjadi dengan kemungkinan adanya pemberian imbalan yang memengaruhi kreativitas. Akankah orang dewasa menanggapi imbalan dengan respons yang sama dengan anak-anak?,”urai Mehta.

Mehta dan rekan peneliti mengaplikasikan lima eksperimen sebagai uji coba.

Seluruhnya memiliki tujuan sama, yaitu mempelajari pengaruh uang pada kreativitas dan pujian pada hasil kreativitas.

Hasilnya, kreativitas menjadi lebih optimal ketika dihargai dengan uang.

Peneliti melihat kemampuan dan hasil kreativitas mengarah pada karya yang lebih baik dan peningkatan daya imajinasi ketika uang menjadi bentuk penghargaan.

Sebaliknya, pujian malah memadamkan kreativitas.

“Kami menemukan, jika Anda memberita tahu orang-orang kemampuan kreatifnya akan diberikan imbalan uang, hasilnya justru menjadi lebih bagus,”imbuhnya.

Dia menambahkan, tidak menemukan bukti empiris mengenai pujian dan pengakuan sosial bisa memengaruhi kerja kreatif semakin optimal.

Pengakuan sosial, kata dia, menciptakan popularitas tentang seseorang dan kerjanya. Alhasil, hal tersebut malah memengaruhi mereka untuk berkarya sesuai dengan apa yang dianggap normal, sedangkan kreativitas adalah sesuatu yang luar biasa, tidak pernah terpikirkan sebelumnya, spektakuler, dan di luar pandangan normal.

“Saat Anda meminta seseorang untuk memberikan karya kreatif, Anda menginginkan mereka untuk transgresif, berpikir di luar hal-hal yang dipandang awam, dan proses yang tidak otomatis selesai,” terangnya.

Oleh karena itulah, dia menyimpulkan bahwa pujian dan pengakuan sosial hanya akan membunuh kreativitas karena pelaku kreatif otomatis jadi tertekan untuk tidak mengambil risiko karena tak ingin menimbulkan kontra atau mendapatkan kritik.

Menurut peneliti, kritik dan protes terjadi karena tindakan atau pikiran yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma yang umum.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR