KAIN TRADISIONAL

Perawatan yang tepat untuk kain tradisional

Perawataan kain tradisional
Perawataan kain tradisional | FarisHDZQ /Shutterstock

Memiliki kain tradisional bisa jadi salah satu cara melestarikan kebudayaan. Apalagi Indonesia punya banyak kain dengan kekhasan masing-masing daerah.

Namun, mengingat harganya tidak murah, koleksi kain tradisional butuh perawatan ekstra. Baik itu berupa batik, songket, maupun tenun.

Berikut beberapa kiat merawat kain tradisional agar berumur panjang dan tetap berkualitas baik dalam jangka panjang.

Batik

"Untuk batik sehari-hari, misalnya yang sudah jadi dress, bisa langsung dicuci setelah dipakai, tapi jangan kena sinar matahari. Cukup diangin-anginkan agar warnanya tidak pudar," ujar ahli kain Neneng Iskandar kepada Beritagar.id.

"Sedangkan untuk kain batik yang lebih langka, sebaiknya rutin dikeluarkan dari lemari dan dibuka. Sebelum disimpan, kalau mau awet, bisa dibungkus kertas bebas asam."

Kata Neneng, udara di Indonesia cukup lembap sehingga berisiko muncul jamur pada kain. Agar kain bebas jamur, Anda dapat membungkus atau mencucinya dengan lerak.

"Untuk lerak sebaiknya gunakan yang masih biji. Kalau yang sudah botolan saya curiga isinya ada zat kimia," saran Neneng.

Songket

Menurut perancang busana Zainal Arifin, songket perlu perawatan khusus agar lebih awet. Setelah dipakai, songket bisa Anda angin-anginkan selama 24 jam dan tidak perlu dicuci menggunakan air dan deterjen.

Namun, bila sudah terlihat kotor, Anda bisa menggunakan pencucian dengan metode dry clean. Kemudian, simpanlah songket dengan cara digulung, bukan dilipat dan ditumpuk bersama pakaian lain.

Kata Neneng, melipat songket bisa menyebabkan benang emas pada kain patah. Maka dari itu, menggulung adalah cara penyimpanan yang disarankan untuk songket.

Gulungan songket bisa dibungkus dengan kertas minyak, tetapi tidak plastik karena berisiko muncul jamur dan bintik hitam.

Anda pun bisa memanfaatkan cengkih atau merica ke dalam plastik. Kemudian, plastik digantung di lemari, di dekat gulungan songket. Cara ini dapat membuat songket terbebas dari kutu dan berfungsi sebagai wewangian alami.

Tenun

Perancang busana Wignyo Rahadi mengatakan bahwa perawatan tenun cukup mudah. Kain ini bisa dicuci seperti biasa dan tidak perlu dry clean.

Namun, untuk mencuci tenun, kata perancang busana Didiet Maulana, tidak boleh masuk mesin cuci dan harus dicuci dengan tangan. Selain itu, tenun juga tidak disarankan dicuci dengan sabun cuci pakaian biasa.

Anda bisa mencuci tenun dengan lerak untuk menghilangkan debu dan menjaganya agar tetap bersih. Namun, sabun biasa yang lembut seperti sabun bayi pun bisa dipakai. Saat dicuci, tenun tak perlu direndam, cukup dicelupkan ke dalam air sabun dan jangan dikucek terlalu kuat.

Kemudian, saat menjemur jangan sampai kena panas matahari secara langsung karena berisiko membuat warna tenun cepat pudar.

Setelahnya, bagian dalam tenun dapat disetrika. Jika ingin menyetrika bagian luar, alasi kain dengan kertas agar setrika tidak langsung bersentuhan dengan tenun.

Tip dari Neneng bila punya kain tenun yang istimewa, Anda bisa meminimalkan debu dengan cara vacuum. "Kain terlebih dahulu dialasi tile biar enggak ketarik benang-benangnya, kemudian disedot."

"Kalau kain menjadi kering karena udara, bisa disimpan ke dalam freezer. Caranya taruh kain dalam plastik kedap, lalu diamkan di freezer selama tiga kali 24 jam. Setelah selesai, angin-anginkan kain."

Bila Anda memiliki tiga jenis kain tradisional di atas, ada baiknya mencoba saran dari para ahli kain dan perancang busana di atas. Sebab dengan perawatan yang tepat, kain tradisional koleksi Anda dapat terbebas dari kuman dan jamur, selalu bersih, warnanya tetap awet, dan usia kain bisa tahan lebih lama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR