Perempuan butuh lebih banyak waktu luang

Ilustrasi ketimpangan gender di rumah.
Ilustrasi ketimpangan gender di rumah. | Graphbottles /Shutterstock

Seiring masalah kesetaraan gender jadi sorotan, isu-isu yang dihadapi perempuan bekerja tengah menjadi topik hangat di penjuru dunia.

Sementara perempuan berjuang menuju puncak dalam hampir segala bidang, apakah perempuan punya cukup waktu luang untuk diri sendiri layaknya laki-laki?

Ini layak dipertanyakan sebab penelitian mengungkap bahwa kaum Adam ternyata menikmati lebih banyak waktu luang setiap pekan dibandingkan dengan perempuan.

Persisnya, menurut penelitian di Inggris, perempuan hanya punya waktu 38 jam sepekan untuk bersantai. Sedangkan laki-laki punya waktu 43 jam di mana mereka terbebas dari pekerjaan dan segala tugas.

Mengapa bisa demikian?

Perempuan mengerjakan lebih banyak tugas tak berbayar, maksudnya seperti pekerjaan rumah tangga dan merawat anak. Sementara laki-laki bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk hobi, rekreasi dan bersosialisasi.

Pasalnya, sebagian laki-laki sama sekali tidak membantu pekerjaan rumah tangga.

Menurut simpulan dari data Office for National Statistics Inggris pada tahun 2015, kesenjangan waktu luang perempuan dan laki-laki telah melebar sejak abad berganti.

Waktu luang yang dimaksud mencakup bersosialisasi, beristirahat, kegiatan budaya, olahraga atau beraktivitas di luar ruangan, melakukan hobi, main gim atau komputer, mengonsumsi media massa, makan di luar dan bepergian.

Sementara yang tidak termasuk di dalamnya adalah bekerja--dengan bayaran, pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, belajar dan perjalanan yang tidak berhubungan dengan kesenangan, serta makan dan tidur.

Analisis yang keluar bersama publikasi angka tahun lalu, menyatakan: "Ketika mempertimbangkan jumlah waktu luang laki-laki dan perempuan 15 tahun yang lalu, data menunjukkan adanya pertumbuhan kesenjangan antara kedua gender dalam hal waktu luang."

Kini laki-laki punya lebih banyak waktu luang sekarang menghabiskan lebih banyak waktu setiap minggu untuk liburan dan kaum wanita kurang dibandingkan dengan tahun 2000.'

Seperti dijelaskan sebelumnya, perempuan punya lebih sedikit waktu luang karena waktu yang dipakai untuk melakukan pekerjaan tak berbayar cenderung menyita waktu yang bisa dipakai untuk bersantai.

Lebih detail lagi laporan itu menyebutkan bahwa rumah tangga dengan anak di bawah usia 15 tahun memiliki lebih sedikit waktu luang ketimbang orang-orang yang belum atau tidak berkeluarga. Persisnya, 14 jam per minggu lebih sedikit.

Namun, tampaknya hal ini tak berlaku bagi laki-laki. Mereka secara konsisten memiliki lebih banyak waktu luang daripada perempuan, berapapun usia anak mereka.

Sementara orang tua yang tinggal dengan anak, mereka yang anak bungsunya berusia antara lima dan 10 tahun sekarang punya lebih banyak waktu luang daripada tahun 2000.

Persisnya, ibu punya waktu luang satu setengah jam lebih banyak, sementara para ayah mendapatkan waktu dua jam lebih banyak.

Pada tahun 2015, orang berusia 25 sampai 34 lah yang paling sedikit memiliki waktu senggang. "Mungkin ini karena orang-orang di kelompok usia tersebut punya anak kecil," tulis ONS.

Sebaliknya, mereka yang berusia 16 hingga 24 tahun lah yang menghabiskan waktu senggang paling banyak dalam seminggu.

Waktu senggang yang biasanya digunakan untuk santai atau melakukan hobi juga meningkat seiring bertambahnya usia. Mereka yang berusia 65 tahun punya jumlah waktu terbanyak untuk bersantai.

Studi lain pada 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Springer, Sex Roles juga menemukan hal senada.

Perempuan segala usia, melakukan lebih banyak pekerjaan rumah daripada pasangan laki-laki mereka. Apapun profesi, berapapun penghasilan keduanya.

Studi ini mengamati lebih dari 900 orang yang berpasangan sejak usia dewasa muda hingga beranjak dewasa. Data dikumpulkan lewat serangkaian kuesioner yang diisi partisipan saat mereka berusia 25, 32, dan 43 tahun.

"Pola tanggung jawab pekerjaan rumah tangga antara laki-laki dan perempuan cenderung cukup konsisten pada setiap tahap kehidupan meskipun ada sedikit fluktuasi dalam volume pekerjaan rumah tangga," jelas penulis utama Rebecca Horne.

Horne berharap temuan studi ini dapat mempromosikan kesetaraan gender yang lebih besar di tingkat masyarakat dan membantu pasangan hidup agar lebih sadar akan banyaknya faktor yang berpengaruh dalam keharmonisan hidup berumah tangga.

Hasil studi ini juga dapat digunakan oleh pembuat kebijakan, bahkan pengusaha untuk mengembangkan atau menyesuaikan aturan, dan lingkungan kerja dengan cara-cara yang mendorong keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan tak berbayar, layaknya perempuan.

Statistik di Kanada juga menunjukkan betapa ketimpangan gender di rumah masih ada.

Walaupun ditemukan bahwa laki-laki di negeri Justin Trudeau itu lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga ketimbang perempuan dibandingkan pada masa lalu, nyatanya perempuan di Kanada tetap saja menghabiskan sekitar 50 persen waktunya melakukan pekerjaan tak berbayar tersebut.

Kesetaraan waktu luang bagi perempuan berumah tangga layak diperjuangkan. Sebab, riset terbaru menunjukkan, terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dapat mengurangi kemungkinan perempuan yang lebih tua untuk tetap sehat sebesar 25 persen.

Jadi wahai para laki-laki, bantulah pasangan Anda agar saat tua nanti bisa tetap sehat. Bisa dengan membagi tugas bersama, atau mencari bantuan pihak ketiga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR