Perempuan lebih bahagia melajang daripada laki-laki

Ilustrasi perempuan bahagia.
Ilustrasi perempuan bahagia. | Maridav /Shutterstock

Asumsi klise bahwa perempuan lajang berusaha mati-matian mencari pasangan, sementara laki-laki jomlo dengan puasnya menikmati kemerdekaan, akhirnya terbantahkan.

Ketika ada seorang lajang mengaku bahagia, kita sebagai bagian masyarakat kerap tak percaya. Menduga pernyataan itu sekadar penyangkalan belaka. Namun, riset berkata lain.

Sebuah studi baru-baru ini membuktikan bahwa perempuan sebenarnya lebih bahagia melajang daripada laki-laki. Demikian menurut laporan Single Lifestyles UK 2017 yang dirilis Mintel.

Temuan Mintel menyebutkan bahwa 61 persen perempuan lajang mengaku bahagia. Sementara hanya 49 persen laki-laki lajang yang merasakan hal sama.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa kebanyakan lajang tidak mempermasalahkan status mereka. Sebanyak 75 persen perempuan lajang cenderung lebih pasif dalam berusaha menjalin hubungan pada tahun lalu dibandingkan laki-laki lajang sebanyak 65 persen.

Temuan lainnya, perempuan lajang berusia antara 45 dan 65 tahun jauh lebih bahagia daripada laki-laki lajang seumuran. Tepatnya, 32 persen perempuan mengaku bahagia sendiri, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 19 persen.

Dalam pembicaraannya dengan Bustle, Jack Duckett, Senior Consumer Lifestyles Analyst di Mintel, mengatakan dalam 20 tahun terakhir ada pergeseran sosial yang perlahan tapi pasti mengasosiasikan perempuan muda dengan tingkat kemandirian yang lebih besar.

Hal tersebut, lanjut Duckett secara tidak langsung mendorong para perempuan untuk menguasai berbagai keterampilan yang selama ini diasosiasikan dengan laki-laki. Misal, urusan pemeliharaan rumah dan hal-hal swakriya (DIY).

Alhasil, ini mengurangi kebutuhan mereka akan kehadiran laki-laki di dalam rumah.

Tak kalah menarik, peneliti menemukan hanya 38 persen lajang yang memusingkan kesendirian mereka. Lain halnya dengan lajang yang berusia 18 hingga 24 tahun, sebanyak 54 persen dari mereka lebih mengkhawatirkan status.

Jadi, para lajang dapat yakin bahwa seiring waktu rasa percaya diri itu akan tumbuh. Sehingga para jomlo tidak merasa terusik oleh tekanan sosial yang seolah mengharuskan orang untuk punya pasangan.

Seperti halnya berpasangan memicu berbagai kekhawatiran dan masalah, melajang juga bisa demikian. Temuan Mintel menyebutkan bahwa para lajang cenderung lebih khawatir soal kondisi keuangan mereka.

Dari beberapa temuan menarik di atas, sangat para peneliti tidak merinci secara detail orientasi seksual para partisipan. Sehingga tidak jelas apakah temuan tersebut berlaku sama untuk perempuan lesbian dan laki-laki gay.

Terlepas dari itu, temuan ini bisa dibilang kabar baik bagi perempuan. Pasalnya, masyarakat begitu sering mengasosiasikan status lajang perempuan dengan kesepian. Juga betapa menghabiskan waktu sendirian adalah hal yang buruk, padahal sebenarnya tidak juga.

Pun demikian, alasan mengapa perempuan lebih memilih untuk melajang, sebenarnya cukup memprihatinkan.

Menurut Profesor Emily Grundy, kepala Institute for Social and Economic Research di University of Essex, perempuan pilih melajang sebab menjalin hubungan berarti mereka harus berusaha ekstra keras saat menjalaninya.

"Ada bukti bahwa perempuan menghabiskan waktu lebih lama untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga daripada laki-laki. Dan saya pikir mereka juga berusaha lebih keras secara emosional," tukas Grundy dinukil Telegraph.

Jadi, sudah repot mengurus kebutuhan rumah tangga, perempuan juga masih harus memusingkan urusan hati. Perempuan, kata Grundy, cenderung lebih berusaha mengatasi masalah atau argumen yang muncul dalam hubungan.

Akan tetapi ada kemungkinan penjelasan positif mengapa perempuan lebih cenderung melajang. Ternyata, Grundy menambahkan, perempuan lebih mahir dalam bersosialisasi saat melajang jika dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung mengandalkan pasangan mereka dalam situasi sosial.

"Tentu ada temuan umum dari banyak penelitian bahwa perempuan yang tidak memiliki pasangan cenderung punya lebih banyak aktivitas sosial dan lebih banyak teman dibandingkan dengan perempuan yang punya pasangan. Hal sebaliknya berlaku bagi laki-laki, tanpa pasangan mereka cenderung lebih jarang bersosialisasi," jelas Grundy.

Satu lagi fakta menghibur yang menunjukkan bahwa sebagai perempuan, Anda tak perlu takut melajang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR