Perempuan pencari nafkah hanya butuh dukungan

Ilustrasi
Ilustrasi
© Elwynn /Shutterstock

Banyak hal dapat memicu stres dalam berumah tangga, termasuk soal pekerjaan dan uang. Namun, bukan hanya masalah finansial dan kesibukan yang dapat mengguncang bahtera rumah tangga.

Perempuan yang memiliki jabatan dan gaji lebih tinggi dari pasangan mereka dapat merasa lebih stres. Akibatnya keutuhan hubungan pun terancam.

Sebuah studi yang dilakukan periset Kanada, Alyson Byrne dari Memorial University of Newfoundland dan Julian Barling dari Smith School of Business mengamati kedua norma sosial yang berlaku umum di masyarakat.

Pertama yang menegaskan siapa yang seharusnya membawa pemasukan dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Kedua, betapa sikap yang mendobrak norma berdampak pada perempuan pencari nafkah--istilah baratnya breadwinners.

Dalam artikel tentang studi mereka dalam Harvard Business Review, Byrne dan Barling menulis bahwa mereka ingin mengamati bagaimana konsep "kebocoran status" mungkin berlaku sebaliknya bagi perempuan dengan karier yang lebih cemerlang dari pasangannya.

Yang dimaksud dengan kebocoran status adalah ketika seseorang dengan status karier yang biasa, bergaul dengan orang-orang yang kariernya lebih cemerlang, maka mereka--yang kariernya biasa--akan menjadi lebih baik.

Di sisi lain, bagaimanapun, ada ketakutan yang dirasakan mereka yang berkarier cemerlang saat bergaul dengan mereka yang kariernya biasa-biasa saja.

Apa hubungannya dengan cinta dan pernikahan?

Dengan menggunakan skala sembilan hal, termasuk di dalamnya pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana perasaan perempuan pencari nafkah terhadap pekerjaan suaminya, serta bagaimana hal itu berdampak pada status dan kesuksesan mereka, Byrne dan Barling menemukan bahwa banyak perempuan merasa malu dan kesal saat mereka menjadi pencari nafkah keluarga, dan karier pasangan berada di bawah mereka.

Hal-hal ini mengakibatkan ketidakpuasan akan pernikahan. Akhirnya, para perempuan berkarier cemerlang pun punya kecenderungan untuk mempertimbangkan cerai.

Tapi tunggu dulu. Mereka minta cerai bukan karena malu suami tak berpenghasilan sebesar mereka. Perasaan tidak puas itu justru muncul karena cara orang lain memperlakukan perempuan yang karier suaminya tak sebaik mereka.

Menurut studi ini, perempuan-perempuan berkarier cemerlang tersebut kerap dituding menurunkan standar suami demi menikah. Sementara para suami dalam pernikahan ini juga dapat bersikap agresif terhadap para istri, sebagai dampak dari pergeseran norma gender.

Nah, perasaan-perasaan yang dirasakan oleh para istri dan suami ini rupanya terbukti bertahan dalam jangka panjang. Byrne dan Barling kemudian melanjutkan studi dengan sebagian partisipan riset setelah tiga tahun. Mereka menemukan bahwa instabilitas pernikahan dapat diprediksi berdasarkan karier dan jabatan istri yang lebih tinggi dari suami mereka.

Pertanyaannya kini, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah realita. Bagaimana agar perempuan tak merasa terbebani karena punya penghasilan yang lebih daripada suami mereka?

Jawabannya satu, dukungan nyata di rumah.

Studi ini menemukan bahwa ketika suami membantu para istri yang berkarier cemerlang dengan mengurus anak dan tugas-tugas domestik lain, maka istri mereka cenderung memiliki kepuasan tersendiri dalam pernikahan. Karena itu pula, mereka tidak merasa stres akan kesenjangan karier antara mereka dan para suami.

Byrne dan Barling menyimpulkan, dukungan emosional semata, tanpa membantu membereskan urusan domestik tidaklah cukup untuk membuat perbedaan nyata dalam pernikahan.

Pun demikian, dua peneliti ini merasa masih ada banyak hal yang perlu diteliti lebih lanjut. Mereka ingin menyelisik bagaimana para istri yang punya jabatan diperlakukan di kantor mereka, juga melihat apakah interaksi dengan para bos dan kolega berperan dalam memengaruhi perasaan mereka akan pekerjaan sang suami.

Menurut Byrne dan Barling, adalah penting bagi pasangan suami istri untuk bicara secara terbuka soal pekerjaan dan pendapatan mereka, juga bagaimana mereka dapat saling mendukung.

Pernikahan bukan perkara mudah, demikian halnya mengarungi dunia karier sebagai perempuan. Dukungan dan komunikasi terbuka, adalah cara terbaik untuk dapat melaluinya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.