Perilaku anak laki-laki usia dini pengaruhi tingkat penghasilannya kelak

Ilustrasi anak laki-laki belajar dalam kelas
Ilustrasi anak laki-laki belajar dalam kelas | mangpor2004 /Shutterstock

Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa kemampuan menghasilkan uang pada laki-laki bisa diprediksi dari perilaku mereka sewaktu kecil.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics mengungkapkan, anak laki-laki berusia enam tahun yang sering berbuat onar dalam ruang kelas menghasilkan uang yang lebih sedikit saat memasuki usia kerja.

Tim peneliti menggerakan survei terhadap 920 anak laki-laki berusia enam tahun yang tinggal di lingkungan berpenghasilan rendah di Montreal, Kanada.

Mereka mulai mengumpulkan data mulai dari tahun 1984 sampai dengan 31 tahun kemudian, yakni 2015, ketika para partisipan telah menginjak usia 35 dan 36 tahun.

Tim peneliti adalah gabungan ilmuwan dari Carneige Mellon University, University of Montreal, University College Dublin, dan sejumlah university lainnya di seluruh dunia.

Para peneliti juga melibatkan tim guru taman kanak-kanak untuk menilai siswa berdasarkan konsentrasi, hiperaktif, oposisi, agresif, dan perilaku prososial masing-masing siswa yang menjadi partisipan.

Perilaku prososial termasuk yang bermanfaat bagi orang lain, seperti membantu, bekerja sama, dan berbagi, menurut Carnegie Mellon University.

Lalu, peneliti pun mempelajari tingkat kecerdasan (IQ) setiap siswa. Mereka juga melihat tingkat pendidikan, pendapatan, dan status pekerjaan keluarga partisipan.

Peneliti menyebutkan, anak laki-laki dengan masalah kurang konsentrasi dalam ruang kelas mendapatkan penghasilan lebih kecil dari $17.000 AS per tahun saat dewasa. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan dengan siswa yang konsentrasinya lebih baik.

Sementara itu, anak-anak yang menunjukkan perilaku prososial menghasilkan penghasilan lebih besar dari $12.000 AS per tahun, angka ini lebih tinggi dibandingkan siswa yang bermasalah dengan perilaku prososial.

Para peneliti mengamati bahwa tingkat hiperaktif, agresif, dan oposisi yang lebih tinggi di antara anak laki-laki memiliki kecenderungan mengarah pada pendapatan tahunan yang lebih rendah, tetapi hasilnya secara statistik tidak signifikan.

Peneliti menghitung pendapatan peserta dengan melihat laporan pajak penghasilan tahunan atau SPT ketika mereka berusia 35 atau 36 tahun.

"Hasil kami konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih rendah secara longitudinal dikaitkan dengan perilaku saat usia dini, termasuk peringkat konsentrasi anak, hiperaktif, dan sifat prososial," catat hasil studi.

Peneliti juga menyoroti untuk kali pertama hubungan positif antara perilaku prososial masa kanak-kanak dan penghasilan pada kemudian hari.

Peneliti mengatakan bahwa hasil studi mengidentifikasi pentingnya membimbing dan mengajarkan anak laki-laki agar berperilaku lebih baik. Oleh karena itu, disarankan agar orang tua memberikan perhatian dan dukungan penuh pada anak-anak saat usia tumbuh kembang.

Tujuannya tentu saja agar anak terhindar dari konsekuensi yang dipaparkan hasil penelitian seperti tersebut di atas.

“Mengidentifikasi masalah perilaku anak usia dini sangat penting karena terkait dengan keberhasilan mereka dan kemampuan secara finansial kelak saat usia dewasa. Hal ini tidak bisa diabaikan karena juga vital terhadap peningkatan kemakmuran ekonomi yang bisa dicapai melalui pendidikan berkualitas dan integrasi sosial,” jelas Daniel Nagin, rekan penulis studi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR