PERAWATAN TUBUH

Perlindungan kulit dengan krim tabir surya tidak selalu efektif

Ilustrasi krim tabir surya
Ilustrasi krim tabir surya | Tymonko Galyna /Shutterstock

Secara intuitif, memilih tabir surya kelihatannya sederhana. Anda bisa membeli lewat keterangan SPF yang tertera atau terbujuk iklan yang paling menjanjikan. Padahal kenyataannya tak semudah itu.

Sejumlah temuan baru telah menguak paradoks bahwa perlindungan tabir surya tak seefektif yang kita kira. Mari menyelisik lebih jauh.

SPF atau Sun Protection Factor yang berarti faktor perlindungan matahari, berfungsi menunjukkan seberapa besar perlindungan dari paparan sinar matahari yang Anda dapatkan ketika berada di luar.

"SPF 15 melindungi dari 93 persen sinar UVB, SPF 30 melindungi 97 persen, dan SPF 50 sekitar 98 persen," kata Sejal Shah, seorang dokter kulit di New York City kepada Allure.

Shah menjelaskan, Anda bisa mendapatkan dua kali lipat paparan sinar matahari jika menggunakan SPF 15 dibanding SPF 30, tetapi tidak mendapat perlindungan lebih banyak dari SPF di atas 50.

Kebanyakan ahli pun membenarkan penjelasan Shah, bahwa SPF lebih tinggi tidak melindungi kulit lebih baik.

Memang penjelasan itu ada benarnya, tapi Popular Science menulis bahwa ide itu berdasarkan prinsip, bukan eksperimen ilmiah. Jadi, tak heran jika kalangan ilmuwan masih berusaha membuktikan kebenaran ide tersebut.

Pada studi yang diterbitkan secara publik awal bulan Mei 2018 di Journal of American Academy of Dermatology, peneliti menyimpulkan bahwa SPF 100 mampu mencegah luka bakar dan melindungi kulit dari sengatan matahari lebih efektif ketimbang SPF 50.

Studi dilakukan dengan membandingkan penggunaan SPF berbeda di kedua sisi wajah 199 partisipan dewasa.

Peneliti utama studi, Dr. Darrell S. Rigel, seorang profesor dermatologi di New York University. mencatat hal penting soal temuannya. Dia mengatakan, perbedaan utama antara SPF tinggi dan rendah terletak pada bagaimana kita menerapkan tabir surya dalam jumlah yang tepat.

Di satu sisi, studi Rigel hanyalah uji coba acak dan satu-satunya penelitian yang ada soal kemanjuran SPF sehingga tak bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya.

Namun, di sisi lain, catatan Rigel membenarkan bukti yang ada bahwa kebanyakan orang memang cuma mendapat sepertiga hingga setengah dari jumlah SPF yang tertera di botol kemasan.

Penggunaan yang tepat, berdasarkan rekomendasi American Academy of Dermatology, adalah sekitar dua sendok makan atau lebih banyak lagi jika tubuh Anda besar. Sementara SPF yang baik adalah tidak lebih rendah dari 15 atau lebih tinggi dari 30.

Kendati begitu, masih ada rentetan masalah.

Situs Atlanta Journal Constitution (23/5) melaporkan, dua temuan studi yang menyebutkan bahwa 67 persen tabir surya tidak efektif melindungi kulit, khususnya dari sinar UVA.

Studi yang diadakan oleh Consumer Reports dan Environmental Working Group (EWG) itu memaparkan laporan panjang yang mencakup pengujian perlindungan UVA dalam tabir surya.

Radiasi UVA diketahui bisa menyebabkan kerusakan di bawah permukaan kulit seperti penuaan dini hingga kanker kulit, sedangkan UVB bertanggung jawab atas kerusakan di permukaan kulit seperti kulit terbakar.

Selain itu, menurut peneliti EWG, produk SPF tinggi--di atas 50--mengandung lebih banyak bahan kimia yang justru meningkatkan risiko kanker kulit langka melanoma, termasuk reaksi alergi, kerusakan jaringan, dan banyak lagi.

Bahkan,temuan itu juga menunjukkan bahwa sebagian besar produk tabir surya yang populer di pasaran ternyata mengandung bahan-bahan yang berpotensi berbahaya seperti oxybenzone dan octinoxate.

Selain terbukti mempercepat pemutihan dan merusak DNA terumbu karang, studi EWG juga menyebut keduanya “berpotensi menganggu hormon” manusia, meski penelitian yang dilakukan baru sebatas pada hewan.

Namun, masalahnya, kandungan oxybenzone justru paling efektif menangkal radiasi matahari ketimbang tabir surya mineral atau tabir surya semprot.

Melansir CNN (22/5), keamanan tabir surya semprot yang tak sengaja terhirup manusia masih diteliti, khususnya pada paru-paru anak kecil.

Bahkan, pil tabir surya dan tabir surya tahan air sekalipun terbukti tidak efektif.

Today.com melaporkan, Food and Drug Administration (FDA) secara tegas menyebut bahwa keterangan yang menyebut pil tabir surya efektif merupakan kepalsuan belaka yang menyesatkan konsumen,

Sementara itu, menukil BBC (24/5), studi baru menemukan bahwa produk tabir surya tahan air ternyata bekurang efektivitasnya setelah dipakai di laut.

Lebih lanjut, studi ini menyoroti penurunan SPF hingga 59 persen setelah direndam selama 40 menit dalam air garam. Peneliti mengatakan temuannya telah mengekspos cacat serius dalam ranah pengujian saat ini.

Oleh sebab itu, para ahli menyimpulkan bahwa tak ada tabir surya yang 100 persen efektif. Mereka menyarankan agar selalu menerapkan krim secara teratur setidaknya 2 jam sekali, dengan catatan hanya sesekali seperti di pantai.

Perhatikan juga untuk tidak berlama-lama tersengat matahari langsung dan lindungi kulit dengan topi serta pakaian berkerah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR