SENGKETA DAGANG

Perseteruan Kanye West dengan Yeezy buatan Tiongkok

Ilustrasi sepatu Yeezy.
Ilustrasi sepatu Yeezy. | andersphoto /Shutterstock

Tiongkok sudah lama terkenal sebagai negara tempat hadirnya produk tiruan dari berbagai barang, terutama produk merek ternama di dunia. Kadang mereka meniru bentuk produk hingga ke detailnya, kadang juga menggunakan nama dagang produk tersebut.

Namun, yang dilakukan salah satu perusahaan asal Tiongkok kali ini bukanlah soal membuat produk tiruan. Dilansir TMZ, Fujian Baby Network Technology Co. justru membuat produk baru dengan membonceng ketenaran Yeezy.

Fujian tidak membuat sepatu Yeezy palsu, tetapi mendaftarkan hak merek dagang produk pakaian dengan nama Yeezy Boost.

Yeezy adalah sepatu produk kolaborasi antara West dengan pemanufaktur sepatu olahraga ternama asal Jerman, Adidas. Merek ini ikut mengerek Adidas naik ke peringkat kedua sepatu terlaris di Amerika Serikat tahun lalu, hanya kalah dari Nike, seperti dikabarkan Fortune.

Bahkan Presiden Joko Widodo juga terlihat memakai sepatu Yeezy dalam kunjungan ke Australia, dan saat jalan-jalan di Istana Bogor beberapa waktu lalu.

Klaim tersebut bisa dilakukan Fujian Baby karena Kanye West ternyata tidak pernah mendaftarkan hak atas merek dagang Yeezy untuk produk lain di luar sepatu.

Kanye telah menggunakan nama Yeezy sebagai merek alas kaki sejak koleksi perdananya muncul pada Februari 2013. Ia kemudian juga membuat pakaian. Namun, entah apa alasannya sehingga ia hanya mendaftarkan Yeezy sebagai merek dagang untuk produk alas kaki saja, mengabaikan Yeezy sebagai merek dagang busananya.

Akhirnya pada 9 Juni 2017, Fujian Baby pun mencomot nama Yeezy Boost untuk digunakan sebagai merek pakaian dan langsung mendaftarkannya untuk mendapatkan hak dagang.

Nah, setelah merek itu didaftarkan Fujian Baby, baru kemudian Kanye West menyerahkan dokumen untuk mengurus hak atas nama Yeezy ke Kantor Hak Paten Amerika Serikat. Rapper yang juga suami dari Kim Kardashian ini berharap langkah yang dilakukannya dapat menghentikan perusahaan tersebut untuk menggunakan nama Yeezy.

Tentu saja Fujian Baby bersikeras untuk bisa tetap menggunakan merek tersebut bagi produk mereka. Sebab, mereka lah yang lebih dulu memasukkan data ke kantor hak paten ketimbang Mascotte Holdings, Inc. sebagai induk perusahaan Yeezy milik Kanye West.

Tak pelak keduanya pun akhirnya harus bertarung demi mendapatkan hak legal penggunaan nama Yeezy.

Namun, menurut ulasan The Fashion Law, hukum di Amerika Serikat--di mana Kanye West melegalisir merek dagangnya--tak sekadar memprioritaskan pihak pertama yang mengirim dokumen.

Lebih dulu mengirim dokumen untuk legalisir bukan berarti lebih terjamin akan dikabulkan. Pemohon harus benar-benar lebih dulu menggunakannya sebagai sebuah merek untuk mendapatkan hak atas penggunaan nama tersebut.

Namun di Tiongkok, hukum yang berlaku justru sebaliknya. Pemohon pertama lah yang biasanya bakal mendapat hak atas merek dagang tersebut.

Itu sebabnya di Negeri Tirai Bambu itu banyak perusahaan lokal mendaftarkan hak merek dagang yang sama dengan merek yang sebenarnya sudah digunakan perusahaan lain di luar Tiongkok. Akibatnya, saat perusahaan luar itu masuk ke Tiongkok, perang memperebutkan nama merek kerap terjadi.

Itu pula yang menyebabkan jenama asal Amerika Serikat bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk dapat menggunakan merek dagangnya di Tiongkok.

Hal ini dibenarkan oleh Sam P. Israel, pengacara spesialis kepengurusan legalisir properti intelektual di New York, Amerika Serikat, kepada GQ.com.

"Perusahaan asal Tiongkok itu hanya menjadi biang kesulitan dari semua ini," keluhnya.

"Fakta sesungguhnya sangat sederhana untuk diselesaikan. Kanye West memiliki mereknya. Jika dia menggunakannya pertama kali, berarti dia yang memilikinya," tegasnya.

Dalam situasi seperti ini, menurutnya hal paling penting adalah untuk mencari tahu siapa yang pertama kali dan benar-benar menggunakan merek tersebut di kehidupan nyata.

Penjelasan tersebut seharusnya bisa membuat West sedikit lega. Mungkin ayah tiga anak ini baru harus khawatir jika ia akan membuat produk selain pakaian dan sepatu.

Meskipun demikian, ini bukanlah kali pertama West bermasalah soal hak cipta. Sebelumnya, ia justru harus harus menghadapi tuntutan Jordan Outdoor Enterprises.

Perusahaan tersebut mengklaim bahwa pihak West telah menggunakan motif kamuflase ala tentaranya untuk koleksi Yeezy Musim ke-5 yang terdiri dari jaket bertudung (hoodie), kemeja, celana dan bot setinggi paha tanpa izin.

Mereka menyatakan, West telah melakukan penjiplakan setelah pihak West sempat meminta izin kepada Jordan Outdoor Enterprises untuk menggunakan motif tersebut. Namun, saat itu diskusi terhenti setelah perusahaan yang memproduksi kebutuhan luar ruangan tersebut menyodorkan lisensi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR