Pertanyaan wajib saat konsultasi dengan dokter

Meski maksud dokter baik, bukan berarti mereka selalu mengenali kebutuhan pasien. Jadi, berperan aktif lah dalam konsultasi.
Meski maksud dokter baik, bukan berarti mereka selalu mengenali kebutuhan pasien. Jadi, berperan aktif lah dalam konsultasi. | Rocketclips, Inc. /Shutterstock

Konsultasi dengan dokter kadang tak maksimal. Anda ragu bertanya, padahal itu adalah hak pasien.

Sementara dokter, seperti manusia pada umumnya juga kadang disalahartikan perkataannya. Mereka pun tak luput dari miskomunikasi.

"Hal seperti ini terjadi setiap waktu. Dokter dan pasien melihat berbagai hal dalam urutan kepentingan yang berbeda," ujar Dr. Adrienne Boissy, chief of patient experience di Cleveland Clinic dikutip TIME.

Contohnya, Anda ingin tetap ikut kelas bootcamp, namun fokus dokter adalah pada mengatasi nyeri otot. Hal ini menunjukkan, meski maksud dokter baik, bukan berarti mereka dapat selalu mengenali kebutuhan pasien yang paling utama.

Jadi, berperan aktif lah dalam konsultasi dengan dokter. "Bertanya adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan Anda dan dokter punya pemahaman sama," kata Dr. Ted Epperly dari University of Washington School of Medicine.

Time melansir, setidaknya ada 9 pertanyaan yang sebaiknya Anda tanyakan pada dokter.

"Apa opsi pengobatan lainnya?"

Dokter tidak bisa mendikte pasien. Keputusan yang dibuat harus merupakan keputusan bersama.

"Hasil seperti apa yang dapat saya harapkan?"

Setelah tindakan seperti operasi atau semacamnya, Anda mungkin berasumsi segalanya berjalan normal. Namun dokter pasti lebih tahu. Nah, mengetahui hal itu sebelum menjalani sebuah tindakan menjadi sangat penting.

"Apakah tindakan ini harus dilakukan sekarang, atau bisa ditunda?"

Dokter hampir selalu sibuk dan tak punya waktu. Jadi saat menghadapi pasien, ada kemungkinan dokter ingin langsung melakukan tes atau tindakan sekaligus. Padahal sebenarnya ada beberapa yang bisa ditunda.

"Adakah yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki kondisi?"

Gaya hidup memengaruhi risiko sakit hingga 70 persen. Pilihan-pilihan yang Anda buat juga berperan penting dalam membantu penyembuhan.

"Terkadang mengubah gaya hidup lebih penting daripada minum obat. Tapi banyak dokter tak menyarankan intervensi gaya hidup kalau tidak ditanya pasien," ujar Dr. Rob Danoff dari Philadelphia's Aria Health System.

"Apa efek sampingnya?"

Pengobatan hampir selalu ada efek sampingnya. Bisa sakit kepala, ruam di kulit, dan lain-lain. Sebaiknya pasien tahu dan paham betul tentang ini.

"Kapan dan bagaimana saya dapat hasil tes?"

Menunggu sering kali menimbulkan rasa cemas. Jika pasien tahu pasti kapan hasil tes keluar, dan bagaimana ia akan mendapat penjelasan, maka mereka tak perlu cemas.

"Berapa biayanya?"

Nyatanya, banyak dokter yang tidak tahu biaya berbagai tes, pengobatan, atau terapi. Jika dokter Anda juga demikian, seharusnya ia bisa mereferensikan Anda pada stafnya atau bagian administrasi. Sehingga Anda tahu perkiraan biaya sebelum menjalani tindakan apapun.

"Apakah saya perlu mencari opini kedua?"

Pertanyaan ini perlu diajukan, terutama jika Anda sedang mempertimbangkan operasi atau tindakan serius lainnya. Dokter yang baik tak segan memberikan referensi pada spesialis lain.

"Pertanyaan apa yang seharusnya saya tanyakan, tapi belum?"

Tindakan dan pengobatan bukan sekadar masalah teknis. Ada aspek emosional yang biasanya terlupakan. Padahal ini justru hal penting. Dokter bisa saja melupakan hal ini jika pasien tak bertanya.

Selain itu menurut MedicineNet.com, ada beberapa pertanyaan lain yang juga perlu ditanyakan pada dokter. Kebanyakan fokus pada penyakit.

Misal, apa penyebabnya, tes apa saja yang perlu dilakukan? Selain itu, Anda juga perlu nomor dokter yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat.

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa Anda jadikan bekal saat konsultasi dengan dokter. Jika dokter kelihatan tak berniat menjawab, atau Anda mendapat respons negatif, carilah dokter lain.

"Adalah hak pasien atau konsumen kesehatan untuk mendapatkan pendapat dari dokter lain mengenai masalah kesehatan yang dialami," kata dr. Arifianto, Sp.A., dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) dilansir TabloidNOVA.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR