KESEHATAN PEREMPUAN

Pil KB pengaruhi cara perempuan membaca emosi

Ilustrasi pil kontrasepsi.
Ilustrasi pil kontrasepsi. | Farland2456 /Shutterstock

Penelitian baru menunjukkan, perempuan pengguna pil kontrasepsi kurang mampu mengenali ekspresi wajah dan emosi yang kompleks. Sementara, ada setidaknya 100 juta perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi di seluruh dunia.

"Tetapi sangat sedikit yang diketahui tentang efeknya terhadap emosi, kognisi, dan perilaku," kata Alexander Lischke, penulis senior makalah dan peneliti di Departemen Psikologi Fisiologis dan Klinis Psikoterapi di University of Greifswald Jerman.

Pil KB tidak hanya memiliki manfaat kontrasepsi. Ada juga manfaat terapeutiknya.

Mulai dari mengendalikan jerawat, membantu mengatasi menstruasi yang menyakitkan, juga mengendalikan endometriosis.

Namun, pil kontrasepsi juga bisa menimbulkan berbagai efek samping, tergantung jenis pil dan hormon yang dikandungnya. Efek samping itu termasuk mual, nyeri payudara, sakit kepala, dan kembung.

Selain efek samping pada fisik, beberapa penelitian menunjukkan kaitan antara konsumsi pil KB dan perubahan suasana hati serta peningkatan risiko depresi.

Penelitian baru dalam jurnal Frontiers in Neuroscience menambah efek psikologis yang berpotensi merugikan, yakni gangguan penilaian sosial.

Perempuan yang mengonsumsi pil kontrasepsi cenderung kurang bisa mengidentifikasi ekspresi emosional yang kompleks. Misalnya rasa bangga atau hina secara akurat.

"Temuan kebetulan menunjukkan kontrasepsi oral mengganggu kemampuan mengenali ekspresi emosional orang lain, ini bisa memengaruhi cara pengguna memulai dan mempertahankan hubungan dekat," kata Lischke.

Untuk menentukan beberapa efek ini, Lischke dan rekannya meminta dua kelompok perempuan melakukan tugas mengenali emosi. Kelompok pertama terdiri dari 42 perempuan sehat yang menggunakan kontrasepsi oral, kelompok kedua terdiri dari 53 perempuan sehat yang tidak minum pil KB.

Lischke berujar, "Jika kontrasepsi oral menyebabkan penurunan dramatis dalam mengenali emosi perempuan--seperti hipotesis, kita mungkin akan memperhatikan ini dalam interaksi sehari-hari dengan pasangan kita."

Para peneliti berasumsi gangguan tersebut tidak terlalu terlihat. Sehingga mereka harus menguji pengenalan emosi perempuan dengan tugas yang cukup sensitif untuk mendeteksinya.

"Kami menggunakan tugas yang membutuhkan pengenalan ekspresi emosi kompleks dari area wajah sekitar mata," terang Lischke.

Ekspresi emosional tersebut termasuk penghinaan dan kesombongan, yang lebih kompleks daripada ekspresi emosi yang lebih sederhana seperti ketakutan atau kebahagiaan.

"Sementara kedua kelompok sama-sama pandai mengenali ekspresi yang mudah, para pengguna--kontrasepsi oral--cenderung kurang bisa mengidentifikasi ekspresi yang sulit dengan benar," lapor Lischke.

Persisnya 10 persen di antara mereka kurang akurat dalam mengenali emosi dibandingkan perempuan yang tidak minum pil. Temuan ini tidak tergantung pada fase siklus menstruasi atau pada apakah ekspresi wajah itu positif atau negatif.

Menurut Lischke, ini mungkin terjadi karena variasi siklik kadar estrogen dan progesteron diketahui memengaruhi bagaimana perempuan mengenali emosi dan memengaruhi aktivitas serta koneksi di wilayah otak yang terkait.

"Karena kontrasepsi oral bekerja dengan menekan kadar estrogen dan progesteron, masuk akal jika kontrasepsi oral juga memengaruhi cara perempuan mengenali emosi. Namun, mekanisme pasti yang mendasari perubahan akibat kontrasepsi oral dalam pengenalan emosi perempuan masih harus diselidiki," papar Lischke.

Namun, tak semua ilmuwan sepakat. Jonathan Schaffir, associate professor obstetri dan ginekologi di Ohio State University, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan bahwa ia tidak yakin pertanyaan penelitian ini layak untuk diupayakan.

Schaffir mengakui sekitar 10 persen pengguna pil kontrasepsi memang mengalami perubahan suasana hati. Bagaimanapun menurut Schaffir, menyelidiki bagaimana pil ini bisa memengaruhi proses emosional bukan sesuatu yang mendesak.

Schaffir juga beranggapan, para peneliti terlalu cepat menarik kesimpulan tentang apa yang menyebabkan skor pengenalan emosi berbeda. Hanya karena pengguna pil KB tidak melakukannya dengan baik bukan berarti mereka mendapat skor lebih rendah karena pil itu.

Ada faktor-faktor lain yang tidak dipertimbangkan. Misal, mengapa para peserta menggunakan alat kontrasepsi sejak awal. "Kesimpulan yang mereka ambil dari ini terlalu berlebihan," pungkas Schaffir.

Sementara, para penulis penelitian mencatat temuan mereka sebaiknya diperhitungkan ketika dokter memberi tahu perempuan tentang efek samping pil kontrasepsi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR