Plus minus perkawinan beda generasi

Ilustrasi : Pasangan beda usia
Ilustrasi : Pasangan beda usia | Milatas /Shuttestock

Menjalin hubungan hingga akhirnya menikah dengan pasangan beda generasi sudah dialami banyak orang. Dalam perspektif psikologi, setiap individu berhak untuk menentukan pasangannya sendiri.

Bona Sardo, seorang pengajar sekaligus psikolog Universitas Indonesia yang menguasai di bidang psikologi klinis menyatakan perkawinan antara pasangan yang usianya terpaut jauh adalah hal yang wajar.

“Mengenai perkawinan yang beda usia jauh itu sebenarnya wajar-wajar saja kalau dari perspektif psikologi. Beda usia di sini mau sejauh atau sedekat apapun itu masih fine kok,” tutur Bona kepada Kumparan.com.

Secara psikologis, laki-laki atau perempuan yang mengawini pasangan beda generasi merupakan keputusan besar. Menurut Profesor Gerry Karantzas, direktur Science of Adult Relationships (SoAR) Laboratory, Deakin's School of Psychology, perbedaan umur dalam suatu hubungan dari sisi evolusi psikologi adalah karena seseorang mencari kualitas yang berbeda pada pasangannya.

“Meskipun laki-laki dan perempuan menghargai kehangatan dan rasa percaya, perempuan mencari ‘investasi’ dalam hubungannya, sehingga perempuan lebih memandang penting status dan harta daripada laki-laki,” katanya.

Perkawinan beda generasi pun membawa keuntungan tersendiri. Ditulis Sara Skentelbery dan Darren Fowler, psikolog dari St. mary’s University, Halifax, Kanada bahwa secara evolusi, perbedaan usia membawa keuntungan bagi manusia untuk bertahan hidup.

Menyoal kawin beda generasi, psikolog dari Klinik Pelangi, Irene Raflesia, M. Psi. mengatakan, hubungan serius seperti perkawinan umumnya dilandasi oleh rasa cinta dan rasa nyaman.

Dinukil Suara.com, afeksi ini yang bisa saja memengaruhi kita dalam memilih pasangan. Terlepas dari afeksi yang kurang atau berlebih dari orang tua, tiap orang memiliki kecenderungan untuk berusaha memenuhi kebutuhan afeksinya melalui pasangan.

"Hal terpenting adalah kita menyadari bahwa pasangan bukan sosok pengganti orang tua melainkan pendamping hidup kita," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Di luar urusan cinta, menjalin hubungan bahkan menikah dengan kondisi selisih usia yang terpaut jauh dengan pasangan tentu memerlukan banyak penyesuaian. Bahkan tak menutup kemungkinan timbul konflik yang berbeda dengan mereka yang menikah dengan usia yang sama atau tidak terpaut jauh.

Disebutkan oleh Irene, pada perkawinan dengan selisih 10 tahun ke atas misalnya, baik laki-laki maupun perempuan bisa saja memiliki tugas perkembangan yang berbeda. Laki-laki mungkin masih sibuk mengejar karir sementara pasangannya sudah mapan dan mencapai puncak kariernya.

Bona juga berpendapat sama. Ia melihat bahwa akan ada potensi konflik dalam perkawinan dengan jarak umur terlalu jauh. Potensi konflik ini bisa muncul dalam masalah ego, pengambilan keputusan, proses interaksi, pemenuhan kebutuhan lahir batin yang juga bisa berbeda.

“Potensi konflik bisa muncul dalam hal stabilitas emosi antara yang muda dan yang tua. Pasangan yang lebih tua umumnya punya tingkat kematangan yang lebih tinggi, sehingga frekuensi emosi pun lebih tenang dan tidak meletup-letup." katanya.

Selain masalah emosi, hal yang perlu dicermati asalah soal sisi biologis pasangan. Umumnya perempuan berusia 50 tahun sudah memasuki masa menopause sehingga hasrat seksual dapat saja menurun bila dibandingkan dengan laki-laki yang berusia 40 tahun.

Konflik akan mudah terpancing, ketika kebutuhan gairah dan lahiriah di antara pasangan tidak dapat dijembatani.

Untuk mengatasi konflik yang bakal terjadi, ahli psikologi dari Jerman Erik Erikson menyatakan individu akan mengalami krisis psikososial yang berbeda-beda pada setiap tahapan perkembangannya.

Potensi masalah mungkin terjadi saat pasangan berada pada tahapan yang berbeda. Tapi dengan memahami krisis psikososial pada setiap tahap perkembangan tersebut, menurut Erik, perkawinan beda usia yang cukup jauh tetap bisa tetap harmonis.

Serta setiap pasangan juga perlu melakukan penyesuaian ekstra dan upaya memahami situasi, seperti dikatakan Irene.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR