KESEHATAN ANAK

Polusi udara berkaitan dengan autisme

Ilustrasi autisme.
Ilustrasi autisme. | Africa Studio /Shutterstock

Anak-anak yang menghirup udara beracun mungkin berisiko lebih tinggi tumbuh dengan gangguan autism spectrum disorder (ASD). ASD adalah nama untuk berbagai kondisi, termasuk sindrom Asperger yang memengaruhi interaksi sosial seseorang, komunikasi, minat, dan perilaku.

Penelitian baru dari Monash University, Australia menemukan ancaman ini khususnya dihadapi oleh bayi yang baru lahir hingga anak usia tiga tahun.

Jika mereka terpapar partikel halus dari knalpot kendaraan, emisi industri, dan sumber polusi luar lain maka risiko autisme pun lebih besar hingga 78 persen.

Sampel penelitian ini terdiri dari 124 anak ASD dan 1.240 anak sehat di Shanghai, Tiongkok. Anak-anak ini dinilai secara bertahap selama periode sembilan tahun. Lamanya waktu memungkinkan para peneliti memeriksa hubungan antara polusi udara dan ASD.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International ini adalah yang pertama mengamati efek paparan jangka panjang polusi udara pada ASD selama kehidupan awal anak-anak di negara berkembang.

Temuan ini menambah bukti yang mengaitkan paparan polusi udara pralahir dengan ASD pada anak-anak. "Penyebab autisme sangat kompleks dan tidak sepenuhnya dipahami, tetapi faktor lingkungan semakin diakui selain faktor genetik dan lainnya," kata Associate Professor Yuming Guo dari School of Public Health and Preventive Medicine Monash University di Australia.

Gen jelas memainkan peran yang kuat dalam perkembangan ASD. Namun, kondisi lingkungan juga tampaknya berperan.

Ini kemudian menimbulkan pertanyaan seberapa berpengaruhnya beberapa tahun pertama kehidupan pada otak anak yang sedang tumbuh.

Guo menjelaskan, "Otak anak-anak belia yang masih berkembang lebih rentan terhadap paparan beracun di lingkungan, dan beberapa studi telah menyarankan ini dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem kekebalan tubuh."

Sambungnya, "Efek ini bisa menjelaskan hubungan kuat yang kami temukan antara paparan polutan udara dan ASD, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan antara polusi udara dan kesehatan mental yang lebih luas," terang Guo.

Polusi udara adalah masalah kesehatan masyarakat yang besar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi diperkirakan menelan hingga empat juta korban jiwa setiap tahun di seluruh dunia.

Polutan di luar ruangan berkontribusi terhadap beban penyakit yang tinggi dan kematian dini di negara-negara termasuk Tiongkok dan India, terutama di daerah-daerah padat penduduk.

Polusi udara memburuk dengan cepat hingga tidak ada tingkat paparan yang aman, kata Guo. Bahkan di Australia yang konsentrasi polusinya biasa lebih rendah, polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil dan proses industri menyebabkan sekitar 3.000 kematian prematur per tahun.

Angka ini hampir tiga kali lipat dari jalan tol nasional, dan membebani ekonomi hingga $24 miliar.

“Efek kesehatan serius dari polusi udara terdokumentasi dengan baik, menunjukkan tidak ada tingkat paparan yang aman. Bahkan paparan jumlah partikel halus yang sangat kecil telah dikaitkan dengan kelahiran prematur, pembelajaran tertunda dan berbagai kondisi kesehatan serius, termasuk penyakit jantung,” Guo menjelaskan.

Para peneliti menyelidiki efek kesehatan dari tiga jenis materi partikulat: PM1, PM2.5, dan PM10. Ini adalah partikel udara halus yang merupakan produk sampingan emisi dari pabrik, polusi kendaraan, aktivitas konstruksi, dan debu jalan.

Semakin kecil partikel udara, semakin ia mampu menembus paru-paru dan memasuki aliran darah, menyebabkan berbagai gangguan kesehatan serius. PM1 adalah yang terkecil dalam ukuran partikel, tetapi beberapa penelitian telah dilakukan pada PM1 secara global dan belum ada standar keamanan untuk itu.

“Terlepas dari kenyataan bahwa partikel yang lebih kecil lebih berbahaya, tidak ada standar atau kebijakan global untuk polusi udara PM1. Mengingat PM1 menyumbang sekitar 80 persen polusi PM2.5 di Tiongkok saja, penelitian lebih lanjut tentang efek kesehatan dan toksikologinya diperlukan untuk menginformasikan pembuat kebijakan guna mengembangkan standar pengendalian polusi udara PM1 di masa depan,” pungkas Guo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR