BUDAYA DIGITAL

Ponsel di kelas membuat belajar kurang efektif

Ilustrasi penggunaan ponsel dalam kelas
Ilustrasi penggunaan ponsel dalam kelas | Veran36 /Shutterstock

Menggunakan gawai elektronik di ruang kelas dapat mengganggu siswa, bahkan mengarah ke perolehan nilai yang lebih rendah. Murid yang tidak menggunakan gawai di kelas, tapi menghadiri kelas yang mengizinkan penggunaan ponsel pun kena dampak buruknya.

Temuan diterbitkan dalam jurnal Educational Psychology ini menunjukkan, penggunaan ponsel atau sabak digital terbukti merusak lingkungan belajar berkelompok.

Para ilmuwan mengungkap, siswa yang memiliki ponsel atau laptop dan menghadiri kelas nilai ujian atau peringkatnya lima persen--atau setengah nilai peringkat--lebih rendah daripada siswa yang tidak menggunakan gawai elektronik.

“Banyak siswa berpikir mereka dapat membagi perhatian di ruang kelas tanpa merusak kesuksesan akademis mereka--tetapi kami menemukan efek berbahaya pada kinerja ujian dan nilai akhir,” ujar peneliti utama studi Arnold Glass, seorang profesor psikologi di School of Arts and Sciences Rutgers – New Brunswick, Amerika Serikat, dalam sebuah pernyataan.

"Untuk membantu mengelola penggunaan gawai di kelas, guru harus menjelaskan kepada siswa efek merusak dari gangguan pada retensi --tidak hanya untuk diri mereka sendiri tetapi untuk seluruh kelas," tambahnya.

Untuk penelitian ini, tim memantau dua kelompok mahasiswa psikologi kognitif Rutgers – New Brunswick. Para peneliti memisahkan 118 mahasiswa yang terdaftar dalam kursus yang sama menjadi dua kelompok.

Setiap kelompok diajarkan materi yang sama oleh profesor yang sama, tetapi satu kelompok diizinkan untuk memiliki ponsel dan laptop untuk tujuan non-akademik, sementara kelompok lain tidak.

Mayoritas siswa menggunakan gawai elektronik ketika diizinkan, sementara hanya enam siswa yang tidak menggunakannya sama sekali. Hasilnya, siswa yang diperbolehkan menggunakan gawai elektronik tidak mendapat skor lebih rendah pada tes pemahaman selama kuliah, namun mereka mendapat nilai lebih rendah pada ujian di akhir semester.

Studi ini juga menemukan bahwa siswa yang diperbolehkan menggunakan gawai elektronik di kelas tapi tidak menggunakannya juga mendapat skor lebih rendah. Para peneliti mengaitkan ini dengan gangguan dari gawai di sekitar mereka.

"Intrusi perangkat elektronik yang menggunakan internet (laptop, sabak, dan ponsel) telah mengubah sistem belajar kuliah perguruan tinggi modern menjadi tugas yang terbagi-bagi," kata studi tersebut.

Para ilmuwan yang mempelajari efek dari perhatian terbagi pada orang tahu bahwa ketika perhatian dibagi antara dua tugas, lebih sedikit jumlah informasi mengenai tugas-tugas tersebut yang dapat ditarik kembali nanti. Sebuah konsep yang disebut "retensi" dalam psikologi. Karena individu menghabiskan lebih sedikit sumber daya mental pada aktivitas mnemonik, seperti menjawab pertanyaan kuis di kelas yang nantinya akan muncul dalam ujian akhir.

Glass mengatakan kepada ABC News bahwa penelitian ini juga berlaku untuk sekolah menengah pertama dan menengah atas, serta rapat di tempat kerja.

Menurut siaran pers dari Rutgers University, penelitian ini adalah yang pertama kalinya menunjukkan hubungan kausal antara gangguan dari elektronik dan kinerja ujian.

Meski demikian, hanya sejumlah kecil orang yang terlibat di sini. Lalu sifat jangka pendek dari penelitian berarti terlalu dini untuk membuat kesimpulan secara luas tentang bagaimana kehadiran gawai berdampak pada pembelajaran jangka panjang.

Tapi temuan tersebut senada dengan penelitian tahun lalu yang menunjukkan kehadiran ponsel--bahkan jika dimatikan--terkadang dapat mengurangi kapasitas mental.

Tim di balik penelitian baru ini ingin melihat lebih banyak penelitian yang dilakukan di ruang kelas dan kondisi ruang kuliah yang sebenarnya untuk lebih memahami bagaimana kenyamanan tambahan ponsel, laptop dan sabak dapat merusak kinerja akademis secara keseluruhan.

Penelitian tambahan pada gawai elektronik menunjukkan bahwa ponsel pintar dapat mengurangi kemampuan berpikir untuk potensi penuh seseorang, dan penelitian tambahan dari Stanford University, mengungkapkan bahwa mengerjakan beberapa tugas sekaligus secara intens mengurangi efisiensi menyelesaikan tugas yang diberikan.

Sementara penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perhatian yang terbagi dapat menyebabkan kinerja yang buruk pada ujian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR