HUBUNGAN ASMARA

Potret jomlo di Indonesia

Ilustrasi seorang lelaki dan perempuan yang duduk berdampingan.
Ilustrasi seorang lelaki dan perempuan yang duduk berdampingan. | Mindmo /Shutterstock

Pernah dengar "jojoba"? Akronim dari kalimat "jomlo-jomlo bahagia" itu sempat populer pada awal 2000-an. Istilah itu merujuk pada orang yang memilih untuk menunda pernikahan--entah karena niat atau memang sulit cari pasangan--agar lebih lama berpetualang sendirian.

Keberadaan jomlo di Indonesia, menurut riset yang pernah dilakukan layanan daring pencarian jodoh, Setipe.com (h/t Tempo.co), terus meningkat setiap tahun. Tak hanya di Indonesia, fenomena memilih hidup lajang juga terjadi di berbagai belahan dunia lainnya.

Dalam makalah berjudul "Global Increases in Individualism" tim psikolog dari University of Waterloo, Kanada, dan Arizona State University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa berdasarkan data 1960-2011, fenomena hidup melajang meningkat di 83 persen dari 78 negara yang mereka teliti.

Mengapa hidup melajang jadi populer? Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan jawabannya. Pada survei yang dilakukan tahun 2017, mereka menemukan bahwa indeks kebahagiaan kaum lajang, alias jomlo, mencapai angka 71,53, lebih tinggi dibandingkan mereka yang menikah (71,09). Seperti mengonfirmasi istilah "jojoba" tadi.

Beberapa penelitian lain, seperti yang dilakukan Dmitry Tumin dari Ohio State University, AS, juga menunjukkan bahwa hidup melajang bisa lebih bahagia ketimbang menikah.

Stereotipe jomlo sebagai orang yang suka menyendiri, tidak laku, kesepian, dan tak nyaman pada diri sendiri pun belakangan sudah semakin terkikis.

Oleh karena itulah, tim Lokadata Beritagar.id--yang juga diisi beberapa warga jomlo--merasa perlu untuk membedah data para lajang di Indonesia. Mengandalkan data BPS, kami membedah data mereka di Indonesia.

Data yang diolah adalah jumlah penduduk usia 17-54 tahun (rentang usia produktif) yang hidup tanpa pasangan. Data kemudian diklasifikasi menjadi 3 generasi (Z: usia 17-22 tahun; milenial: usia 23-38 tahun; dan X: usia 39-54 tahun, mengacu pada Pew Research) di tahun 2018.

Inilah yang kami temukan.

Bisa kita lihat bahwa pada rentang usia tersebut ada 43 juta penduduk Indonesia yang melajang (belum menikah atau telah bercerai) pada rentang usia tersebut. Lumayan banyak, nyaris sama dengan jumlah seluruh penduduk Argentina.

Data juga menunjukkan bahwa para lelaki harus lebih sigap mengambil hati perempuan. Pasalnya, jumlah lelaki jomlo lebih banyak dari perempuan yang melajang. Pertarungan dalam pasar perjodohan di Indonesia bakal berjalan ketat.

Perempuan jomlo terbanyak ada di generasi X (usia 39-54), sementara lelaki milenial yang jomlo terbanyak dari kelompok milenial.

Mari kita pusatkan perhatian kepada kelompok milenial, generasi yang paling populer saat ini dan berada pada usia ideal untuk melangsungkan pernikahan (23-38 tahun).

Jika melihat pengeluaran bulanan, berdasarkan data BPS ditemukan bahwa sebagian besar jomlo milenial lelaki, 51 persen, menghabiskan uang kurang dari Rp1 juta per bulan. Hanya 1,6 persen yang merogoh kantong lebih dari Rp5 juta per bulan.

Apakah lelaki milenial berpenghasilan rendah? Belum tentu, karena data itu tak menunjukkan tingkat penghasilan. Jadi, bisa saja lelaki milenial yang jomlo itu amat pelit.

Perempuan milenial sepertinya lebih royal. Ada 2,8 persen dari mereka yang mau mengeluarkan uang lebih dari Rp5 juta per bulannya.

Jumlah perempuan jomlo milenial yang berpendidikan setingkat sarjana (34 persen) pun jauh lebih banyak dibandingkan lelakinya (16 persen).

Nah, sekarang, di mana kita bisa mencari para jomlo milenial yang ideal? Ideal dalam arti berpendidikan tinggi dan tidak pelit-pelit amat.

Jakarta. Ya, Ibu Kota Indonesia, sebagai pusat perekonomian dan peredaran uang, merupakan tempat yang tepat untuk mencari jomlo milenial yang rela mengeluarkan uang lebih dari Rp5 juta per bulan, lumayan buat makan-makan.

Data menunjukkan kotamadya di DKI Jakarta, dipimpin Jakarta Selatan, mendominasi lima besar pada kedua kategori, baik lelaki maupun perempuan.

Jadi, kalau Anda adalah jomlo yang berniat mencari pasangan yang jomlo juga, berpendidikan tinggi, dan kemungkinan berdompet tebal, Jakarta Selatan bisa dijadikan titik utama pencarian.

Selamat mencoba.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR