KESELAMATAN BERKENDARA

Remaja tetap perlu didampingi menyetir meski sudah punya SIM

Ilustrasi mendampingi anak belajar nyetir
Ilustrasi mendampingi anak belajar nyetir | Monkey Business Images /Shutterstock

Orangtua harus lebih berhati-hati dalam memberikan izin menyetir mobil pada remaja mereka, sekalipun anak sudah memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Sebuah penelitian terbaru memperlihatkan bahwa pengemudi remaja delapan kali berisiko tabrakan atau hampir mengalami tabrakan selama tiga bulan pertama setelah mendapatkan SIM.

Mereka bisa berhati-hati ketika sedang belajar mengemudi. Akan tetapi, menurut penelitian terbaru tersebut, para remaja menjadi berbahaya begitu mendapatkan SIM dan mengemudikan kendaraan di jalanan tanpa orang dewasa yang mendampingi.

Reuters menuliskan bahwa para pengemudi remaja sudah lama diidentikkan dengan berbagai aksi-aksi yang berisiko di jalanan. Mereka empat kali lebih mungkin meningkatkan kecepatan kendaraan, pengereman mendadak, dan berbelok secara tajam.. Banyak penelitian sebelumnya menemukan, pengemudi remaja memiliki tingkat kecelakaan yang lebih tinggi daripada mereka yang sudah berpengalaman.

Bruce Simons-Morton, Ed.D., MPH, seorang peneliti senior dari Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), dalam media rilis yang dimuat National Institute of Health (NIH) mengatakan bahwa risiko kecelakaan pada pengemudi remaja naik drastis ketika mereka mendapatkan SIM dan mulai mengemudi sendiri.

“Temuan kami menunjukkan bahwa tingkat risiko kecelakaan para remaja pengemudi itu dapat menurun secara bertahap jika dalam beberapa bulan pertama mereka didampingi oleh orangtua atau orang dewasa saat mengemudi,” jelas Simons-Morton, yang juga merupakan salah satu penulis penelitian tersebut.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Health pada Selasa, 10 Juli 2018 ini merupakan penelitian pertama yang mengikuti individu yang sama dari waktu ke waktu.

Peneliti mempelajari partisipan remaja sejak awal periode belajar mengemudi sampai tahun pertama sebagai pengemudi mandiri. Mereka terus mengumpulkan informasi dengan menggunakan perangkat lunak dan kamera yang dipasang di kendaraan para partisipan.

Selain itu, penelitian ini juga melakukan penilaian terhadap cara orang tua mengemudi menggunakan kendaraan yang sama pada waktu yang sama dan di bawah kondisi serupa dengan anak-anak mereka.

Sementara itu, para peneliti juga sepakat bahwa keadaan ‘hampir tabrakan’ adalah suatu keadaan saat mereka membutuhkan manuver terakhir untuk menghindari kecelakaan. Keadaan ‘tabrakan’ didefinisikan sebagai kontak fisik antara kendaraan pengemudi dengan obyek lain.

Dilansir dari Claims Journal, penelitian ini melibatkan 90 orang remaja, terdiri dari 49 anak perempuan dan 41 anak laki-laki yang berusia rata-rata 16 tahun, serta 131 orang tua di Virginia, Amerika Serikat, menggunakan sistem pengumpulan data yang dikembangkan oleh Virginia Tech Transportation Institute, Blacksburg.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa tingkat kecelakaan, tabrakan, atau tingkat hampir tabrakan pada remaja tidak menurun selama tahun pertama mengemudi mandiri. Namun, tingkat mengemudi yang berisiko cukup menurun. Para peneliti berpendapat jika para remaja belajar dari pengalaman mereka, maka ada harapan bahwa risiko mengemudi akan terus menurun seiring dengan waktu.

Temuan para ahli juga menunjukkan bahwa para remaja itu cenderung bersikap hati-hati jika mengemudi dalam kondisi yang tidak terlalu bagus, misalnya, jalan basah atau pada malam hari. Para ahli juga menemukan bahwa remaja laki-laki dan remaja perempuan sama-sama bersikap hati-hati ketika belajar mengemudi. Namun, ketika pada akhirnya mereka dapat mengemudikan kendaraan sendiri, remaja laki-laki memiliki tingkat mengemudi yang berisiko tinggi daripada remaja perempuan.

Menurut Pnina Gershon, penulis utama penelitian tersebut, kehadiran orangtua atau orang dewasa selama periode belajar mengemudi itulah yang membuat perbedaan.

Gershon, yang juga peneliti dari Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development, National Health Institute di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat, menambahkan bahwa selama proses belajar para orangtua dapat membantu pengemudi remaja tersebut untuk tetap fokus di jalan, memberikan tips mengemudi yang aman dan membantu pengemudi baru ini untuk menghindari situasi berbahaya.

“Bahkan selama mereka mengemudikan kendaraan secara mandiri dan orang tua tidak dalam peran mengajar atau menjadi penumpang mereka, para remaja itu mengemudi dengan cara yang aman, daripada ketika mereka mengemudi sendiri,” ungkap Gershon.

“Namun, begitu mereka mengemudi sendiri, tanpa didampingi orangtua atau orang dewasa lainnya, kami menemukan bahwa perilaku mengemudi yang penuh risiko, tabrakan atau hampir tabrakan pada remaja itu meningkat drastis," imbuhnya.

Meski demikian, hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya orangtua memberikan contoh perilaku yang mereka inginkan terhadap para remaja ketika berada di belakang kemudi. Jika orang tua mengemudi secara sembarangan, ngebut, sambil menggunakan telepon ketika mengemudi, tidak mengenakan sabuk keamanan, maka para remaja itu akan mengikutinya.

Hal ini disampaikan oleh Despina Stavrinos, peneliti pencegahan cedera dari University of Alabama di Birmingham, yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Anak-anak melihat dan belajar, serta mengembangkan ide mereka sendiri tentang perilaku mengemudi yang dapat diterima,” jelas Stavrinos.

“Mereka mungkin berpikir jika ibu atau ayah melakukannya, maka itu pasti aman bagi saya untuk melakukannya," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR