HIDUP SEHAT

RFM lebih akurat ukur lemak tubuh daripada BMI

Mengukur berat badan.
Mengukur berat badan. | Rostislav_Sedlacek /Shutterstock

Apakah seseorang kelebihan berat badan atau sebaliknya? Umumnya, indeks massa tubuh digunakan untuk mengukurnya. Kini ada alternatif baru yang lebih akurat, mudah dan sederhana untuk mengukur lemak tubuh bernama RFM. Apa itu?

Tenaga kesehatan profesional biasanya menggunakan indeks masa tubuh atau BMI (body mass index) untuk menilai apakah seseorang kelebihan berat, obesitas, normal, atau terlalu kurus.

Namun, perhitungan BMI hanya didasarkan pada dua faktor, yaitu tinggi dan berat badan. Proporsi tulang, otot, maupun lemak seseorang tidak ikut diperhitungkan, hasilnya pun sering meleset.

Oleh karenanya, tim ilmuwan dari Cedars-Sinai Medical Center di California berinisiatif mengadakan penelitian untuk menemukan metode pengukuran yang lebih baik.

Hasilnya, menukil Science Alert, dinamakan peneliti sebagai indeks massa relatif atau RFM (relative fat mass index).

"Kami ingin mengidentifikasi metode yang lebih andal, sederhana, dan murah untuk menilai persentase lemak tubuh tanpa menggunakan peralatan canggih," kata pemimpin penelitian, Orison Woolcott.

Ia dan tim mengklaim RFM jauh lebih mudah dioperasikan ketimbang BMI, karena hanya butuh alat pengukur macam meteran untuk menghitung lingkar pinggang dan tinggi badan.

Kendati sederhana, RFM ternyata memperlihatkan hasil lebih akurat dalam menentukan lemak tubuh seseorang berada pada tingkat sehat atau tidak.

"Hasil penelitian kami mengonfirmasi nilai formula baru dalam sejumlah besar subjek. Massa lemak relatif adalah pengukuran yang lebih baik bagi kegemukan tubuh dibanding banyak indeks yang saat ini digunakan dalam kedokteran dan sains, termasuk BMI," jelas Woolcot.

BMI merepotkan dan tidak akurat

Menghitung BMI terbilang merepotkan. Setelah membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter, jawabannya perlu dibagi lagi dengan tinggi badan.

Lalu, Anda perlu menggunakan skala penghitungan untuk membandingkan hasil. BMI normal antara 18,5-25.

Terlebih lagi, sejak mendunia dan dijadikan standar pengukuran pada akhir 1900-an, kalangan ahli terus berdebat soal keakuratan BMI. Sebagian besar tidak sependapat.

Misal, studi UCLA (University of California, Los Angeles) pada 2016 mengungkap puluhan juta orang yang memiliki skor BMI kelebihan berat badan dan obesitas ternyata benar-benar sehat.

Bahkan peneliti menemukan 30 persen orang dengan BMI sehat sebenarnya tidak sehat sama sekali setelah memperhitungkan data kesehatan responden.

Menurut ahli dari Harvard, hasil BMI juga sering salah pada anak-anak dan orang tua, terutama atlet—yang lebih berat karena otot, serta tidak memperhitungkan perbedaan gender.

Alasan utama ketidakakuratan BMI, karena tidak bisa membedakan antara lemak dan otot. Otot lebih padat empat kali lipat dari jaringan lemak.

Salah prediksi seperti itu tentu berbahaya dalam mencegah obesitas maupun memprediksi lemak perut.

Menurut WHO, tingkat obesitas di seluruh dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980. Padahal, orang-orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas diketahui memiliki risiko kematian lebih tinggi daripada kekurangan berat badan.

Di samping itu, meskipun lemak subkutan di bawah kulit seperti paha, pantat, dan lengan diketahui tidak berbahaya. Tetapi lemak perut--lemak visceral yang menumpuk lebih dalam di sekitar organ perut, aktif secara metabolik, dan sangat terkait dengan sejumlah risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, kanker dan demensia.

Bahayanya lagi, Anda dengan berat badan normal tetap bisa menimbun lemak perut. Sebab itulah, pengukuran lemak tubuh yang akurat sangat penting.

Keunggulan RFM

Live Science dan Healthline menulis, ada beberapa metode pengukuran lemak tubuh selain BMI yang sebetulnya terkenal cukup akurat, tapi mahal. Misalnya CT scan dan MRI.

Ada pula yang sangat akurat, yaitu scan DEXA/DXA (Dual-Energi X-ray Absorptiometry). Pemindaian ini biasanya digunakan untuk mengukur kepadatan tulang, tapi juga efektif dipakai mengukur jaringan tubuh, otot dan lemak.

Sayang, harganya sangat mahal, tak bisa dipakai sesering mungkin, dan tidak tersedia untuk umum. Akan tetapi, RFM tampaknya bisa jadi solusi.

Untuk penghitungan, Anda hanya perlu mengukur tinggi badan dan lingkar pinggang, lalu masukkan angkanya dalam rumus berikut:

  • Laki-laki: 64 - (20 x tinggi/lingkar pinggang) = RFM
  • Perempuan: 76 - (20 x tinggi/lingkar pinggang) = RFM

Melansir Science Daily, berdasarkan data dari 3.456 pasien dewasa di Amerika Serikat, hasil pengukuran RFM pasien ternyata paling dekat dengan yang diambil melalui pemindaian DXA.

Dengan kata lain, RFM yang sederhana hampir sama akuratnya dengan pemindaian DXA yang canggih untuk mengukur lemak tubuh.

Selain itu, perhitungan RFM ditemukan jauh lebih akurat dibanding lebih dari 300 formula lain yang diuji tim peneliti.

Saat ini, peneliti mengatakan bahwa RFM telah divalidasi dalam basis data besar. Mereka berharap perhitungan baru ini bisa mempermudah masyarakat dan praktisi melacak kadar lemak tubuh.

Kendati demikian, "Kami masih perlu menguji RFM dalam studi longitudinal dengan populasi besar untuk mengidentifikasi kisaran persentase lemak tubuh yang dianggap normal atau abnormal dalam kaitannya dengan masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas serius," pungkas Woolcott.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR