KARIER

Riset: bekerja terlalu keras itu tak baik

Ilustrasi kerja lembur.
Ilustrasi kerja lembur. | Dragon Images /Shutterstock

Terlalu sering lembur dan bekerja kelewat keras tidak baik untuk kesehatan, pun karier Anda.

Dalam budaya kita, kerja keras punya nilai besar. Sehingga banyak orang bekerja sedemikian kerasnya.

Hal ini tercermin lewat jam kerja yang kadang melebihi batas wajar, delapan jam sehari, lima hari sepekan. Atau 40 jam sepekan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, selama Februari 2018, lebih dari 30 juta penduduk Indonesia bekerja 35 hingga 44 jam dalam sepekan. Sementara hampir 28 juta orang lain bekerja antara 45 hingga 54 jam sepekan.

Lain halnya dengan praktik yang berlaku di Basecamp, perusahaan aplikasi yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat. Jika di hari biasa mereka bekerja lima hari sepekan, setiap tahun antara bulan Mei hingga September, 54 karyawan Basecamp hanya bekerja empat hari seminggu, totalnya 32 jam.

"Itu waktu yang cukup banyak untuk bisa menyelesaikan banyak hal dengan baik. Hanya ini yang kami harapkan dan kami inginkan dari karyawan," ujar salah satu pendiri Basecamp, Jason Fried dinukil CNBC.

"Bekerja 50,60, 70 jam atau lebih sebenarnya tidak perlu. Malah, jika Anda sampai harus bekerja selama itu artinya ada masalah manajemen," sambung Fried.

Apa yang disampaikan Fried kurang lebih senada dengan penelitian terbaru oleh para ilmuwan di University of London. Bekerja keras secara teratur justru dapat berakibat serius bagi kesejahteraan. Bukan hanya itu, kinerja profesional Anda pun bisa terdampak.

Artinya, kadang kala membatasi diri dalam hal bekerja mungkin bisa lebih baik.

Dalam studi ini, duo peneliti Argyro Avgoustaki dan Hans Frankfort mengamati dua jenis upaya kerja berbeda, yakni kerja lembur dan intensitas kerja atau seberapa besar tenaga fisik dan atau mental yang kita curahkan dalam bekerja.

Untuk melakukan penelitian, mereka menganalisis data lebih dari 50 ribu karyawan yang bekerja di berbagai industri yang ada di 36 negara Eropa, termasuk Inggris. Mereka menemukan, baik lembur maupun intensitas kerja berhubungan dengan stres, kelelahan dan kepuasan kerja yang menurun.

Kedua bentuk upaya kerja tersebut juga terkait dengan berkurangnya tingkat prospek karier yang dirasakan, keamanan dan pengakuan pekerjaan. Ini menunjukkan bahwa karyawan merasa kerja keras dan jam kerja tambahan mereka tidak diperhatikan.

"Salah satu masalah dalam meningkatkan intensitas kerja adalah kualitas dan pekerjaan yang jadi korban. Kami pikir ini adalah salah satu asosiasi negatif mengapa para pekerja mengatakan bos mereka tidak terkesan," kata Dr. Avgoustaki kepada Daily Mail Online.

Menariknya, studi ini mencatat orang yang bekerja kantoran cenderung lebih yakin bahwa kerja lembur adalah tanda betapa berharganya mereka sebagai karyawan. Lain halnya dengan pekerja kerah biru.

Selain itu, orang-orang dengan profesi berketerampilan tinggi sering merasa bahwa mereka bekerja lembur atas dasar pilihan sendiri. Mereka mengatakan kerja di kantor sampai malam atas kemauan sendiri, alih-alih karena perintah atasan.

Namun, Dr. Avgoustaki dan Frankfort menyimpulkan, meluangkan banyak waktu untuk lembur sebenarnya bisa mengurangi kualitas pekerjaan Anda. Pada akhirnya ini dapat mengganggu kinerja dan karier dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, Anda mungkin benar-benar bisa bekerja lebih baik dan membuat atasan terkesan jika Anda bekerja dalam porsi sewajarnya. Tentu saja, ini bukan berarti Anda harus mengendurkan semangat kerja.

Lembur juga tak ada salahnya jika memang benar-benar dibutuhkan. Misal, ketika Anda harus menyelesaikan laporan penting, atau ada masalah terkait pekerjaan yang harus segera ditangani.

Tetapi jika Anda rutin bekerja keras saat sebenarnya tidak perlu, cobalah mempertimbangkan ulang kebiasaan itu. Tetap berusaha, berinisiatif, tapi tidak berlebihan.

Caranya, bekerja sesuai jam, dan ingat bahwa tidak semua dalam daftar kerja harus selesai hari ini juga.

Bagaimana jika Anda tak punya pilihan? "Memang lebih baik menghindari intensitas kerja tinggi dan kerja lembur, tapi jika Anda harus memilih, pilihlah kerja lembur," saran Dr. Avoustaki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR