Risiko kesehatan jika sering konsumsi jeroan

Makan jeroan terlalu sering berisiko cukup tinggi.
Makan jeroan terlalu sering berisiko cukup tinggi. | Andrey Starostin /Shutterstock

Pemerintah masih berupaya menekan harga daging sapi. Kini cara lain akan ditempuh dengan membuka impor jeroan sapi.

Jika ini benar terjadi, dikhawatirkan konsumsi jeroan meningkat. Padahal jika dikonsumsi berlebihan, jeroan dapat berpengaruh buruk.

Jeroan adalah organ dalam kecuali otot dan tulang. Jeroan antara lain meliputi hati, otak, paru, usus, lidah, dan limpa.

Ada yang menganggap jeroan tak layak makan, ada pula yang mengolahnya untuk menu sehari-hari. Bahkan di beberapa negara, jeroan dianggap sebagai makanan mewah.

Meski jeroan sebenarnya punya manfaat bagi tubuh, mengonsumsinya berlebihan berisiko tinggi terhadap kesehatan.

Kolesterol tinggi

"Dibandingkan dengan negara di luar, jeroan itu banyak dilarang sekali untuk dikonsumsi, makanya dipisahkan. Kalau di Indonesia malah dikonsumsi, nggak dipikirkan kolesterol jeroan yang tinggi," ujar dokter ahli gizi, dr Marzuki, dikutip detikfinance.

Kolesterol bisa mengendap pada dinding arteri. Aliran darah di jantung, otak, dan bagian tubuh lain bisa terhambat. Kondisi ini dapat memicu penyakit jantung koroner dan stroke.

Asam urat

Penyakit ini disebabkan oleh metabolisme tubuh yang kurang baik. Akibatnya Purin, yang merupakan hasil metabolisme tubuh tak bisa terbuang maksimal dan mengendap di persendian.

Tubuh manusia sudah punya 85 persen senyawa purin. Dengan demikian hanya butuh 15 persen purin dari makanan.

Sementara jeroan memiliki kandungan purin tinggi. Karena itu, orang dengan kadar asam urat tinggi sebaiknya memperhatikan metabolismenya.

"Yang paling kami takutkan, asam urat itu mengendap di ginjal. Kalau cuma di sendi menjadi rematik, orang cuma enggak bisa jalan. Tapi, jika mengendap di ginjal, bisa bikin gagal ginjal, cuci darah, akibatnya bisa meninggal," kata Ketua Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Doktor Bambang Setiyohadi dilansir Tempo.

Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sangat berbahaya. Gejalanya minim, namun berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi mematikan.

Orang dapat dikatakan menerita darah tinggi jika tekanan darahnya 140/90 mmHg. Bisa juga jika lebih tinggi dari suhu yang diukur pada kedua lengan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu beberapa pekan.

dr. Alvin Nursalim dikutip klikdokter.com memberi analogi tentang darah tinggi. Jika Anda terbiasa mengonsumsi daging, jeroan dan santan setiap hari, bayangkan Anda sebagai gentong yang berisi campuran minyak lengket.

Minyak itu akan berakumulasi, menggumpal, akhirnya menyumbat selang pembuluh darah. Akibatnya Anda berisiko rakit jantung dan stroke.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR