Risiko melahirkan lebih dari lima kali

Ilustrasi perempuan hamil
Ilustrasi perempuan hamil | Syda Productions /Shutterstock

Satu riset terbaru mengungkapkan, perempuan yang memiliki lebih dari lima anak rentan menderita Alzheimer.

Alzheimer adalah kondisi kelainan yang terkait dengan penurunan daya ingat, degradasi kemampuan berpikir dan berbicara. Umumnya, penderitanya bisa mengalami perubahan perilaku akibat adanya gangguan dalam otak yang bersifat progresif atau perlahan-lahan.

Ki Woong Kim dari departemen kesehatan otak dan sains kognitif di Seoul National University College of Natural Science, Korea Selatan, mengatakan, tim penelitinya setelah melakukan riset percaya bahwa terjadi penurunan ingatan dan cara berpikir pada perempuan yang telah melahirkan lebih dari lima anak.

Mereka juga menemukan tindakan preventif untuk mencegah kondisi tersebut berupa perawatan hormon.

“Ada kemungkinan tingkat estrogen sedikit meningkat pada trimester pertama kehamilan berada dalam kisaran optimal sehingga mampu melindungi keterampilan berpikir,” ujar Kim.

Dia menambahkan bahwa tingkat estrogen meningkat dua kali lipat pada minggu ke delapan kehamilan. Lalu, terus mengalami peningkatan 40 kali dari angka normal.

Penelitiannya ini dilakukan pada populasi wanita di Yunani dan Korea dengan rata-rata usia 71 tahun.

Sebanyak 716 partisipan diberikan tes memori dan tes kemampuan berpikir. Lalu, mereka juga diminta untuk melaporkan riwayat kehamilan mereka.

Kemudian, peneliti menemukan bahwa 59 orang perempuan yang melahirkan lebih dari lima kali, 70 persen lebih tinggi mengalami Alzheimer dan demensia. Selain itu, hasil tes mereka 22 poin lebih rendah dibandingkan perempuan yang tidak melahirkan lebih dari lima anak.

Peneliti juga menunjukkan hasil studi terhadap 2.375 partisipan yang pernah mengalami keguguran dan aborsi sehingga memiliki anak lebih sedikit dari lima. Hanya 47 persen yang memperlihatkan gejala demensia dan Alzheimer dan skor mereka 23 poin lebih tinggi.

“Jika hasil ini terkonfirmasi pada populasi lain, mungkin temuan ini dapat mengarah pada pengembangan strategi pencegahan berbasis perawatan hormon untuk penyakit Alzheimer, berdasarkan perubahan hormonal yang terjadi pada perempuan di trimester pertama kehamilan,” urainya.

Dua dari tiga pasien yang menderita demensia, kata Kim, adalah perempuan. Namun, peneliti hingga sekarang belum menemukan penyebabnya.

“Kami tahu bahwa kebanyakan perempuan lebih berisiko mengalami demensia daripada laki-laki, tetapi kami tidak tahu mengapa kondisi ini terjadi. Padahal, penyakit ini merupakan satu dari 10 penyakit yang mematikan yang belum ada penyembuhannya. Riset seperti ini sangat vital untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai penyebabnya dan bagaimana menurunkan risiko,” jelas Dr Doug Brown, Chief Policy and Research Officer dari Alzheimer Society.

Brown melanjutkan bahwa hasil riset ini tidak perlu membuat perempuan yang telah melahirkan lebih dari lima kali khawatir berlebihan. Sebab, para peneliti baru di tahap menemukan hubungan perubahan hormon dan risiko demensia sehingga masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab.

“Kehamilan merupakan proses biologis yang kompleks karena terjadi perubahan jumlah hormon dalam tubuh perempuan, termasuk hormon seks, estrogen,” terang Dr Carol Routledge, Director of Research di Alzheimer Research UK.

Dia menambahkan bahwa hasil riset tersebut di atas memberikan pencerahan atas hubungan estrogen dan hormon lainnya yang membuat seseorang rentan Alzheimer.

“Kami hingga sekarang belum mengerti mengenai sebab akibat yang jelas antara jumlah kelahiran dan risiko Alzheimer,” pungkasnya.

Hasil studi yang dilakukan oleh Ki Woong Kim telah dipublikasikan oleh American Academy of Neurology dan jurnal daring, Neurology.

BACA JUGA