KESEHATAN PEREMPUAN

Risiko obesitas pada ibu hamil

Ibu hamil
Ibu hamil | Natalia Deriabina /Shutterstock

Saat hamil, berat badan otomatis naik seiring dengan perkembangan janin dalam kandungan. Hal ini normal selama kenaikan berat badan bisa dikontrol. Bila tidak, ibu hamil bisa mengalami obesitas dan ini bisa berdampak pada kesehatan dirinya dan bayi.

Ibu hamil obesitas berisiko mengalami beberapa masalah seperti risiko keguguran, kelahiran mati, dan keguguran berulang. Selain itu juga tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, gangguan tidur, infeksi pada kantung amnion (korioamnionitis), dan cacat lahir tertentu seperti cacat tabung saraf.

Risiko lain ialah induksi persalinan, persalinan tahap pertama yang berkepanjangan dan menjadi lebih sulit, bedah caesar, pendarahan, dan disfungsi jantung.

Pada bayi, obesitas selama kehamilan bisa menyebabkan lahir lebih besar, cacat lahir, dan memiliki lebih banyak lemak tubuh. Pada akhirnya ini meningkatkan risiko sindrom metabolik dan obesitas.

Saat melahirkan, ibu hamil obesitas mungkin menjalani tahapan yang lebih lama, khususnya ketika bagian serviks melebar. Dokter akan memberikan waktu tambahan dalam fase persalinan ini dan tidak melakukan intervensi selama ibu dan bayi baik-baik saja.

Tahap kedua yaitu mengejan juga dianggap lebih lama untuk ibu hamil obesitas. Untuk membantu ibu hamil dengan berat badan berlebih, dokter akan menyarankan anestesi epidural, yaitu anestesi lokal yang disuntikkan di rongga antara duramater dan sumsum tulang belakang.

Lantas, berapakah berat badan ideal bagi ibu hamil?

Pada dasarnya, tidak ada aturan pasti mengenai berat badan ibu hamil. Namun, untuk mengecek kondisi pribadi, bisa berkonsultasi dengan dokter untuk melihat apakah berat badan Anda termasuk sehat.

Bagi ibu hamil dengan berat badan normal, peningkatan berat badan bisa sampai 11 hingga 15kg. Namun, bila sudah kelebihan berat badan sejak sebelum hamil, harus mengontrol peningkatan berat badan enam hingga 11kg saja.

Secara umum, ibu hamil akan mendapatkan tambahan berat sekitar satu sampai dua kg selama tiga bulan pertama, kemudian bertambah 0,5kg seminggu selama sisa kehamilan.

Sebanyak sepertiga kenaikan berat badan selama kehamilan diperuntukkan bagi janin, plasenta, dan cairan ketuban.

Dua pertiganya untuk otot uterus (rahim) yang terus melakukan pembesaran, jaringan payudara, peningkatan volume darah, dan penyimpanan lemak ibu hamil sebagai persiapan untuk menyusui.

Mengontrol berat badan saat hamil

Bila berat badan berlebih selama kehamilan, bicarakan dengan dokter apa yang harus dilakukan. Bisa jadi, Anda disarankan untuk menurunkan berat badan atau mungkin tidak perlu.

Agar berat badan selama hamil tidak bertambah dengan cepat, Anda mungkin hanya perlu mengontrol pola makan.

Saat ke restoran cepat saji, pilih makanan rendah lemak seperti roti isi dada ayam dengan tomat dan selada, tanpa saus dan mayones. Hindari makanan seperti kentang goreng atau stik mozzarella.

Pastikan untuk membatasi minuman manis, seperti es teh manis, minuman kemasan, atau minuman aneka rasa lain. Pilih air setiap merasa haus.

Anda pun perlu membatasi makanan manis dan camilan berkalori tinggi, seperti kue kering, permen, donat, sirup, madu, dan keripik kentang. Bila ingin mengudap, pilih buah segar atau yoghurt rendah lemak.

Saat memasak, jangan tambahkan garam dan gunakan lemak dalam jumlah sedang. Lemak bisa ditemukan dalam minyak goreng, margarin, mentega, saus, mayones, dan krim keju.

Kemudian, belajarlah mengolah makanan dengan cara lebih sehat. Menggoreng makanan dalam minyak atau mentega akan menambah kalori dan lemak. Alternatifnya, Anda bisa memanggang dan merebus makanan agar lebih sehat.

Setelah terbiasa dengan pola makan tersebut, jangan lupakan olahraga untuk membantu membakar kelebihan kalori. Pilih berjalan, berenang, atau yoga yang lebih ramah ibu hamil.

Meski Anda merasa obesitas selama hamil, jangan langsung menurunkan berat badan tanpa anjuran dokter. Sebab, bisa jadi diet Anda malah mengurangi kalori yang dibutuhkan bayi dan memberikan dampak yang lebih buruk.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR