KEHAMILAN

Risiko serangan jantung meningkat untuk ibu hamil

Ilustrasi ibu hamil.
Ilustrasi ibu hamil. | Nutlegal Photographer /Shutterstock

Bagi para ibu hamil serangan jantung saat hamil, pun setelah melahirkan adalah kemungkinan yang menakutkan. Apalagi, laporan baru menunjukkan hal ini jadi lebih umum terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam banyak kasus, kehamilan memberi banyak tekanan tambahan pada tubuh perempuan. Tidak hanya sakit dan nyeri yang biasanya berhubungan dengan pertumbuhan janin dalam rahim, faktor-faktor tertentu selama kehamilan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan lain.

Menurut para peneliti dari New York University School of Medicine, seiring dengan fakta bahwa perempuan kini memiliki anak pada usia yang lebih tua, meningkatnya tingkat obesitas dan diabetes dapat menjelaskan semakin tingginya angka serangan jantung di kalangan ibu hamil.

Para peneliti studi yang diterbitkan di jurnal Mayo Clinic Proceedings menemukan, risiko serangan jantung di kalangan ibu hamil meningkat 25 persen antara tahun 2002 dan 2014. Dengan angka meningkat dari 7 hingga 9,5 untuk setiap 100.000 kehamilan di Amerika Serikat.

"Analisis kami, yang adalah pengamatan terbesar dalam satu dekade, berfungsi sebagai pengingat penting tentang bagaimana kehamilan dalam kondisi stres berefek pada tubuh dan jantung perempuan, menyebabkan banyak perubahan fisiologis, dan berpotensi menguak faktor risiko yang dapat menyebabkan serangan jantung," kata peneliti senior Dr. Sripal Bangalore dikutip Newsweek. Dr. Bangalore juga merupakan ahli jantung intervensional dan profesor di NYU Langone Health.

Analisis terhadap 49,8 juta kelahiran di rumah sakit Amerika Serikat selama periode penelitian menemukan bahwa 1.061 serangan jantung terjadi selama persalinan dan melahirkan, 922 terjadi sebelum kelahiran, dan 2.390 terjadi dalam dua bulan setelah melahirkan.

Selain itu, tingkat kematian akibat serangan jantung di kalangan ibu hamil tetap relatif tinggi (4,5 persen), meskipun ada perkembangan pengobatan untuk serangan jantung selama masa studi.

Risiko serangan jantung selama kehamilan meningkat seiring bertambahnya usia. Ibu hamil berusia 35 hingga 39 tahun lima kali lebih mungkin menderita serangan jantung daripada perempuan di usia 20-an. Temuan juga menunjukkan, perempuan di usia awal 40-an memiliki risiko 10 kali lebih tinggi daripada perempuan di usia 20-an.

Para peneliti mengatakan, alasan lain peningkatan ini adalah mudahnya mendeteksi serangan jantung daripada satu dekade lalu.

Penulis utama studi, Dr. Nathaniel Smilowitz mengatakan, “Temuan ini menyoroti pentingnya perempuan yang mempertimbangkan kehamilan untuk mengetahui faktor-faktor risiko mereka untuk penyakit jantung sebelumnya.” Smilowitz adalah seorang ahli jantung intervensional dan asisten profesor di NYU Langone.

"Pasien-pasien ini harus menyusun rencana dengan dokter mereka untuk memantau dan mengendalikan faktor risiko selama kehamilan sehingga mereka dapat meminimalkan risiko mereka," kata Dr. Smilowitz.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Antara lain, peneliti memasukkan peningkatan deteksi masalah jantung dalam beberapa tahun terakhir, dan tidak memperhitungkan faktor-faktor risiko lain seperti penyakit jantung bawaan atau penyakit genetik lain yang dapat memicu gangguan jantung.

Pelajaran yang dapat diambil adalah, bahkan jika Anda tidak memiliki riwayat masalah jantung, ada hal-hal yang meningkatkan risiko serangan jantung selama kehamilan. Itu mengapa ibu hamil harus senantiasa menjaga kesehatan dan rutin berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Mendiagnosis masalah kesehatan potensial sangat penting, begitu halnya dengan mengetahui faktor-faktor yang mungkin meningkatkan risiko Anda mengalami serangan jantung selama kehamilan. Termasuk yang berikut ini.

Preeklamsia

Risiko mengalami serangan jantung selama atau setelah kehamilan meningkat ketika ada riwayat preeklamsia. Sebab penyakit ini meningkatkan tekanan darah seseorang, yang menambah tingkat stres pada jantung.

Diabetes gestasional

Meskipun diabetes gestasional umumnya menghilang setelah bayi lahir, ada peningkatan risiko ibu akan mengalaminya di kemudian hari. Jadi bahkan jika Anda didiagnosis menderita diabetes gestasional selama kehamilan dan diagnosis tersebut hilang pascapersalinan, sebaiknya Anda masih rutin memeriksakan kesehatan.

Penyempitan arteri

Meskipun ada banyak faktor yang dapat menyebabkan serangan jantung kemungkinan mengalami serangan jantung meningkat saat tubuh bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh yang lebih sempit. Pembatasan aliran darah dapat menyebabkan nyeri dada, seperti angina, atau serangan jantung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR