KEHAMILAN

Rutin olahraga, kunci hamil sehat

Ilustrasi ibu hamil olahraga.
Ilustrasi ibu hamil olahraga. | VGstockstudio /Shutterstock

Rutin berolahraga bahkan sejak sebelum hamil akan mewujudkan kehamilan yang lebih sehat. Dengan demikian, risiko diabetes gestasional pun menurun. Begitulah temuan sebuah studi yang dipimpin University of Iowa.

Menurut Mayo Clinic, diabetes gestasional berkembang selama kehamilan. Seperti jenis diabetes lain, diabetes gestasional memengaruhi bagaimana sel memanfaatkan gula atau glukosa. Karena itu menyebabkan gula darah tinggi, hingga dapat memengaruhi kehamilan dan kesehatan janin.

Kondisi ini dapat berkembang selama trimester akhir kehamilan. Tetapi para peneliti telah menemukan, perempuan hamil yang tetap aktif sebenarnya memiliki risiko diabetes gestasional 21 persen lebih rendah daripada mereka yang menjalani gaya hidup tidak aktif.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Medicine and Science in Sports and Exercise mengamati data dari 1.333 perempuan dalam periode 25 tahun--1985 hingga 2011. Mereka terdaftar dalam penelitian National Heart, Lung, and Blood Institute yang disebut Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA).

Setelah pertama kali mendaftar, mereka melalui tujuh kunjungan studi. Para perempuan ini melaporkan kondisi, apakah mereka telah hamil atau melahirkan dan apakah mereka menderita diabetes gestasional.

Mereka juga diberi ujian kebugaran selama kunjungan studi pertama, untuk menguji apakah mereka bisa berjalan selama dua menit di treadmill dengan kecepatan yang meningkat dan pada tanjakan curam.

Studi ini menemukan, 164 perempuan menderita diabetes gestasional. Sehingga para peneliti menyimpulkan bahwa perempuan hamil dengan tingkat kebugaran tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes gestasional daripada mereka dengan tingkat kebugaran yang lebih rendah.

Perempuan yang menderita diabetes gestasional juga punya kecenderungan menderita diabetes tipe 2 setelah melahirkan. Dengan kata lain penelitian menunjukkan bahwa berolahraga membantu memerangi kedua jenis diabetes tersebut.

Meski tidak tahu apa yang menyebabkan diabetes gestasional, tetapi para ilmuwan memiliki beberapa petunjuk. Seperti yang telah diungkap American Diabetes Association.

Hormon dari plasenta membantu bayi berkembang. Tetapi mereka juga dapat mempersulit tubuh ibu untuk menggunakan insulin. Ini menciptakan kondisi resistensi insulin, yang dapat menyebabkan diabetes gestasional.

Tanpa insulin yang cukup, glukosa tidak dapat meninggalkan darah dan diubah menjadi energi. Alhasil gula menumpuk secara berlebihan di dalam darah.

Menurut analisis tahun 2014 oleh Centers for Disease Control and Prevention, prevalensi diabetes gestasional di Amerika Serikat setinggi 9,2 persen.

Terlepas dari kenyataan bahwa ini adalah kondisi yang tidak biasa, implikasinya cukup serius. Jika diabetes gestasional tidak diobati atau tidak terkontrol, ini dapat melukai bayi dalam kandungan.

Pasalnya, pankreas bekerja keras untuk memproduksi insulin, tetapi insulin tidak menurunkan kadar glukosa darah. Dan lagi, meskipun insulin tidak melewati plasenta, tapi glukosa dan nutrisi lainnya melewati plasenta.

Oleh karena itu, glukosa darah ekstra yang melewati plasenta, memberikan bayi kadar glukosa darah yang tinggi. Ini dapat menyebabkan pankreas bayi memproduksi insulin ekstra untuk menyingkirkan glukosa darah.

Energi ekstra kemudian disimpan sebagai lemak, yang dapat menyebabkan makrosomia. Kondisi ketika bayi baru lahir lebih besar secara signifikan daripada rata-rata bayi--dengan berat lahir lebih dari 3,9 kilogram.

Belum lagi, insulin ekstra membuat bayi yang baru lahir mungkin memiliki kadar glukosa darah yang sangat rendah saat lahir sehingga memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah pernapasan.

Tumbuh dewasa, bayi-bayi ini dapat tumbuh menjadi anak-anak yang punya risiko lebih tinggi untuk mengalami obesitas. Kalaupun tidak, saat dewasa mereka lebih berisiko menderita diabetes tipe 2.

"Perempuan sangat berhati-hati dengan apa yang mereka makan, juga olahraga yang mereka lakukan selama kehamilan," terang salah satu penulis riset Kara Whitaker, Asisten Profesor dari University of Iowa. "Tapi studi ini menunjukkan perempuan harus lebih fokus mempraktikkan hidup sehat sejak sebelum hamil."

Whitaker menambahkan, perempuan yang tertarik untuk jadi lebih bugar dapat mewujudkannya dengan meluangkan setidaknya 150 menit aktivitas fisik tingkat sedang hingga kuat per minggu. Durasi ini bisa juga diterjemahkan 30 menit per hari, selama lima hari dalam seminggu.

Jalan cepat masuk kategori aktivitas fisik sedang, sementara joging dianggap aktivitas fisik kuat.

"Jika perempuan yang sedang mempertimbangkan kehamilan tidak memenuhi panduan aktivitas fisik--sebagaimana digariskan oleh American College of Sports Medicine, maka dokter dapat menuliskan resep, misal program untuk berjalan," kata Whitaker, dinukil Science Daily.

Terlepas dari apapun jenis olahraganya, jika Anda sedang berencana untuk hamil, berolahraga tidak pernah ada salahnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR