KESEHATAN LAKI-LAKI

Semakin banyak laki-laki meninggal karena kanker kulit

Ilustrasi kanker kulit.
Ilustrasi kanker kulit. | Wavebreakmedia /Shutterstock

Angka kematian perempuan akibat kanker kulit cenderung menurun atau stabil di banyak negara. Namun, data menunjukkan sebaliknya bagi laki-laki.

Penelitian mengungkap, dalam tiga dekade terakhir tingkat kematian laki-laki akibat melanoma justru melonjak di negara-negara kaya di seluruh dunia. Melanoma adalah jenis kanker kulit yang paling mematikan.

Di Amerika Serikat, melanoma diperkirakan merenggut lebih dari sembilan ribu kematian per tahun. Menurut perkiraan Skin Foundation hampir enam ribu di antaranya adalah kaum Adam.

Australia adalah negara dengan jumlah korban jiwa akibat kanker kulit terbesar. Ada 8,3 kematian karena kanker kulit per 100.000 orang. Mengekor di belakangnya, adalah Slovakia dan Slovenia.

Sementara di Inggris dan Spanyol, kini ada 70 persen lebih banyak laki-laki yang meninggal akibat kanker kulit dibandingkan 30 tahun lalu.

Apa penyebabnya? Para ahli mengatakan, bisa jadi karena laki-laki cenderung tidak menggunakan krim tabir surya atau tidak melindungi diri dengan baik dari sinar ultra violet yang merusak.

Angka mengejutkan ini terungkap setelah para peneliti dari National Cancer Research Institute (NCRI) membandingkan data kematian kanker kulit di seluruh dunia antara tahun 1985 hingga 2015.

Peneliti utama Dr. Dorothy Yang, dari Royal Free Hospital di London, mengatakan, "Meskipun upaya kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran melanoma dan mendorong perilaku cerdas di bawah matahari, insiden melanoma telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir."

Namun, menurut Dr. Yang beberapa laporan baru telah mengidentifikasi tanda-tanda stabilisasi dan penurunan tingkat kematian melanoma di negara-negara seperti Australia dan Eropa Utara.

Statistik yang digunakan Dr. Yang dan tim diambil dari 33 negara maju di penjuru dunia. Kebanyakan dari Eropa, tidak ada data untuk AS, Kanada, atau Selandia Baru.

Dari data yang ada, Jepang memiliki jumlah kematian terendah akibat melanoma pada tahun 2015. Hanya 0,4 orang per 100.000 yang meninggal akibat penyakit tersebut.

Angka ini 20 kali lebih rendah daripada Australia, yang memiliki margin lebar di atas Slovenia di nomor dua dengan 6,4 kematian per 100.000, dan Slovakia dengan 5,8 kematian.

Kematian meningkat lebih cepat di kalangan laki-laki dan lebih lambat, bahkan turun dalam beberapa kasus di kalangan perempuan.

Alasan perbedaan angka kematian di antara dua jenis kelamin belum jelas. Tetapi, kata Dr. Yang dinukil CNN, bukti menunjukkan laki-laki cenderung tidak melindungi diri dari matahari atau tidak mengindahkan peringatan kesehatan masyarakat.

Lebih dari 90 persen melanoma disebabkan oleh kerusakan sel kulit akibat paparan matahari, atau sumber radiasi ultraviolet lain seperti tanning bed.

Pada delapan negara yang diamati, tingkat kematian kanker kulit laki-laki meningkat setidaknya 50 persen dalam tiga dekade. Di Irlandia dan Kroasia sekitar dua kali lipat.

Lonjakan tinggi juga terlihat di Spanyol dan Inggris (70 persen), Belanda (60 persen), serta Prancis dan Belgia (50 persen).

Republik Ceko adalah satu-satunya negara yang menunjukkan penurunan tingkat kematian kanker kulit di kalangan laki-laki.

Sementara di AS yang tidak termasuk dalam penelitian, menurut statistik dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, kematian laki-laki akibat melanoma naik sekitar 25 persen.

Bagaimanapun penelitian baru menunjukkan, negara-negara dengan kenaikan angka kematian kanker kulit sering kali bukanlah negara dengan tingkat kematian tertinggi secara keseluruhan.

Ambil contoh di Australia. Hampir enam dari setiap 100.000 orang kalah melawan penyakit ii pada 2013 sampai 2015.

Itu dua kali tingkat kematian laki-laki tertinggi kedua di Finlandia. Tetapi hanya meningkat 10 persen dibandingkan dengan 30 tahun sebelumnya.

"Ada bukti yang menunjukkan bahwa laki-laki kurang melindungi diri dari matahari atau terpapar kampanye kesadaran dan pencegahan melanoma," kata Dr. Yang.

Lebih dari itu, kini para peneliti sedang mencari faktor biologis yang mendasari perbedaan tingkat kematian antara laki-laki dan perempuan.

Ada perdebatan soal seberapa banyak tingkat kanker kulit Australia terpengaruh oleh menipisnya lapisan ozon bumi. 'Lubang ozon' jadi topik hangat di benua berjuluk down under itu ketika upaya anti-kanker kulit dimulai pada 1980-an.

Kematian perempuan akibat kanker kulit di Australia pada tahun 1985 hanya separuh dari kematian laki-laki akibat penyakit yang sama. Jumlah itu pun menurun 10 persen selama 30 tahun berikutnya.

Negara-negara lain dengan tingkat kematian perempuan akibat penyakit itu yang juga turun dalam periode sama adalah Austria (sembilan persen), Republik Ceko (16 persen), dan Israel (23 persen).

Sebaliknya di Rumania, Swedia dan Inggris justru mengalami sedikit peningkatan di kalangan perempuan. Bagaimanapun, tingkat kematian perempuan melonjak cukup banyak. Di Belanda (58 persen), Irlandia (49 persen), Belgia (67 persen) dan Spanyol (74 persen).

Para ilmuwan sedang menyelisik apakah faktor biologis atau genetik juga berperan dalam kanker kulit. Tetapi sejauh ini belum ada temuan yang jelas.

Profesor Poulam Patel, ketua NCRI Skin Cancer Clinical Studies Group yang tidak terlibat penelitian mengatakan, "Hasil ini menunjukkan melanoma akan terus menjadi masalah kesehatan selama beberapa tahun mendatang, dan kita perlu menemukan strategi efektif untuk mendiagnosis dan mengobati pasien dengan akurat."

Penelitian ini akan dipresentasikan pada UK National Cancer Research Institute Conference 2018 di Glasgow.

Upaya apa yang bisa dilakukan untuk menangkal kanker kulit? Menggunakan tabir surya secara rutin adalah cara paling sederhana.

Untuk diperhatikan, bahkan cara mengaplikasikan tabir surya pun bisa punya efek melindungi yang berbeda. Anda perlu mengoleskannya dengan cukup tebal dan merata pada kulit.

Orang yang warna kulitnya lebih putih mungkin perlu melakukan tindakan ekstra. Pasalnya kerentanan mereka terhadap kerusakan UV cenderung lebih tinggi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan awal tahun 2018 mengungkap, para ahli merekomendasikan orang memakai topi, mengenakan pakaian pelindung, dan mencari sumber naungan sebagai langkah tambahan.

Merawat kulit bukan hanya soal penampilan tapi juga kesehatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR