POLA ASUH

Setop menguntit anak di dunia maya

Ilustrasi orang tua memantau aktivitas anak di layar komputer
Ilustrasi orang tua memantau aktivitas anak di layar komputer | Bignai /Shutterstock

Sebagai orang tua, terkadang Anda merasa mengawasi aktivitas anak-anak di dunia maya itu penting. Namun menurut psikolog, hal tersebut justru tidak membuat situasi dan hubungan orang tua-anak menjadi lebih baik.

Lisa Damour, psikolog sekaligus penulis buku Under Pressure: Confronting the Epidemic of Stress and Anxiety in Girls, berpendapat tidak ada yang lebih ampuh selain membangun hubungan baik antara orang tua dan anak dengan cara mendapatkan kepercayaan mereka.

Memeriksa aktivitas digital anak-anak bisa dianggap seperti melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh. Meskipun alasan orang tua melakukan hal tersebut, karena khawatir akan menemukan informasi mengkhawatirkan.

Namun, tidak demikian bagi anak-anak. Apa yang dilakukan para orang tua membuat mereka tidak nyaman dan risau.

Mereka merasa tidak mendapat kebebasan. Padahal, kepercayaan dan kebebasan diperlukan dalam perkembangan usia mereka.

Jika seorang anak kehilangan kepercayaan pada orang tua, anak bisa merasa terisolasi. Sehingga mereka merasa kurang dukungan. Padahal ini dibutuhkan untuk mendiskusikan risiko yang mungkin akan mereka hadapi di masa depan.

Seperti dalam survei kecil yang dilakukan pada 252 mahasiswa tahun 2017, anak-anak melaporkan perilaku mereka saat berinteraksi dengan media sosial.

Sebanyak 63 persen mengaku orang tua mereka mendiskusikan hal-hal yang mereka lihat dalam laman Facebook anak-anaknya. Sedangkan 27 persen mengaku memblokir akses orang tua mereka di sosial media pribadinya, hal ini kemungkinan terkait dengan rasa tidak nyaman dalam pengawasan.

Penelitian singkat itu menemukan anak-anak yang berteman di jejaring Facebook dan tidak memblokir akses orang tua mereka, memiliki angka penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol yang rendah dibandingkan kelompok sebaliknya.

Memahami perbedaan generasi

Hasil penelitian mengungkap, generasi anak-anak sekarang tumbuh sebagai angkatan yang lebih senang menghabiskan waktu di dalam kamar, kemungkinan besar karena mereka terhubung secara sosial dengan teman melalui gawai dan internet.

Pada masa remaja, ada jarak usia antara orang tua dan anak. Pada masa ini, remaja lebih mendengarkan saran teman sebaya ketimbang saran dari orang tua. Namun hal ini biasa akan berubah ketika mereka sudah beranjak dewasa.

“Saat dewasa membuat kita memandang orang tua sebagai individu terpisah dan mempertimbangkan saran yang mereka berikan. Konflik dengan orang tua juga menurun seiring bertambahnya usia, ini yang paling berasa biasanya untuk ibu-ibu,” kata dokter Petrin Redayani Lukman, dari Divisi Psikoterapi, Departemen Psikiatri, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dinukil dari Kompas.com.

Oleh karena itu, orang tua tidak boleh serta merta menolak perubahan sikap dan perilaku yang terjadi pada anak remajanya.

Bisa jadi ini adalah masa pencarian jati diri bagi anak-anak. Jadi sebaiknya orang tua perlu melakukan pendekatan dan diskusi sebagai rekan sebaya dengan anak remajanya.

Peran orang tua dalam membangun hubungan emosional yang baik dengan anak-anak dapat membentuk pribadi yang tangguh di masa depan. Seperti dikatakan oleh psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Maharani Ardhi Putri dinukil dari Sindonews.com.

“Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan mengelola emosinya dan tidak sedikit-sedikit menyelesaikan konflik dengan kekerasan,” tegas dia.

Mengelola emosi dengan baik dianggap sebagai salah satu soft skill yang berguna untuk karakter anak-anak di masa depan.

Psikolog Mellissa Grace juga melihat perlunya membangun kedekatan emosional dengan anak-anak untuk mengetahui perkembangan yang dialami mereka.

“Amat perlu untuk membina kedekatan emosioal dengan remaja, jadi bukan hanya menghabiskan waktu dengan remaja, minimal membina komunikasi dan kedekatan emosional. Kenapa? Karena dengan komunikasi kita jadi tahu apa sih yang ada dalam pemikirannya, kita bisa memfasilitasi dia untuk menemukan jati dirinya yang sebenarnya,” kata Mellissa.

Pada fase ini menurut Mellissa, orang tua perlu meluangkan waktu untuk lebih sering mendengar dan bicara tanpa menghakimi.

"Kita perlu punya kemampuan untuk bicara dengan bahasa yang bisa mereka mengerti, mereka pahami, dan pastinya kita juga perlu mendengarkan secara aktif,” tutup psikolog lulusan Program Magister Profesi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR