KUALITAS HIDUP

Sisi buruk kegigihan

Ilustrasi gigih.
Ilustrasi gigih. | Creativa Images /Shutterstock

Sifat tidak gampang menyerah diyakini banyak orang sebagai pangkal kesuksesan. Sebetulnya kegigihan juga punya sisi buruk. Kesejahteraan diri lah korbannya.

Satu hal yang jadi masalah, kegigihan bisa menghalangi seseorang untuk mencari alternatif lebih sehat ketika berada dalam situasi menyulitkan. Pasalnya, orang yang punya sifat tidak gampang menyerah kerap mengabaikan kenyataan hidup.

Ada kalanya seseorang berhadapan dengan hal-hal di luar batas kemampuan. Seperti tujuan yang sulit tercapai, rencana yang tak mungkin terealisasi, hubungan atau pekerjaan yang buruk dan sebagainya.

Pengalaman Guillermo adalah salah satu contohnya. Guillermo adalah nama rekaan untuk pasien dr. David B. Feldman, Profesor Psikologi Konseling di AS yang berkisah dalam Psychology Today.

Guillermo adalah eksekutif kaya raya yang sejak kecil dididik bekerja keras dan tidak gampang menyerah. Di usia muda ia berhasil mewujudkan cita-cita.

Guillermo menjadi eksekutif di sektor teknologi. Punya segalanya, giat belajar dan bekerja.

Dia bekerja hampir 16 jam sehari. Selalu pulang dalam keadaan lelah dan hampir tak punya waktu untuk istrinya. Guillermo tahu gila kerja bisa merusak rumah tangga, jadi dia memutuskan berlibur romantis ke Karibia.

Hari pertama liburan, alih-alih bersantai yang ada di pikirannya cuma bekerja. Hari itu Guillermo sadar telah kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup.

Bahkan, usahanya menggapai impian telah membunuhnya pelan-pelan. Dia tidak menikmati apapun beberapa tahun belakangan.

Saat itu pula ia ingin berhenti, tapi tak bisa. "Bukankah menyerah hanya untuk yang kalah?", pikirnya.

Menurut peneliti Carsten Wrosch dan Gregory Miller, anggapan sikap pantang menyerah sangat penting untuk meraih kesuksesan telah tertanam dalam setiap budaya. Sebagai anak-anak, banyak dari kita yang diberi nasihat, "Jangan pernah menyerah."

Akibatnya, orang sering menyalahkan diri sendiri saat menyerah karena melihatnya sebagai tanda kegagalan dan kelemahan.

Adam Grant, psikolog dari Universitas Pennsylvania menjelaskan, sikap pantang menyerah bisa berakhir buruk ketika orang tidak tahu batasannya. Menurut Grant, pantang menyerah bukan berarti kita harus terus menjalani hal yang kita tahu punya konsekuensi buruk, apalagi kalau tahu akan gagal.

Sebaliknya, seperti ditulis New York Times, pantang menyerah yang sebenarnya adalah ketika kita tahu kapan harus berhenti dan menyerah.

Agar tidak menyerah terlalu dini, kata Dr. Feldman, Anda perlu lihai melihat situasi. Ketahuilah kapan saatnya tidak mungkin lagi mewujudkan suatu tujuan, dan ketika suatu tujuan terasa tidak penting lagi.

Ditinjau dari sisi psikologi, kegigihan yang membebani mengacu pada membelenggu diri. Sementara menyerah, mengacu pada “pelepasan tujuan” alias membebaskan diri.

Dengan demikian orang bisa menemukan cara baru untuk mengejar tujuan hidup lain yang lebih bermakna, dan sebelumnya mungkin diabaikan.

Banyak penelitian telah membuktikan kegigihan kelewat batas bisa berakibat buruk.

Misalnya, studi 2001 menemukan perempuan usia 40-an yang pantang menyerah untuk punya anak justru lebih terbebani secara emosional. Lain halnya perempuan yang tidak bersikeras karena sadar konsekuensi kehamilan di usia tak muda.

Intinya, tidak gampang menyerah bisa sia-sia jika sampai mempertaruhkan kesejahteraan hidup. Atas alasan itu, menyerah bisa menjadi alternatif lebih baik dan sehat.

Meskipun secara teori ini cukup dipahami, mewujudkannya masih sulit. Kenapa? Menukil laman Inc dan Positive Sharing, setidaknya ada empat alasan.

Pertama, Anda merasa tidak yakin menyerah karena sudah punya pengalaman menjalani sesuatu yang bisa jadi lebih sulit. Anda mungkin pernah berniat mundur, tapi tetap bertahan dan usaha itu berbuah manis.

Kedua, Anda tidak berani mundur karena menganggap menyerah itu salah. Bagaimanapun, stigma terhadap orang-orang yang menyerah begitu melekat di masyarakat.

Ketiga, Anda sudah berinvestasi terlalu banyak. Ketika Anda menghabiskan banyak waktu, uang, dan fokus pada sesuatu, akan sangat sulit untuk meninggalkannya.

Jika menyerah, pengorbanan pasti sia-sia. Jadi Anda berharap ada kesempatan mencapai tujuan awal dan bersedia menunggu selama apapun.

Keempat, Anda takut mengecewakan orang lain atau diri Anda sendiri. Terkadang kita mengingatkan diri agar pantang menyerah, karena kita berpikir orang lain mengandalkan kita atau akan marah jika kita menyerah.

Terakhir, mengutip BBC, Anda menetapkan tujuan dengan berfokus pada hasil. Peneliti dari Australia pernah menemukan orang cenderung memilih sesuatu yang kemungkinan hasilnya diketahui dibanding yang tidak. Bahkan, orang–orang itu mempertahankan pilihan tidak berguna dan sangat mudah melepaskan pilihan berharga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR