POLA ASUH

Siswa persekusi guru, pola asuh dan lemahnya pendidikan

Ilustrasi kekerasan.
Ilustrasi kekerasan. | SvetaZi /Shutterstock

Kasus siswa persekusi guru kembali terjadi. Terlepas dari faktor psikologis dan psikososial yang mendorong anak berlaku demikian, mungkinkah ini akibat kelalaian orang tua maupun pendidik?

Di Gresik, Jawa Timur, seorang siswa berinisial AA (15) melakukan persekusi terhadap gurunya, Nur Kalim lantaran ditegur saat merokok di kelas. AA yang tersinggung berulah di kelas. Bahkan berani mencengkeram kerah baju Kalim.

Meski Kalim yang mengaku merasa dilecehkan berhasil meredam kemarahannya, kejadian itu telanjur direkam oleh salah satu teman AA hingga video tersebut menjadi viral.

Saat dimediasi oleh kepolisian, AA didampingi orang tuanya minta maaf dan sempat mencium kaki Kalim. Ia menangis dan berjanji tak mengulangi perbuatannya.

Juneman Abraham, Pakar Psikolog Sosial dari Universitas Bina Nusantara berpendapat persekusi tak ubahnya perundungan. Masyarakat masa kini sudah jauh meningkat kesadarannya untuk mengenali, mencegah, melaporkan, dan menangani kejadian-kejadian semacam itu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membenarkan pandangan tersebut. Di satu sisi, ia menilai kejadian persekusi murid terhadap guru termasuk pelanggaran berat yang semestinya tidak dilakukan siswa.

Di sisi lain, ia mengatakan itu merupakan hal lazim yang pasti ada dalam dunia pendidikan. Menurutnya, dari puluhan juta siswa tak heran jika ada satu dua siswa yang berlaku layaknya AA karena itu bentuk kenakalan remaja.

"Kenakalan remaja itu ada yang stadiumnya rendah, menengah, ada juga yang stadium tinggi," ujarnya seraya menjelaskan bahwa perilaku AA yang sampai berani menentang guru termasuk stadium tinggi.

Penyebab terjadinya persekusi bermacam-macam. Namun, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menegaskan di kalangan siswa kecenderungan seorang anak menjadi pelaku persekusi terutama didorong penerapan pola asuh di rumah.

Hal itu dibuktikan Juneman dalam penelitiannya bersama Mutiara Pertiwi yang diterbitkan dalam Jurnal Sosiokonsepsia milik Kementerian Sosial pada tahun 2012. Dari 189 siswa-siswi SMA di Jakarta yang diteliti, ia menemukan setidaknya dua dari lima bentuk pola asuh orang tua yang berpotensi mendorong anak menjadi pelaku persekusi.

Pertama, pola asuh otoriter atau merasa berkuasa dan sewenang-wenang ternyata paling berperan dalam membentuk kecenderungan anak menjadi pelaku perundungan.

Kedua, pola asuh permisif-memanjakan anak seakan diberi kebebasan untuk melakukan tindakan agresi pada orang lain karena tanpa disadari orang tua seolah-olah membenarkan perilakunya.

Misalnya, dengan menyuruh anak “balas saja” ketika ia dijahati teman atau dengan tidak menghukum anak ketika melakukan tindakan agresif pada orang lain.

Masalahnya, jika tidak ada perubahan signifikan dalam pola asuh yang seperti itu, akan sangat sulit memutus mata rantai perundungan. Seperti terungkap pada penelitian David P. Farrington yang terbit dalam jurnal University of Chicago, pelaku persekusi yang umumnya memiliki perilaku agresif, tangguh, kuat, percaya diri, dan impulsif ini bersifat turun temurun.

Farrington menemukan, remaja yang menjadi pelaku persekusi dalam bentuk apapun cenderung akan tumbuh menjadi orang tua yang melakukan penganiayaan. Mereka pun akan memiliki anak yang memiliki kecenderungan untuk menjadi pelaku persekusi juga.

Kendati demikian, sejumlah faktor pemicu juga berperan.

Retno mencurigai paparan kecanduan gim daring berunsur kekerasan telah memengaruhi perilaku agresi pada remaja.

Namun, menukil Independent (13/2), studi baru oleh peneliti dari Oxford Internet Institute menunjukkan belum ada bukti untuk hal itu. Meski memang, gim kekerasan membuat remaja cenderung mengumpat atau berperilaku antisosial di tengah permainan, terutama jika terlampau lama bermain.

Pemicu lain di samping faktor psikologis dan psikososial, sebut Juniman, lebih karena struktur dan sistem sosial.

Berkaitan dengan itu, Dewi Mustami'ah, Psikolog Universitas Hang Tuah Surabaya, menilai persekusi oleh murid memperlihatkan kurangnya arahan dan didikan pada aspek persoalan emosi remaja.

Di lingkungan sekolah, kata dia, semestinya ada dua aspek yang perlu diajarkan secara seimbang. Bukan sekadar pemahaman siswa terkait pembelajaran di sekolah, tapi juga pengelolaan emosi dan perilaku dengan menekankan nilai moral.

“Perlu ditinjau kembali apakah pendidikan selama ini baru menyentuh aspek pikir. Siswa pintar, nilai baik, tetapi emosi dan perilaku menghargai orang, temannya dan orang yang lebih tua ini juga penting," paparnya.

Retno dan Muhadjir menambahkan, mengingat remaja punya emosi dan ego yang kuat, alih-alih membuat mereka jera dengan hukuman destruktif yang merenggut masa depannya, menangkal perlawanan dengan menciptakan cara-cara kreatif dan menyenangkan agar guru disegani dan tampil berwibawa lebih penting.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR