Stres karena Pilkada? Ini cara mengatasinya

Ilustrasi
Ilustrasi
© Luis Molinero /Shutterstock

Pemilihan gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 sudah berakhir. Pertarungan Ahok-Jarot dan Anies-Sandy di ajang pilkada ini memang sangat menegangkan.

Situasi panas yang tercipta lewat Pilkada ini terbilang sulit untuk dihindari. Mulai dari percakapan pro kontra di media sosial, diskusi di televisi yang cukup sengit, hingga perdebatan di grup-grup chatting di ponsel.

Parahnya lagi perdebatan terkait pilkada ini tak jarang berujung dengan beberapa orang diblokir, di-unfriend atau keluar dari grup chatting. Akibatnya tidak sedikit hubungan pertemanan menjadi rusak.

Kondisi ini membuat banyak orang memiliki harapan tinggi pada kandidat pilihannya sehingga ketika mengalami kekalahan, pendukungnya merasa kecewa bahkan marah, yang akhirnya bisa memicu stres.

Stres ini boleh jadi serupa dengan apa yang dirasakan sebagian rakyat Amerika Serikat pada ajang pemilihan Presiden tahun lalu. Efek kemenangan taipan real-estate Donald Trump atas Hillary Clinton dalam pilpres AS ini memang terasa berdampak besar kepada warga AS.

Di satu sisi, para pendukung Trump menunjukkannya dengan menggelar perayaan di berbagai tempat, namun di tempat lain pendukung Clinton menuangkan kecewa dan amarah tak hanya dengan turun ke jalan dan melakukan protes, tetapi juga mengekspresikannya melalui makian di media sosial.

Menurut Stephen Strosny, psikolog yang membuka praktik di pinggir kota Washington, AS, kondisi stres yang dialami para pendukung calon tertentu disebut sebagai Election Stress Disorder atau gangguan stres akibat pemilu. Ciri gangguan semacam ini dapat terlihat dengan gejala seperti rasa cemas berlebih, sulit berkonsentrasi dan ketakutan yang bercampur kebencian, Strosny memaparkan.

Hal senada juga diungkapkan Nancy Molitor, psikolog asal Chicago, AS, "Kebanyakan pasien yang berkonsultasi pada saya, dari usia milenial hingga 80 tahunan selalu mengungkit tentang politik yang sedang terjadi saat menjalani sesi terapi. Kecemasan terlihat makin meningkat setelah Trump dilantik menjadi presiden. Sebagian besar pasien punya keluhan susah tidur, sulit fokus bekerja dan stres karena sering bertengkar dengan anggota keluarga," ungkap Molitor

Kembali ke Jakarta, kini Pilkada sudah berakhir. Meski hasilnya tidak sesuai harapan Anda, jangan sampai stres karena Pilkada terbawa ke rumah atau kantor hingga pada akhirnya mengganggu produktivitas.

Bila Anda masih merasa kecewa dan sedih karena jagoan tak menang, berikut beberapa saran dari Dr. Jennifer Caudle, asisten professor dari Rowan University School of Osteopathic Medicine, untuk meredam stres:

1. Temukan teman mengobrol yang tepat

Jangan pendam emosi Anda. Jika belum sempat mengeluarkan uneg-uneg yang bikin stres, cobalah mengobrol dengan orang yang bisa memahami Anda, seperti sahabat atau keluarga. Ceritakan apa yang dirasakan dan ungkapkan kekesalan. "Saat merasa sendiri dan marah, membicarakan keluhan dengan orang yang tepat bisa menenangkan perasaan Anda," kata Dr. Caudle.

2. 'Cuti' buka media sosial

Bila membaca artikel atau mengunggah status di media sosial justru membuat Anda makin kesal, sebaiknya kurangi dulu frekuensi membuka akun. Anda juga bisa mengubah pengaturan, seperti menyembunyikan status atau unggahan lain yang tidak ingin dibaca atau dilihat, atau unfollow bahkan unfriend teman yang sering pasang status yang bikin Anda geram. Hak Anda juga kan, memilih teman di media sosial yang membuat hidup Anda lebih tenang.

3. Memanjakan diri

Usai masa pilkada, hadiahkan diri Anda dengan aktivitas yang bisa mengusir stres. Bila butuh pijat refleksi, atau sekadar manikur pedikur, lakukan segera agar tubuh rileks dan pikiran kembali segar. Setelah itu, Anda juga bisa mengajak keluarga makan bersama di resto favorit. Cara ini bisa mengembalikan hubungan yang sempat panas karena pilkada menjadi adem lagi.

4. Kembali ke rutinitas

Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam kekecewaan. Kembalikan semangat dan jalani aktivitas Anda seperti biasa. Ingat, semua kejadian ini akan berlalu juga. Jadi, sekarang saatnya beranjak, move on.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.