HUBUNGAN ASMARA

Studi sepanjang 2017 simpulkan jomlo lebih bahagia

Ilustrasi seorang perempuan jomlo yang tengah bertualang sendirian.
Ilustrasi seorang perempuan jomlo yang tengah bertualang sendirian. | AnemStyle /Shutterstock

Pada 1858, studi yang menyimpulkan bahwa hidup dalam pernikahan jauh lebih baik dari menjomlo muncul pertama kalinya. Semakin ke sini, kepastian tersebut mulai luruh seiring perkembangan sains yang mengungkap bahwa jomlo juga ada baiknya.

Jumlah jomlo di Indonesia, termasuk yang sudah cerai, semakin bertambah beberapa tahun terakhir ini. Berdasarkan riset Setipe.com (h/t Tempo.co), tahun 2015 populasi jomlo--rentang usia 18-40 tahun--di Indonesia mencapai 52 juta orang.

Riset serupa yang dilakukan pendiri jasa pencarian pasangan Heart.inc, Zola Yoana mengungkap, jomlo di atas usia 27 tahun meningkat dua persen setiap tahun antara 2010-2014, dengan jomlo lelaki mendominasi.

Terlepas dari banyaknya alasan mengapa orang memilih hidup sendiri, studi sepanjang 2017 berhasil membuktikan bahwa mereka yang menjomlo jauh lebih berbahagia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 yang diolah Lokadata Beritagar.id, indeks kebahagiaan penduduk yang belum menikah cenderung paling tinggi (71,53) dibandingkan dengan penduduk dengan status menikah (71,09), cerai mati (68,37), dan cerai hidup (67,83).

Meski kepuasan hidup jomlo terbilang rendah, mereka ditemukan memaknai hidup lebih baik. "Kalau single paling happy, setelah itu dia menikah indeks kebahagiaannya turun sedikit, lalu ketika cerai maka indeks kebahagiannya turun drastis," ujar Kepala BPS Suhariyanto dikutip CNN Indonesia.

Ya, tampaknya tak salah jika kemudian kaum milenial dilabeli "generasi malas nikah".

Di Amerika Serikat, lebih dari 110 juta penduduknya dilaporkan menjomlo pada 2017. Baik itu setelah cerai, atau memang belum menikah. Bagi yang telah bercerai, mereka bahkan butuh waktu cukup lama untuk memilih kembali ke pelaminan.

Berdasar survei, jumlah tersebut naik drastis ketimbang sedekade sebelumnya, khususnya pada usia dewasa muda.

Secara global, fenomena hidup melajang juga pernah dianalisis psikolog Henri C. Santos dan tim. Berbekal data setengah abad (1960-2011) dari 78 negara di seluruh dunia, periset menemukan bahwa popularitas menjomlo meningkat secara signifikan pada 83 persen negara.

Kabar baiknya, kecenderungan menjomlo memberi kesempatan untuk mendefinisikan kembali makna tradisional sekaligus batasan antara diri, keluarga, dan masyarakat.

Di AS misalnya, jika dulu pernikahan dianggap sebagai patokan kedewasaan, survei biro sensus AS 2017 menemukan 55 persen responden menilai menikah bukan lagi kriteria pengukur kedewasaan. Begitu pula dengan memiliki anak.

Bagi mereka, yang terpenting adalah menyelesaikan sekolah formal dan memiliki pekerjaan tetap.

Mengutip beberapa studi 2017 yang ditulis ilmuwan sosial Bella DePaulo dalam The Conversation, ketimbang orang yang menikah, para lajang cenderung lebih terbuka dan peduli dengan tetangga dan temannya. Mereka juga lebih sering berkunjung, memberi dukungan dan saran, serta lebih intens berhubungan dengan saudara dan orang tuanya.

Bahkan, jomlo juga lebih banyak berpartisipasi dalam kelompok masyarakat dan acara publik, serta lebih peduli pada layanan sosial.

Pernyataan DePaulo didukung studi bulan Juli di New York University yang menyebutkan, mereka yang jomlo lebih bahagia karena lebih leluasa menjaring dukungan sosial tak berbatas dari keluarga, saudara, teman, kolega, dan lainnya.

Di luar itu, stigma dan stereotip lama memang muncul pada mereka yang jomlo, seperti dikatakan lebih egois, kurang harga diri, tidak aman, mati lebih cepat, kesepian, dan bergelimang kesedihan. Namun, faktanya studi-studi 2017 tentang masyarakat jomlo menunjukkan hasil yang baik.

Melansir Thecut.com, studi mengenai hubungan romantis dan harga diri di Jerman yang diterbitkan dalam Jurnal Personality and Social Psychology menemukan para jomlo memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang hubungannya gagal.

Menurut studi tersebut, suatu hubungan hanya akan meningkatkan harga diri jika jalinannya romantis, stabil, dan fungsinya baik. Dengan kata lain, orang menikah boleh jadi punya harga diri lebih rendah dibanding mereka yang menjalani hubungan romantis tanpa ikatan, ataupun mereka yang menjomlo.

Begitu pula, studi lama yang menyebut pasangan menikah lebih sehat dibanding ketika masih lajang, sebetulnya adalah hasil temuan bersyarat yang menuntut adanya dukungan dan kasih sayang dalam hubungan. Tiga penelitian metodologis tahun ini mencoba membuka mata.

Studi pertama menemukan, perempuan menikah bertambah berat badan dan lebih banyak minum alkohol dibanding yang menjomlo. Perempuan jomlo usai cerai bahkan makan lebih sehat, lebih banyak olahraga, dan lebih singset.

Pada studi kedua di Swiss yang diadakan selama16 tahun, terungkap bahwa orang-orang yang menikah memiliki kesehatan menyeluruh yang sedikit lebih buruk dibanding ketika mereka masih lajang.

Sementara studi ketiga, yang mensurvei 12 ribu orang di AS dengan berbagai skenario pernikahan termasuk lamanya pernikahan dan kapan menikah, menemukan kaum milenial yang menikah pada dasarnya tidak pernah merasa lebih sehat.

Sebagai pengecualian, mereka yang lahir antara tahun 1955-1964, dan telah menjalani biduk rumah tangga setidaknya 10 tahun, barulah menganggap diri mereka sedikit lebih sehat.

Pada akhirnya, pernikahan mungkin bukan satu-satunya langkah ideal menjalani hidup. Di penghujung 2017, serentet bukti ilmiah semakin mendukung bahwa Anda yang melajang jauh lebih bahagia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR