KESEHATAN ANAK

Studi ungkap anak dengan autisme lebih rentan alergi

Ilustrasi alergi
Ilustrasi alergi | Lyubov Kobyakov /Shutterstock

Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak dengan autisme dua kali lebih mungkin menderita alergi makanan dibandingkan populasi umum.

Anak-anak dengan kondisi tersebut juga memiliki risiko alergi pernapasan dan alergi kulit yang lebih tinggi, seperti eksim serta demam, kata para peneliti.

Studi yang dipimpin oleh para ilmuwan kesehatan masyarakat di University of Iowa di Amerika Serikat menduga bahwa ada kaitan antara autisme dan potensi alergi dengan sistem kekebalan tubuh anak.

Namun penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Medical Association, Jama Network Open, ini tidak memberikan bukti baru tentang hubungan sebab akibatnya.

Pasalnya, penelitian memiliki keterbatasan sehingga temuan lainnya memerlukan proses dan uji coba yang berhati-hati.

"Ada kemungkinan bahwa gangguan imunologi terjadi karena proses yang dimulai sejak awal kehidupan. Kemudian, itu memengaruhi perkembangan otak dan fungsi sosial yang mengarah pada pengembangan gangguan spektrum autisme," kata Dr Wei Bao, asisten profesor epidemiologi, yang terlibat dalam penelitian.

Autisme adalah suatu kondisi yang mengubah cara orang berkomunikasi dengan dunia di sekitar mereka.

Autisme menjadi sorotan pada tahun 1998 ketika dokter Inggris Andrew Wakefield mengeluarkan peringatan yang kemudian ditentang banyak pihak.

Oleh karena meningkatnya kasus autisme di seluruh dunia, dia mengatakan, cacar, gondok, dan rubela adalah penyebabnya.

Sekarang, studi terbaru melihat data dari 200.000 anak yang dikumpulkan dari keterangan orang tua antara tahun 1997 dan 2016 sebagai bagian dari survei kesehatan nasional rutin di AS.

Bao dan rekan menemukan, anak menderita autisme 129 persen lebih mungkin memiliki kondisi alergi makanan.

Kemudian, mereka juga rentan menderita alergi kulit dan pernapasan. Masing-masing kemungkinan mencapai 50 dan 28 persen.

Namun, hasil penelitian ini diperoleh hanya lewat proses wawancara dengan orang tua mengenai kesehatan anak mereka setiap tahun.

Peneliti tidak mengambil informasi langsung dari dokter.

Sebaliknya, orang tua ditanya apakah anak mereka memiliki diagnosis formal autisme atau kondisi perkembangan yang serupa. Mereka juga diminta untuk melaporkan sendiri apakah anak mereka memiliki reaksi alergi terhadap makanan, kulit atau kondisi pernapasan tertentu dalam 12 bulan terakhir.

Para peneliti lain memperingatkan, hasil penelitian dianggap masih lemah karena rentan terjadi bias antara ingatan orang tua dengan kejadian yang sesungguhnya.

Temuan ini mungkin menunjukkan bahwa orang tua dari anak-anak dengan autisme lebih perhatian pada jenis makanan yang dikonsumsi anak sehingga menyebabkan alergi.

Hal-hal tersebut sering kali diabaikan oleh orang tua dari anak-anak tanpa autisme.

“Ada kemungkinan bahwa orang tua yang melaporkan satu kondisi lebih mungkin melaporkan yang lain. Efek seperti itu bisa menjelaskan peningkatan pelaporan alergi dalam penelitian ini," kata Dr James Cusack, seorang direktur sains untuk badan amal Autistica.

Sementara Dr Bao menyimpulkan, adanya hubungan antara autisme, alergi, dan pelemahan sistem kekebalan tubuh pada anak dengan autisme.

Namun, dia mencatat bahwa penelitiannya tidak fokus mempelajari hal tersebut. Dia menambahkan, mungkin ada penjelasan lainnya, seperti faktor genetik atau lingkungan.

"Sains tidak pernah konklusif seperti yang kita inginkan," tambah Dr Cusack. “Studi ini menambahkan sesuatu yang sangat berharga pada saat mengindikasikan hubungan yang terlihat. Hubungan mungkin ada.”

"Kami sekarang perlu penelitian untuk melakukan pendalaman yang lebih dalam untuk memastikan apakah hubungan itu benar-benar ada ada. Lalu, kami akan cari tahu penyebabnya,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR