INDUSTRI PARIWISATA

Suara sumbang selepas Festival Karawo 2019

Karnaval kostum menjadi puncak acara Festival Karawo 2019 di area Taman Taruna Remaja, Kota Gorontalo, Minggu (6/10/2019).
Karnaval kostum menjadi puncak acara Festival Karawo 2019 di area Taman Taruna Remaja, Kota Gorontalo, Minggu (6/10/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Festival tahunan Karawo 2019 selesai digelar di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Minggu (6/10/2019). Festival yang berlangsung rutin sejak 2011 ini adalah satu dari kalender pariwisata nasional.

Dalam perhelatan tahun ini, Festival Karawo yang dimulai sejak 2 Oktober mengusung tema "Wonderful Celebes". Itu sebabnya, bukan cuma budaya Karawo yang tampil, tapi juga dari Sulawesi secara keseluruhan. Dan ini dikeluhkan perajin Karawo.

Karawo adalah kain tradisional khas Gorontalo yang semua proses pembuatannya menggunakan tangan. Karawo, dalam bahasa Gorontalo, berarti sulaman dengan tangan atau pada umumnya dikenal dengan istilah kerawang.

Beberapa kalangan menganggap bahwa festival kali ini tidak merefleksikan identitas Karawo. Misalnya diungkapkan Nari Agus, seorang perajin Karawo yang masih eksis.

Nari mengatakan tidak ada yang baru dari Festival Karawo kali ini karena hanya seremoni tahunan untuk menghidupkan Karawo pada waktu tertentu. "Yang ditampilkan pada karnaval itu kebanyakan kan bukan Karawo."

Perempuan berusia 56 tahun itu ditemui Beritagar.id, Selasa (8/10/2019), di kediamannya di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Kelurahan ini diresmikan menjadi pusat kerajinan Karawo oleh pemerintah Provinsi Gorontalo pada tahun 2006.

"Kita memang tidak dilibatkan. Bukan itu permasalahannya. Sekarang ini Karawo mulai ditinggalkan. Generasi sekarang sama sekali tidak mau melestarikannya. Saya berulang kali mengajak anak-anak muda untuk belajar menyulam. Mereka lebih memilih gawai," ujar Nari yang mulai menyulam Karawo sejak usia 11 tahun.

Nari masih setia mempertahankan eksistensi Karawo walau keuntungan finansial tidak seberapa. Ia dan puluhan anggota perajin Karawo tetap setia menyulam.

"Paling tinggi diupah Rp250 ribu rupiah per kain, pesanan dari butik. Itu nanti kita akan bagikan bersama. Saya enggak tahu kalau butik menjualnya berapa. Kalau tidak salah harganya sampai sejuta lebih," katanya.

Sebenarnya Nari beserta kelompok perajin yang mayoritas ibu rumah tangga pernah berniat untuk mendirikan sebuah butik swadaya. Maksudnya mereka ingin membiayai seluruh anggota perajin seraya melestarikan Karawo sebagai identitas Gorontalo.

"Saya juga ingin membuat pelatihan gratis untuk anak-anak. Tapi, kita enggak punya modal. Ya, kita cuma bisa berharap dari pesanan butik-butik atau pesanan seragam Karawo dari kantor-kantor pemerintah saja," paparnya.

Magnet pariwisata

Nari Agus (56) (kanan) menunjukkan hasil sulaman Karawo di kediamannya di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Goorontalo, Selasa (8/10/2019).
Nari Agus (56) (kanan) menunjukkan hasil sulaman Karawo di kediamannya di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Goorontalo, Selasa (8/10/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Parade kostum menjadi puncak Festival Karawo 2019. Tahun ini karnaval Karawo menampilkan baju khas seluruh provinsi di Sulawesi. Selain keragaman budaya Sulawesi, sajian lainnya adalah hewan endemik Sulawesi seperti burung maleo dan anoa.

Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim, menyampaikan Karawo merupakan warisan leluhur Gorontalo. Jadi, kerajinan tangan sulaman Karawo harus dilestarikan bersama dan pengembangan sektor pariwisata menjadi faktor tepat untuk menggerakkan ekonomi Gorontalo yang saat ini masih didominasi anggaran pemerintah.

"Dengan pelaksanaan Festival Karawo, akan lebih banyak wisatawan yang datang. Untuk mengembangkan sektor pariwisata, tidak mudah, perlu sinergi, dan konektivitas dengan daerah lain," tukasnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Budi Widhihartanto mengungkapkan festival itu memberi dampak pada peningkatan permintaan Karawo. Festival Karawo juga membuat identitas Gorontalo dikenal secara nasional.

"Pada IMF Meeting di Bali pada 2018 lalu, sulaman Karawo menjadi seragam pada pertemuan itu," tuturnya

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Festival Karawo sudah masuk dalam 100 calender of event pariwisata nasional. Selain Festival Karowo, Gorontalo juga menyumbang Festival Pesona Danau Limboto ke dalam kalender itu.

"Tema 'Wonderful Celebes' menurut saya sangat tepat. Kita menginginkan semangat yang sama, Celebes Incorporeted. Dan sudah kita mulai bahwa untuk meningkatkan pariwisata di Gorontalo, Sulawesi Utara menjadi hub-nya," jelas Arief saat membuka karnawal Festival Karawo, Minggu (6/10).

Adapun, lanjut Arief, untuk masuk ke dalam kalender pariwisata nasional dibutuhkan tiga syarat acuan. Yaitu 3C; creative value, commercial value, dan commitment.

Catatan redaksi: Pada paragraf ke-9 sebelumnya tertulis upah perajin Rp250, seharusnya Rp250 ribu. Kesalahan telah diperbaiki.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR