Sumut makan ikan asin tujuh kalinya DKI

Bulan lalu, ketika garam mahal, ikan asin pun terimbas. Di Pasar Pegirikan, Surabaya, Jawa Timur, yang sekilogram garamnya naik harga dari Rp1.000 menjadi Rp2.000, harga ikan asin juga naik -- ada yang sampai dua kali lipat. Misalnya sekilogram ikan asin belah. Dari Rp10.000 menjadi Rp20.000.

"Ikan asin banyak macamnya. Harganya naik semua. Tapi, tetap laku, kok. Karena banyak yang suka," kata Sumiati, pedagang di Surabaya (Radar Surabaya, 13/8/2017).

Ia yakin, "Sekarang ngetrennya kan makan nasi goreng asin, atau nyambel ikan asin."

Untuk menyiasati ikan asin yang mahal, produsen dan konsumen menggantinya dengan ikan tawar diasinkan. Misalnya di Probolinggo, Jawa Timur (Republika.co.id, 28/8/2017).

Pekan lalu, di tempat lain, misalnya di Pangkalpinang, Bangka Belitung, stok ikan asin di pasar mulai menipis. Memang harga garam berangsur normal karena impor. Namun cuaca ekstrem mengurangi produksi ikan (Klikbabel.com, 5/9/2017).

Lalu akhir pekan lalu, di Sukabumi, Jawa Barat, Kepala Staf Kepresidenan RI Teten Masduki berkata, "Harus diakui angka konsumsi ikan di Indonesia masih rendah." (Antara News, 9/9/2017)

Memang ia tak khusus bicara soal ikan asin. Namun ia ingat, pemerintah berupaya meningkatkan konsumsi ikan perkapita, dari 41 kg/kapita menjadi 56 kg/kapita.

Tentang konsumsi ikan asin semua provinsi, sila lihat ringkasannya dalam infografik. Hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) Maret 2016 oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan Sumatra Utara (Sumut) paling doyan ikan asin.

Sedangkan provinsi paling rendah dalam mengonsumsi ikan asin adalah Papua. Hanya dua gram per kapita seminggu. Hampir seperduapuluhlimanya Sumut.

Adapun konsumsi DKI Jakarta sepertujuhnya Sumut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR