Surel vs tatap muka, mana lebih efektif?

Ilustrasi
Ilustrasi
© Antonio Guillem /Shutterstock

Merasa canggung saat hendak meminta tolong adalah hal wajar. Takut ditolak mentah-mentah, atau tak siap mendengar penolakan akhirnya kerap membuat banyak orang memilih jalur suresl--surat elektronik.

Ya, surel memang punya banyak nilai lebih sebagai media komunikasi. Murah, jangkauannya luas, asinkron, dan mudah diubah suai menurut kebutuhan. Belum lagi jika yang Anda hadapi milenial yang tak biasa bertelepon.

Betapapun menguntungkannya surel sebagai media komunikasi, faktanya tetap saja ada satu hal negatif tentang surel. Seperti dilaporkan dalam riset terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology, surel adalah media komunikasi yang tidak persuasif, bicara tatap muka jauh lebih efektif.

Untuk membuktikan hal itu, periset Mahdi Roghanizad dan Vanessa K. Bohns menginstruksikan 45 partisipan riset untuk meminta 450 orang asing--masing-masing 10 orang--mengisi survei daring.

Setengah dari partisipan mengirim permintaan tolong lewat surel, sementara setengah lain meminta tolong langsung, dengan bertatap muka. Kalimat yang digunakan dua kelompok untuk meminta tolong tidak ada bedanya.

Harvard Business Review melansir, sebelum partisipan melancarkan aksi minta tolong, mereka ditanyai satu per satu. Apakah kira-kira permintaan tolong mereka ditanggapi dengan baik?

Partisipan yang hendak bertanya langsung menebak lima dari 10 orang akan setuju. Sementara partisipan yang hendak mengirim surel menebak rata-rata 5,5 orang dari 10 akan setuju.

Kenyataan berkata lain, lebih dari 70 persen orang yang didekati secara langsung bersedia mengisi survei. Sementara hanya dua persen orang yang dimintai tolong lewat surel bersedia mengisi survei.

Dalam studi kedua, orang-orang direkrut untuk mengisi survei berbayar lewat surel dan secara tatap muka. Sebelum survei berbayar dimulai, mereka ditawari kesempatan untuk mengisi survei kedua yang tak berbayar.

Lagi-lagi para partisipan menganggap remeh upaya tatap muka dibandingkan lewat surel, padahal hasil membuktikan sebaliknya. "Partisipan sudah kelewat yakin karena terbiasa saat mengirimkan surel. Mereka gagal mengantisipasi apa yang akan dilihat oleh penerima surel dari mereka: surel dari orang asing yang meminta mereka untuk mengklik tautan mencurigakan," papar Bohns.

Kedua eksperimen menunjukkan bahwa permintaan langsung atau tatap muka 34 kali lebih efektif dalam mendapatkan respons positif ketimbang sekadar mengirim surel.

"Jika seorang teman mendatangi Anda dan minta tolong, artinya mereka benar-benar membutuhkan bantuan atau menghargai Anda hingga mau meluangkan waktunya untuk bertatap muka," ujar Roghanizad, penulis riset yang adalah profesor bisnis di Western University, Ontario, Kanada.

Lagipula, lebih sulit bagi seseorang untuk bilang tidak saat berhadapan langsung dengan orang yang meminta sesuatu. Interaksi langsung sangat mengandalkan rasa percaya yang sekaligus mengaktivasi empati seseorang.

Menurut Bohn dan Roghanizad, ada dua pelajaran yang bisa diambil dari studi ini.

Pertama, "Jika orang menginginkan pesan surel yang lebih efektif mereka harus menyisipkan informasi yang lebih personal untuk memfasilitasi terbangunnya rasa percaya di awal," jelas Roghanizad.

Kedua, "Kalau perusahaan Anda menggunakan surel dan komunikasi berbasis teks, layak dipertimbangkan apakah Anda bisa jadi komunikator yang lebih efektif dengan berbicara tatap muka. Namun, jika Anda kelewat mengandalkan efektivitas media tertentu, Anda mungkin jadi sering dan tanpa sadar memilih media yang pengaruhnya lebih rendah," papar Bohns.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.