Tak ada cinta pada pandangan pertama

Ilustrasi cinta pada pandangan pertama.
Ilustrasi cinta pada pandangan pertama. | LongJon /Shutterstock

Saat Pangeran Harry ditanya kapan ia menyadari bahwa Meghan Markle adalah jodohnya, ia menjawab "kali pertama bertemu".

Padahal, menurut riset terbaru yang diterbitkan dalam Journal of the International Association for Relationship Research, jatuh cinta pada pandangan pertama hanya ada di angan-angan. Realitas tak mengenalnya.

Psikolog Florian Zsok dan rekannya dari University of Groningen di Belanda baru-baru ini menerbitkan sebuah penelitian. Mereka menemukan walaupun orang pada umumnya percaya bahwa mereka sedang mengalami cinta pada pandangan pertama atau love at first sight (LAFS), sebenarnya perasaan tersebut lebih berkaitan dengan ketertarikan fisik daripada perasaan cinta yang sebenarnya.

Zsok dan timnya membuat berbagai percobaan untuk menjawab beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah LAFS sifatnya sebatas produk bias memori. Benarkah LAFS terjadi pada suatu waktu, atau apakah itu sesuatu yang orang ingat hanya setelah mereka jatuh cinta pada seseorang?

Mereka juga mempertanyakan bagaimana daya tarik fisik mempengaruhi LAFS? Pasalnya, daya tarik fisik adalah hal umum yang muncul saat orang ditanya tentang LAFS. Lagipula selama ini daya tarik fisik berkorelasi dengan LAFS.

Pertanyaan ketiga adalah, apakah LAFS semata-mata hanya ekspresi seseorang yang sedang tergila-gila pada sosok tertentu. Berbedakah LAFS dengan cinta yang dirasakan dalam hubungan romantis?

Untuk mendapatkan jawaban atas sederet pertanyaan tersebut, Live Science melansir, periset merekrut hampir 400 orang dewasa. Kebanyakan perempuan, heteroseksual, mahasiswa Belanda atau Jerman.

Satu kelompok relawan mengisi survei tentang diri mereka dan bagaimana perasaan mereka tentang pasangan mereka saat ini, jika mereka memilikinya.

Kemudian peserta yang sama berdasarkan preferensi seksual mereka diperlihatkan foto orang asing dan diminta membayangkan mereka bertemu pada sebuah kencan kilat. Setelah itu, mereka mengisi kuesioner lain--tentang orang-orang dalam bayangan mereka.

Kali ini, para peserta menilai seberapa mereka menyatakan setuju terhadap pernyataan seperti, "Saya merasa bahwa orang ini dan saya ditakdirkan untuk satu sama lain," dan "Saya mengalami cinta pada pandangan pertama dengan orang ini."

Mereka juga diminta untuk menilai daya tariknya. Dari masing-masing pasangan potensial dalam skala satu (tidak sama sekali) sampai lima (benar sekali).

Relawan lainnya, yang berstatus lajang, pergi ke pertemuan tatap muka di mana mereka pertama kali bertemu satu sama lain, baik dalam kelompok kecil atau sebagai bagian dari acara kencan kilat.

Sekali lagi, para peserta mengisi kuesioner yang menyelisik bagaimana perasaan mereka tentang calon pasangan mereka.

Pada akhirnya, dari hampir 500 pertemuan, Zsok dan timnya mengamati bahwa 49 di antaranya melaporkan mengalami LAFS. Ini mendukung gagasan bahwa fenomena tersebut bukan hanya sesuatu yang mudah diingat seseorang begitu mereka menjalin hubungan. Namun, dalam penelitian ini, tidak ada laporan tentang LAFS yang bersifat timbal balik.

Bagaimanapun juga para peneliti menemukan benang merah. Yakni, orang-orang yang mengaku mengalami LAFS sering menilai kencan mereka lebih menarik secara fisik daripada para relawan lain.

Mereka juga cenderung memberi skor lebih rendah pada pertanyaan yang mengukur cinta daripada orang-orang yang melaporkan sedang menjalani sebuah hubungan. Hal ini menunjukkan ada perbedaan di antara keduanya.

Menariknya juga, orang-orang yang sedang melakoni hubungan dan mengklaim bahwa mereka telah mengalami LAFS dengan pasangan mereka saat ini, lebih cenderung melaporkan timbulnya perasaan bergairah, daripada mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak mengalami LAFS dengan pasangan mereka.

Menurut penelitian ini, cinta pada pandangan pertama pada dasarnya adalah ketertarikan fisik, dengan sedikit bumbu gairah.

Hasil studi ini mendefinisikan kembali konsepsi cinta pada pandangan pertama. Ini sekaligus mengurangi gagasan ideal tentang romantisme cinta yang memicu timbulnya harapan suatu hari akan bertemu dengan seseorang, langsung jatuh cinta, tahu bahwa hal itu benar, dan dapat memastikan hubungan itu akan berhasil.

Di satu sisi, ini bisa jadi positif. Sebab memungkinkan seseorang membuat penilaian dan keputusan yang lebih akurat.

Di sisi lain hal ini juga dapat mengurangi ilusi optimisme yang pada masanya memungkinkan seseorang untuk terus maju dan berani mengambil lebih banyak peluang walau kemungkinannya bisa jadi lebih buruk.

Secara keseluruhan, penelitian ini bisa memupuskan gagasan romantis cinta pada pandangan pertama. Meski mungkin masih ada harapan di luar sana untuk para romantis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR