VIDEO VIRAL

Tantangan #InMyFeelings alias joget Kiki yang berbahaya

Ilustrasi tantangan #InMyFeelings
Ilustrasi tantangan #InMyFeelings | F8 studio

Instagram sedang dibuat geger tagar #InMyFeelings. Video-video itu memperlihatkan seseorang keluar dari mobil yang sedang berjalan, kemudian menari di samping pintu terbuka mobil yang berjalan pelan diiringi sebuah lagu.

Mengutip Liputan 6, video-video tersebut juga kerap menggunakan tagar #KikiChallenge dan #InMyFeelingsChallenge. Jika ditotal jumlah tagar tersebut--saat artikel ini ditayangkan--sudah melebihi 1 juta unggahan.

Adalah seorang pesohor Instagram @theshiggyshow yang pertama kali mengunggah video dirinya menari diiringi lagu In My Feelings yang dinyanyikan Drake.

Lagu tersebut, menurut Forbes, dirilis pada (29/6). Saat ini, lagu tersebut tercatat menduduki nomor satu dalam Billboard Hot 100. Pada (19/7) lagu ini sudah diakses 116,2 juta kali di Amerika Serikat. Mengalahkan Harlem Shake milik Baauer, yang ditonton 103,1 juta kali pada Maret 2013.

Uniknya, viralnya lagu tersebut justru terjadi sebelum Drake meluncurkan video klip resminya. Tantangan #InMyFeelings lah pemicunya.

Sebenarnya Shiggy hanya menari di pinggir jalan dengan latar belakang lagu tersebut. Sejak itu, tariannya menjadi tantangan menari, lalu diunggah ke media sosial.

Semakin lama, tantangannya meningkat menjurus ke tingkat berbahaya. Sebagian orang merekam diri keluar dari mobil yang sedang berjalan, dan menari mengikuti jalannya mobil.

Para selebritas pun ikutan. Aktor Will Smith naik ke Chain Bridge di Budapest, Hungaria, dan melakukan tarian tersebut tanpa pengaman.

Di Indonesia, tantangan yang berjuluk "Joget Kiki" ini juga diminati, termasuk oleh selebritas. Ria Ricis, Jennifer Coppen serta selebgram Cherly Juno yang sedang hamil menjajalnya, mengundang banyak komentar.

Kendati tampak menyenangkan, tantangan ini juga bisa berbahaya. Merdeka melaporkan, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengimbau masyarakat tidak melakukan tantangan tersebut. “Sebaiknya jangan dilakukan tindakan yang kurang baik, karena kalau jatuh bisa luka dan kalau di depannya ada lubang bisa fatal,” katanya.

Ancaman lebih tegas dikeluarkan oleh pemerintah Uni Emirat Arab dan Mesir. Egypt Independent menulis, para pejabat di Egyptian Traffic Department telah memperingatkan warganya untuk tidak melakukan tantangan itu.

Ancaman hukuman menanti pelanggar, penjara 1 tahun atau denda antara 1000 sampai 3000 Pound Mesir (setara Rp800 ribu sampai Rp2,4 juta), dan akan dilipatgandakan jika mengulangi perbuatan.

Denda sebesar 100 sampai 300 Pound Mesir akan dikenakan pada pengemudi yang tidak menutup pintu dengan benar selama mengemudi. Dan hukuman terberat, tentu saja, jika terjadi kecelakaan yang menyebabkan luka atau kematian.

Menurut NDTV, kepolisian Dubai, Uni Emirat Arab, juga telah mengeluarkan peringatan pada warganya agar tidak melakukan tarian Kiki, karena membahayakan diri dan pengguna jalan lain. Bahkan tiga orang selebgram telah ditahan karena melakukan dan mereka tarian tersebut di samping mobil yang bergerak.

Ketiganya masih menjalani pemeriksaan dengan tuduhan membahayakan nyawa mereka dan orang lain, serta merusak moral masyarakat menggunakan situs jaringan sosial untuk mempromosikan sesuatu yang berlawanan dengan nilai dan tradisi masyarakat.

Penegak hukum juga akan memberikan sanksi pada mereka yang terbukti ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Negara-negara lain, seperti Spanyol dan Amerika Serikat juga sudah mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk tidak melakukan tarian ini.

Di era media digital, membuat sesuatu menjadi viral tampak begitu mudah. Bahkan sesuatu yang sebenarnya berbahaya dapat menjadi viral, dan ditiru oleh banyak orang.

Menurut Tara Adhisti de Thouars, psikolog klinis dari Sanatorium Dharmawangsa, seperti dikutip Okezone, aksi melakukan tantangan sekalipun berbahaya merupakan gabungan antara mencari perhatian, pacuan adrenalin, dan perasaan bangga saat bisa berhasil melakukan tantangan.

‘Mencari perhatian’ dapat terlihat dari unggahan mereka di media sosial dan membagikannya, setelah melakukan adegan berbahaya. “Jadi tahu kalau akan mendapat respons dari orang lain,” jelasnya.

Adrenaline rush karena melakukan tindakan berisiko tinggi, lalu adanya rasa bangga karena berhasil melakukan sesuatu tindakan yang tidak wajar dan berbahaya.”

Jonah Berger, profesor di Wharton School, University of Pennsylvania yang melakukan penelitian tentang informasi yang viral, termasuk foto atau gambar, cerita, lelucon, video maupun gagasan, mengatakan pada Gulf News ada penjelasan ilmiah di balik berbagai hal viral, dan melibatkan banyak faktor.

Salah satunya adalah nilai sosial atau social currency, yang membuat orang berpendapat bahwa membagikan informasi merupakan bentuk dari nilai daring.

Penyampaian informasi ini menjadikan para pengguna media sosial sebagai pengguna yang aktif, kemudian akan menjadi bagian mereka yang menciptakan atau membagikan sesuatu. Berger menambahkan, terkadang membagi konten kepada masyarakat umum di media sosial akan memengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Termasuk jika konten tersebut berisi hal-hal yang memalukan masyarakat.

Menurut Dr. Mrabet Jihene, psikolog klinis dari Uni Emirat Arab, perilaku itu membuat seseorang merasa jadi bagian dari kelompok, dan hal tersebut memberi rasa aman dan nyaman, serta dapat menunjukkan jati diri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR