FINANSIAL

Teknologi tidak membantu milenial mengatur keuangan

Ilustrasi metode pembayaran digital
Ilustrasi metode pembayaran digital | Paisit Teeraphatsakool /Shutterstock

Kemajuan dunia teknologi dan informasi banyak melahirkan terobosan dalam berbagai bidang, termasuk sistem pembayaran digital dan aplikasi perencana keuangan.

Studi terbaru yang dilakukan oleh Global Financial Litteracy Excellence (GFLE) di George Washington School of Bussiness, Amerika Serikat (AS), menyimpulkan bahwa teknologi tidak membantu milenial mengatur keuangan.

Penelitian fokus pada dua kelompok responden muda usia 18-34 tahun yang menggunakan aplikasi pengatur keuangan dan terbiasa menggunakan sistem pembayaran nirkabel.

Lalu, kelompok lain di usia yang sama, tetapi tidak menggunakan teknologi untuk melakukan pembayaran dan mengatur keuangan mereka.

Sampel penelitian mempelajari sekitar 10 ribu responden.

Hasil penelitian merangkum, kaum milenial pengguna teknologi tidak melek finansial dibanding kelompok usia yang sama.

Lebih lanjut, kelompok ini juga memiliki kecenderungan untuk membuat keputusan keuangan buruk, seperti memiliki rekening giro berlebihan, memiliki banyak kartu kredit, meminjam dari pemberi pinjaman, dan mengalokasikan rekening pensiun mereka lebih awal.

Penelitian mengungkapkan, ada kelemahan di balik keunggulan sistem pembayaran elektronik dan aplikasi perencana keuangan, yaitu sistem pembayaran elektronik membuat pengeluaran terlalu mudah dan penganggaran menjadi lebih sulit.

"Dalam data kami tidak memiliki informasi tentang apa yang menjelaskan perilaku itu, tetapi membuat pembayaran mudah dan tanpa berpikir dapat mendorong orang untuk menghabiskan lebih banyak," kata Annamaria Lusardi, seorang profesor di George Washington School of Business mengomentari hal itu.

Di negara AS, model pembayaran digital melalui Apple Pay dan Google Pay, mencatat transaksi sebanyak 70 juta dolar AS pada tahun 2017. Angka ini diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga 370 juta dolar AS serta pertambahan pengguna dari 50 juta menjadi 90 juta orang pada tahun 2022.

Dalam survei yang dilakukan GFLE tahun 2016, ada sembilan dari 10 milenial di AS yang memiliki ponsel pintar.

Lalu, setengah dari mereka menggunakan model pembayaran dan pengaturan keuangan digital lewat gawai.

Gagap finansial ini, menurut Greg Oray, ahli investasi dan presiden dari Oray King Wealth Advisors di Kota Troy, Michigan, AS bermula dari kurang pengetahuan bagi generasi milenial.

“Sejak bangku sekolah menengah pertama sampai kuliah, pengetahuan untuk masalah keuangan ini minim mereka dapat.”

Dia menambahkan, hanya sepertiga jumlah sekolah di setiap negara bagian yang mengharuskan siswanya mengambil kelas keuangan pribadi sebagai syarat kelulusan.

Terlebih lagi, survei global yang diterbitkan pada tahun 2017 menemukan fakta satu dari lima remaja AS tidak memiliki keterampilan literasi keuangan dasar. Hal ini menempatkan AS di belakang negara China, Belgia, Kanada, dan beberapa negara lainnya.

“Tanpa memahami bagaimana konsep-konsep utama keuangan seperti kredit, utang dan bunga, akan sulit bagi generasi milenial untuk membuat keputusan pengelolaan uang pintar. Aplikasi keuangan hanya membantu mereka sesaat tapi tidak melatih kemampuan mereka.”

Menurut perencana dan edukator keuangan, Prita Ghozie, dinukil Liputan6.com , banyak orang mengatur keuangan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan bulanan, tanpa memperhitungkan keperluan jangka panjang hingga keperluan dadakan atau darurat.

Beberapa kesalahan yang dilakukan generasi milenial saat ini, yakni tidak memiliki tujuan yang jelas.

Gagal mengatur keuangan karena tidak mengetahui pengeluarannya sendiri dan tidak adanya dana darurat. Oleh karena itu, masyarakat harus memahami apa itu simpanan, tabungan, dan investasi.

Tipnya adalah saat memiliki penghasilan, segera bagi menjadi tiga kategori yaitu biaya hidup, biaya rekreasi, dan tabungan.

Biaya hidup adalah uang keluar masuk untuk hidup bulanan. Biaya rekreasi, dana untuk senang-senang dan bermain. Tabungan adalah uang yang Anda simpan dan hanya digunakan keluar pada saat momen tertentu.

Generasi millenial khususnya dihadapkan dengan biaya kuliah dan pendidikan lanjutan yang lebih tinggi, dan biaya hidup rata-rata lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 34 persen dari orang yang berusia 24 hingga 35 tahun di AS memiliki tabungan kurang dari 1.000 dolar AS dan hanya 15 persen yang memiliki tabungan 10.000 dolar AS atau lebih.

Menurut Casey Weade, presiden dari Howard Bailey Financial mengatakan, kaum milenial untuk menghindari sejumlah risiko kegagalan finansial, sebaiknya menghindari kartu kredit, pinjaman yang tidak penting seperti kredit kendaraan, serta tidak kalah penting mengurangi investasi yang penuh risiko.

“Keberhasilan finansial Anda sebagai individu tidak ada hubungannya dengan generasi Anda dilahirkan, tetapi bagaimana Anda dibesarkan dan pengalaman yang Anda miliki di sepanjang jalan," pungkas Weade.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR