Ternyata bad mood ada gunanya

Ilustrasi
Ilustrasi
© Pepsco Studio /Shutterstock

Manusia adalah makhluk yang moody. Layaknya iklim, mood seseorang tak selalu ceria seperti hari yang cerah. Ada kalanya mood membawa seseorang dalam keadaan sedih, ibarat hari mendung yang kelabu.

Dari dua tipe mood yang dikenal dalam dunia psikologi--positif dan negatif--kabar baiknya, ternyata mood jelek atau mood negatif pun ada gunanya.

Dikutip dari The Conversation, berada dalam kondisi bad mood memiliki bukan hanya satu tapi beberapa bermanfaat. Sains telah membuktikannya secara ilmiah.

Perlu diketahui, definisi mood jelek yang dimaksud di sini adalah perasaan sedih, bukan depresi yang bisa dikategorikan kelainan mood serius. Sebelum membaca lebih jauh, Anda dapat mencoba mengenali tanda-tanda depresi.

Menurut profesor psikologi Joseph Paul Forgas, ada beberapa studi yang menunjukkan beberapa hal justru membaik saat seseorang berada dalam mood jelek. Misal, ingatan, penilaian, dan komunikasi.

Mood jelek, kata Forgas juga dapat membantu membangkitkan motivasi orang. Membuat mereka berusaha lebih keras dalam mengerjakan tugas yang sulit.

Studi lain menemukan bahwa saat seseorang merasa dilanda mood jelek sedikit saja, ia malah dapat lebih mengesampingkan ego dan memperlakukan orang lain secara lebih adil. Ini karena orang yang bersedih cenderung lebih memperhatikan isyarat dan norma-norma sosial.

Bukan hanya itu, para ilmuwan juga menemukan bukti yang menunjukkan bahwa saat mood sedang jelek, kita cenderung tidak terlalu mengandalkan stereotip. Rasa sedih memicu kasih sayang dan empati, meningkatkan rasa keterhubungan dan sensibilitas moral, karenanya dapat memperbaiki komunikasi.

Itulah beberapa bukti efek positif dari mood negatif yang dipublikasikan lewat studi bertajuk Don't Worry, Be Sad!

Studi ini menunjukkan bahwa manfaat mood jelek Anda memiliki akar evolusioner. Pada dasarnya, mungkin saja emosi negatif sebenarnya adalah alat adaptif yang bisa memberi isyarat kepada tubuh untuk mengenali dan menghindari situasi yang berbahaya atau mengancam kesehatan.

Memang, ini nampak agak berlawanan dengan cara kita menyikapi emosi, terutama yang negatif. Secara kultural, kita dikondisikan untuk lebih mengasosiasikan diri dengan emosi positif. Pura-pura pun tak mengapa, yang penting bahagia.

Semua orang ingin bahagia, bahkan negara-negara pun berkompetisi untuk bercokol di daftar negara paling bahagia.

Rasa marah dan sedih kerap dianggap sebagai fase emosi sementara, lain halnya dengan kebahagiaan. "Dengan memuja kebahagiaan dan menyangkal sisi positif kesedihan, kita menetapkan tujuan yang tak bisa diraih oleh diri sendiri," ujar Forgas dilansir Quartz.

Forgas menyebutkan potensi efek yang merugikan akibat terus memproyeksikan kebahagiaan dan mengabaikan kesedihan. Secara khusus, kita bisa mencapai tujuan yang sulit terjangkau sambil mengabaikan bagian dari diri kita yang bukan hanya alami tapi juga diperlukan.

Bukannya menjadi bahagia itu tak baik, atau mencari cara memperbaiki mood sebaiknya dilupakan. Bahagia tetap dibutuhkan agar kita menjadi manusia seutuhnya, begitu juga jenis emosi lain.

Dari berbagai bukti ilmiah yang dipaparkan Forgas, mungkin Anda berpikir bukankah keseimbangan mood lebih penting daripada upaya mengejar kebahagiaan yang tiada berakhir? Toh, ternyata mood jelek juga punya sederet kebaikan di dalamnya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.