BUDAYA DIGITAL

Terungkap, kelompok usia yang sering sebar hoaks

Ilustrasi hoaks
Ilustrasi hoaks | Ivan Marc /Shutterstock

Tim peneliti merilis hasil temuan menarik berkaitan dengan penyebaran hoaks atau berita bohong di media sosial, Facebook.

Peneliti mengungkap pengguna Facebook berusia 65 tahun ke atas merupakan kelompok yang cenderung sering menyebarkan hoaks dibandingkan pengguna lain yang berusia lebih muda.

Selain itu, mereka yang memiliki keyakinan politik konservatif juga ditemukan sering melakukan hal serupa.

Temuan ini didapatkan peneliti melalui riset dan analisis selama kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 silam.

Peneliti dari Princeton University dan New York University di Amerika Serikat (AS) melakukan survei terhadap 2.711 pengguna Facebook.

Sebanyak 49 persen responden setuju untuk membagikan informasi diri ketika ditanyakan soal pemilihan presiden.

Kemudian, peneliti membandingkan tautan yang telah dibagikan responden di Facebook dengan beberapa daftar--termasuk satu yang dikompilasi oleh BuzzFeed--dari situs web yang diketahui berbagi informasi palsu.

Studi yang dipublikasikan di Science Advances ini menemukan, hanya kurang dari 8,5 persen responden yang membagikan tautan dari salah satu situs web hoaks.

Namun, mereka yang melakukannya didominasi dari kelompok usia lebih tua dan mengidentifikasi diri sebagai ujung konservatif dari spektrum politik.

Faktanya, pengguna berusia di atas 65 tahun--terlepas dari afiliasi politik—membagikan hoaks di Facebook lebih dari tujuh kali dalam sehari dibandingkan pengguna berusia 18 hingga 29 tahun.

"Tidak ada karakteristik demografis lain yang tampaknya memiliki efek konsisten berbagi berita palsu," tulis penulis penelitian, yang dipimpin oleh profesor politik Andrew Guess dari Universitas Princeton.

"Ada kemungkinan bahwa seluruh kelompok orang AS, sekarang berusia 60-an dan lebih, tidak memiliki tingkat literasi media digital yang diperlukan untuk secara andal menentukan kepercayaan atas berita yang mereka baca secara daring," imbuhnya.

Para penulis juga menyarankan dampak penuaan pada memori dapat memiliki efek.

"Berdasarkan temuan ini, ingatan memburuk seiring bertambahnya usia dengan cara yang secara khusus bisa merusak resistensi terhadap" ilusi kebenaran, "tulisnya.

Penelitian juga menunjukkan, Partai Republik berbagi lebih banyak berita palsu daripada Demokrat.

Lalu, secara ideologis, kaum konservatif lebih banyak membagikan berita bohong karena Donald Trump yang sekarang menjadi Presiden AS lebih menyukainya.

Penyebaran hoaks seharusnya ditanggapi dengan serius. Dampak negatifnya tak hanya dirasakan di jagat maya, tetapi juga praktek hidup nyata karena bisa menimbulkan keresahan dan gelisah.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatik, pada tahun 2016 hampir 800 ribu akun, baik media sosial atau media daring, yang telah diblokir oleh pemerintah Indonesia.

Sirkulasi kabar bohong yang disiarkan akun tersebut sarat ujaran kebencian dan bisa memicu pertikaian.

Lalu, pada tahun 2017 dari bulan Januari sampai Oktober, jumlah akun hoaks yang sudah berhasil diblokir mencapai 600 ribu.

"Meski potensi hoaks dan ujaran kebencian akan meningkat, kami terus melakukan literasi ke masyarakat selain memblokir akun-akun tersebut," kata Rosarita Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasik Publik (IKP) Kemenkominfo.

Kemudian, berdasarkan survei yang dihelat oleh Masyarakat Telematika Indonesia pada 7 sampai 9 Februari 2017 terhadap 1.116 partisipan di Indonesia, hasil yang diperoleh cukup mengejutkan.

Pasalnya, sebanyak sebanyak 44,30 persen masyarakat di Tanah Air mengaku, menerima berita hoaks setiap hari.

Riset juga menuliskan bahwa 17,20 persen menyatakan menerima berita palsu ini lebih dari sekali sehari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR