Tingkat parah DBD terlihat dari hematokrit, bukan trombosit

Ilustrasi demam berdarah
Ilustrasi demam berdarah | all_about_people /Shuttesrstock

Alih-alih hanya melihat nilai trombosit yang menurun dari hasil uji laboratorium, sebaiknya Anda juga mengecek nilai kenaikan hematokrit saat orang terdekat dicurigai terserang DBD.

Pasalnya, berbeda dari pemahaman umum, tingkat keparahan DBD bukan ditentukan oleh penurunan jumlah trombosit, melainkan meningkatnya hematokrit.

Memahami hal ini sangat penting untuk mencegah penanganan DBD yang tidak tepat sehingga berakibat fatal.

“(Jadi) yang lebih tepat untuk lihat keparahan DBD itu tingkat hematokritnya, bukan trombositnya,” ungkap Dr dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI, ahli penyakit infeksi tropis, dalam seminar bertajuk “Demam Berdarah yang Tak Kunjung Musnah, Mengapa?” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Dilansir Kompas, ia menjelaskan bahwa peningkatan hematokrit menandakan meningkatnya kepekatan darah. Ini bisa sampai mengakibatkan kebocoran plasma, suatu masalah utama dan berbahaya pada DBD yang kerap kali berakibat fatal.

Terutama jika pasien berlama-lama dibawa ke pelayanan kesehatan atau lebih parah, jika trombosit yang rendah diobati dengan transfusi trombosit ketika tidak terjadi pendarahan masif.

Kata dr Leonard, pasien DBD dengan trombosit yang jumlahnya di bawah 100.000 per mm3 sekalipun, sebetulnya belum tentu membutuhkan transfusi trombosit bila tidak terjadi pendarahan masif, semisal mimisan atau buang air besar berdarah.

“Kalau ditransfusi trombosit, takutnya malah membentuk antibodi untuk trombosit itu, malah makin ruwet masalahnya,” ujarnya.

Dibanding transfusi trombosit, salah satu cara tepat untuk mencegah perburukan penyakit DBD pada pasien tanpa pendarahan, termasuk penanganan utama dari kebocoran plasma darah adalah dengan memastikan pasien mendapatkan cukup cairan.

"Karena darahnya pekat bisa diatasi dengan meningkatkan asupan cairan sehingga darah lebih encer," kata dr. Leonard.

Ia menyarankan bahwa cairan yang diberikan sebaiknya tidak dibatasi ataupun berunsur paksaan dan lebih baik lagi jika berupa cairan pengganti alias bukan air putih biasa.

Cairan pengganti adalah minuman yang mengandung glukosa dan elektrolit, seperti susu, jus buah, isotonik elektrolit, teh manis dengan garam dan gula, atau cucian beras.

Saran tersebut berlandaskan pada studinya yang diterbitkan dalam Indian Journal of Community Medicine pada tahun 2017.

Leonard dan tim menemukan bahwa pemberian cairan isotonik bagi pasien DBD lebih menjanjikan dibanding air putih biasa. Sebabnya, kandungan glukosa dan natrium di dalamnya memungkinkan air diserap lebih banyak oleh usus sehingga menghidrasi tubuh lebih baik.

Lantas, kapan hematokrit disebut meningkat, dan bagaimana kebocoran plasma bisa berakibat fatal?

Hematokrit adalah perbandingan jumlah sel darah merah dengan volume darah keseluruhan yang dihitung dalam persentase. Contohnya jika kadar hematokrit Anda diketahui 20 persen, ini artinya ada 20 mililiter sel darah merah per 100 mililiter darah Anda.

Hematokrit disebut meningkat jika jumlahnya melebihi nilai normal 38,8-50 persen untuk laki-laki dewasa, dan sekitar 34,9 sampai 44,5 persen untuk perempuan dewasa. Sementara jumlah hematokrit anak-anak usia 15 tahun ke bawah bisa terus berubah seiring bertambahnya usia.

Peningkatan hematokrit bisa menunjukkan berbagai kondisitubuh. Terkait DBD, di antaranya dehidrasi, rendahnya kadar oksigen dalam darah, tidak normalnya kadar sel darah merah, hingga cairan darah telah berubah pekat.

Darah yang pekat bisa menandakan kebocoran plasma. Kebocoran plasma terjadi akibat pecahnya pembuluh kapiler. Ini menyebabkan cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah ke jaringan di luar pembuluh darah.

"Akibat adanya bocoran di pembuluh darah kapiler tadi tubuh berupaya menutup celah itu dengan bantuan trombosit, sehingga kadar trombosit pun menjadi rendah," terang dr Leonard.

"Saat terjadi kebocoran, yang keluar adalah cairan tubuh, sel darah putih, hingga sel darah merah,”

Sel darah merah yang keluar bisa terlihat dari munculnya bintik-bintik kemerahan pada kulit, bahkan perdarahan. Lalu, jika cairan elektrolit yang keluar, maka pembuluh darah akan mengalami pemekatan atau disebut hemokonsentrasi. Jika hemokonsentrasi menyebabkan aliran darah melambat, bahkan mandek, maka itulah yang disebut kebocoran plasma.

Masalahnya, menurut Prof Sutaryo, Pakar DB dan Guru Besar Kedokteran UGM, pengetahuan sekaligus kesadaran masyarakat untuk memperhatikan, apalagi memeriksakan tingkat hematokrit terutama di hari keempat saat mengalami demam masih terbilang rendah.

Padahal, kata dia, jika seseorang mengalami demam hingga hari keempat, patut dicurigai dan diperiksa apakah itu DBD atau bukan. Pasalnya, masa kritis seorang pasien DBD itu hari keempat, kelima dan keenam. Sekitar 80-90 persen kasus DBD yang berat dan berpotensi menimbulkan kebocoran plasma terjadi di waktu-waktu tersebut.

Prof Sutaryo juga menyebutkan bahwa kematian akibat DBD seringnya karena syok berat akibat kebocoran plasma dari penanganan hematokrit yang tidak tepat.

Pada banyak kasus, lanjut dia, pasien sudah dibawa ke rumah sakit sebelum hari keempat dan dari hasil pemeriksaan trombositnya bagus. Ketika pasien dirawat jalan tapi demam dan lemasnya tidak menunjukkan perbaikan di hari keempat, pun tidak dibawa segera ke rumah sakit, itulah yang fatal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR