PENCEMARAN LINGKUNGAN

Upaya mengantisipasi limbah deterjen

Ilustrasi limbah deterjen.
Ilustrasi limbah deterjen. | SToa55 /Shutterstock

Limbah deterjen bisa jadi sumber penyakit bagi manusia dan mengganggu biota laut. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya?

Selama bertahun-tahun warga Kanal Banjir Timur (KBT) di Marunda, Jakarta Utara, telah terbiasa dengan pemandangan lautan busa. Selama itu pula masyarakat berspekulasi terkait penyebabnya. Tak disangka, seperti dilaporkan Kompas.com, ternyata busa itu muncul akibat tercemar limbah detergen warga.

Limbah detergen adalah limbah yang umum dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Hampir seperempat limbah detergen dihasilkan dari aktivitas mencuci dalam sehari.

Limbah detergen termasuk jenis greywater atau limbah nonkakus, yang juga mencakup limbah bekas mandi dan limbah dapur.

Jenis limbah lainnya, adalah blackwater dari kotoran manusia dan clearwater dari tetesan AC atau kulkas. Dalam jumlah banyak, limbah clearwater bisa ditampung dan diolah kembali untuk keperluan bersih-bersih. Sama halnya limbah blackwater yang bisa diolah oleh bakteri pengurai dalam septic tank.

Namun, berbeda dari semua, limbah greywater perlu diolah secara khusus. Sebab, sebagian besar produk pembersih mengandung serangkaian senyawa bernama "Volatile Organic Compounds" (VOC) yang bukan hanya berbahaya, tapi juga merusak saluran air.

Khususnya detergen, mengandung bahan-bahan berbahaya seperti petrokimia dan fosfat. Bahkan Nonylphenol ethoxylates (NPE), produk sampingan dalam banyak detergen, adalah salah satu ancaman utama bagi kehidupan laut--dengan meniru hormon dan mengganggu sistem endokrin.

Alhasil, detergen yang dibuang dalam tangki bisa membunuh bakteri pengurai. Begitu pula jika dibuang langsung ke selokan, akan bermuara ke sungai dan membuatnya tercemar.

Dampaknya, limbah detergen bisa mengubah warna air jadi kecokelatan dan mengeluarkan bau busuk. Biota air pun mati, dan zat-zat polutan yang terkandung dalam detergen bisa menjadi sumber penyakit seperti kolera hingga disentri.

Sebagai solusi, pemerintah--dan para ahli--telah menyelisik sejumlah cara efektif untuk mengolah dan menangkal limbah detergen. Mulai dari pembuatan sistem pengolahan air limbah (sewerage system), hingga membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) komunal.

Permasalahannya, solusi itu memakan waktu dan biaya yang tak sedikit. Karenanya, upaya terbaik perlu dimulai dari tataran terkecil, oleh individu dari rumah ke rumah. Apa yang bisa kita lakukan?

Batasi jumlah limbah

Wall Street Journal telah mengungkap fakta bahwa sekitar 1.100 aktivitas mencuci berlangsung setiap detik. Artinya, kita perlu melakukan perubahan demi mengurangi dampak rutin mencuci. Salah satunya dengan membatasi jumlah limbah secara alami.

Untuk memulai, situs Onegreenplanet.org menganjurkan tidak lagi menggunakan lebih banyak detergen dari yang kita butuhkan atau melebihi anjuran pemakaian.

Karena nyatanya, pakaian tidak lebih bersih dengan tambahan detergen. Dan pakaian yang tidak terlalu kotor bahkan bisa bersih hanya dengan dikucek pakai tangan atau mesin, tanpa pakai detergen.

Cara ini juga membantu pengurangan sampah plastik detergen yang menggunung--sekitar 80 persen plastik di laut yang merupakan polutan air utama, berasal dari darat.

Berikutnya, kurangi juga pemakaian pelembut pakaian. Sebab kandungannya bisa merusak lingkungan sekaligus kesehatan.

Di antaranya mengutip Scientific American, adalah bahan-bahan seperti benzyl asetat--berhubungan dengan kanker pankreas, etanol--berhubungan dengan gangguan sistem saraf pusat, limonene--sejenis karsinogen, dan bahkan kloroform--sejenis neurotoxin dan karsinogen.

Sebagai gantinya, alih-alih menggunakan bahan kimia beracun agar seprai lembut mengembang, menambahkan secangkir cuka putih saat mencuci, atau mencampur soda kue (baking soda) dan cuka kala merendam pakaian jauh lebih bijak.

Terakhir, hindari pemutih pakaian sebisa mungkin. Pemutih akan bereaksi dengan bahan kimia lain di lingkungan. Salah satunya disebut halides, penyebab korosi pada cangkang kerang dan krustasea.

Pada konsentrasi tinggi, kombinasi amonia dan pemutih juga melepaskan gas yang bisa menghentikan fungsi paru. Dan senyawa klorin dalam pemutih telah dikaitkan dengan kanker payudara serta masalah reproduksi.

Karenanya, thespruce.com menyarankan pemutih alami seperti merendam pakaian dalam cuka putih, lalu dioles baking soda. Pun hanya dengan menjemurnya terbalik di bawah sinar matahari.

Menanam tumbuhan penyerap limbah

Limbah greywater bisa dicegah lewat menanami selokan dengan tumbuhan air yang fungsinya menyerap zat pencemar. Yakni jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air.

Meskipun kurang efektif karena tumbuhan tersebut hanya mampu menyerap sedikit limbah, pun tak bisa menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan, tetapi caranya cukup mudah dan sederhana untuk dicoba.

Tidak buang sampah sembarangan

Sampah apapun, khususnya pembersih berbahan kimia atau produk-produk medis wajib dibuang ke tempat sampah. Anda yang melihat sampah berserakan pun perlu berinisiatif membuang. Sebab, jika terbawa ke air bisa berpotensi berbahaya bagi manusia dan lingkungan lewat sifatnya yang menular, beracun, atau radioaktif.

Lebih hemat dan efisien

Tidak berlebihan dalam menggunakan produk kimia rumah tangga--termasuk detergen--terbukti minim risiko terhadap lingkungan. Karenanya, EPA, badan perlindungan lingkungan di AS menganjurkan agar Anda meningkatkan efisiensi pemakaian air dengan mandi sebentar.

Selain itu, tidak sembarangan memanfaatkan septic tank. Gunakan juga detergen ramah lingkungan atau dibuat sendiri, serta sabun beban fosfor. Dan pastikan diri Anda berperan aktif serta terlibat dalam upaya memperbaiki pencemaran lingkungan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR