KESEHATAN PEREMPUAN

Vaksin dapat tingkatkan harapan hidup pasien kanker ovarium

Ilustrasi pasien
Ilustrasi pasien | Photographee.eu /Shutterstock

Kanker indung telur atau ovarium jarang menjadi pembahasan dan sering terlupakan, dibandingkan dengan kanker payudara dan kanker serviks atau kanker leher rahim. Padahal, seperti yang ditulis dr. Anita Amalia Sari dalam situs Klik Dokter, kanker indung telur menduduki peringkat ketiga kanker yang sering menyerang para perempuan setelah kanker payudara dan leher rahim.

Kurangnya perhatian pada kanker ovarium karena tidak memperlihatkan gejala-gejala khas dan belum ada metode deteksi dini, seperti SADARI (periksa payudara sendiri) atau mamografi untuk deteksi dini kanker payudara, dan papsmear atau tes IVA (Inspeksi Asam Asetat) untuk kanker serviks.

Annwen Jones, direktur eksekutif Target Ovarian Cancer, suatu lembaga non profit yang mengampanyekan kewaspadaan dan penanganan kanker indung telur dari Inggris, mengatakan kepada situs Healthline bahwa kaum perempuan seharusnya waspada pada gejala-gejala seperti kembung, perut terasa penuh, sakit perut dan sering buang air kecil.

"Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, dan hal itu bukanlah sesuatu yang normal bagi Anda, maka sudah waktunya Anda memeriksakan diri ke dokter," kata Jones.

Dalam suatu survei yang diadakan oleh Target Ovarian Cancer ditemukan bahwa satu dari lima perempuan di Inggris mengidentifikasikan kembung yang berkepanjangan sebagai gejala kanker ovarium. Kendati tidak semua gejala tersebut disebabkan karena masalah yang serius, tetapi deteksi dini kanker ovarium dapat membuat penyakit itu mudah ditangani.

Menurut situs New Scientist, sekitar 7.300 perempuan di Inggris didiagnosis mengidap kanker ini setiap tahunnya.

Para pasien baru menyadarinya setelah sel-sel kanker sudah menyebar. Oleh karena itu, kanker ovarium sering disebut sebagai "silent killer". Umunya, tindakan penangananya berupa operasi dan kemoterapi. Namun, kanker biasanya akan kembali lagi pada sebagian besar pasien dan akhirnya tubuh mengembangkan resistensi terhadap kemoterapi. Pada titik inilah pasien kehabisan opsi perawatan.

Namun, suatu hasil penelitian uji coba menunjukkan bahwa vaksin kanker ovarium yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien atau vaksin yang dipersonalisasikan, terbukti aman dan dapat memperpanjang harapan hidup para pasien.

Percobaan klinis ini melibatkan 25 orang perempuan. Dalam rilis media yang dipublikasikan dalam situs Penn Medicine News disebutkan vaksin yang dipersonalisasikan itu dibuat dari sel kekebalan tubuh pasien sendiri.

Di dalam laboratorium, sel-sel kekebalan tubuh tersebut di'isi' dengan sel tumor pasien dan disuntikkan ke tubuh pasien untuk melihat reaksi yang lebih luas.

Para pasien yang merupakan penderita kanker ovarium tahap lanjut ini menerima satu dosis vaksin setiap tiga minggu selama 15 minggu. Lalu, mereka diberi kemoterapi bulanan hingga terlihat perkembangan dari penyakit tersebut atau saat cadangan vaksin mereka habis. Uji coba ini awalnya hanya bertujuan untuk melihat keamanan dan kelayakan vaksin, tetapi dalam perkembangannya menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa vaksin ini juga efektif.

Situs Science Daily menyebutkan bahwa sekitar setengah dari pasien yang diberi vaksin memperlihatkan tanda-tanda reaksi anti tumor sel. Mereka yang "bereaksi" cenderung hidup lebih lama tanpa perkembangan tumor daripada mereka yang tidak memperlihatkan reaksi.

Sementara CNN melansir sekitar 78 persen pasien yang divaksindan juga diberi obat kemoterapi bertahan selama dua tahun, dibandingkan dengan 44 persen pasien yang hanya menerima obat kemoterapi tanpa vaksinasi.

Namun begitu, satu pasien yang hanya menerima vaksinasi terbebas dari kanker ovarium selama lima tahun tanpa penanganan lebih lanjut, padahal sebelum menjalani penelitian ini, kankernya kambuh dua kali setelah kemoterapi.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam situs Science Translational Medicine pada Rabu (11/4/2018) kemarin dipimpin oleh Lana Kandalaft, PharmD., PhD., MTR., George Coukos, MD., PhD., dan Alexandre Harari, PhD., dari Lausanne Branch, Ludwig Institute for Cancer Research. Sementara uji coba klinisnya dilakukan di Perelman School of Medicine dan Abramson Cancer Center di University of Pennsylvania.

Kebanyakan vaksin kanker yang dikembangkan hingga saat ini telah dirancang untuk mengenali dan menyerang molekul tertentu yang terdeteksi, seperti reseptor permukaan sel yang kemungkinan ditemukan pada setiap sel kanker pada setiap pasien dengan jenis tumor tersebut.

Namun, pendekatan yang digunakan oleh tim peneliti dari Lausanne-Penn lebih ambisius.

Pada dasarnya, setiap vaksin dibuat untuk masing-masing pasien, menggunakan sel tumor pasien sendiri yang memiliki serangkaian mutasi unik. Dengan demikian, tercipta sistem kekebalan tubuh yang unik. Ini juga merupakan vaksin tumor yang utuh yang dimaksudkan untuk memancing reaksi imun, bukan hanya satu target, tetapi ratusan bahkan ribuan target tumor.

"Vaksin ini tampaknya aman untuk pasien, dan memunculkan kekebalan anti-tumor yang luas" kata Janos L. Tanyi, MD, penulis laporan penelitian ini.

"Idenya adalah untuk memobilisasi reaksi imun yang akan menargetkan tumor secara luas, mengalahkan berbagai penanda termasuk beberapa yang hanya ditemukan pada tumor tertentu. Kami pikir penelitian ini perlu pengujian lebih lanjut, dalam uji klinis yang lebih besar," urainya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR