Vaksin DBD resmi beredar di Indonesia

Seorang bocah penderita demam berdarah diperiksa oleh dokter di seuah rumah sakit di Jakarta pada 2 Maret 2004.
Seorang bocah penderita demam berdarah diperiksa oleh dokter di seuah rumah sakit di Jakarta pada 2 Maret 2004. | EPA/BAGUS INDAHONO

DBD atau demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi oleh salah satu dari empat tipe virus dengue. Penyakit ini ditandai demam tinggi yang muncul pada tiga hari hingga dua pekan setelah gigitan. Sekitar 75 persen penduduk dunia yang paling berisiko mengidap penyakit ini bermukim di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

Menurut data yang dirilis dalam dokumen Profil Kesehatan Indonesia 2014 (dokumen PDF, halaman 153) yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada 2014 jumlah penderita DBD dilaporkan sebanyak 100.347 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 907 orang (IR/Angka kesakitan = 39,8 per 100.000 penduduk dan CFR/angka kematian = 0.9 persen). Pada satu tahun sebelumnya, 2013, kasus yang tercatat sebanyak 112.511 serta IR 45,85 sehingga terjadi penurunan kasus pada tahun 2014.

Selama ini orang yang mengalami DBD hanya menjalani pengobatan secara suportif yaitu sebatas menangani gejala demi gejala, seperti menurunkan demam, istirahat total, serta meningkatkan asupan cairan.

Beruntunglah kini Sanofi Pasteur, divisi vaksin dari Sanofi, telah mengumumkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) telah menyetujui vaksin dengue tetravalen milik Sanofi Pasteur, untuk melindungi individu yang tinggal di daerah endemik terhadap keempat serotipe dengue.

Persetujuan vaksin dengue di Indonesia merupakan pendaftaran kedua di Asia, dan ketujuh di dunia. Vaksin dengue milik Sanofi Pasteur telah disetujui di beberapa negara seperti Meksiko, Brasil, El Salvador, Costa Rica, Filipina, dan Paraguay.

"Kami menyambut baik persetujuan vaksin dengue di Indonesia yang tepat waktu," kata Prof. Dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Ketua ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).

"Dengue merupakan penyakit hiperendemik di negara kita dan sampai dengan Bulan April 2016, terdapat lebih dari 80.000 kasus dengue yang tercatat, ini berarti terjadi 39 persen lonjakan pada periode yang sama di tahun 2015. Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban dengue tertinggi di dunia, dimana beban yang ditimbulkan mencapai lebih dari USD323 juta per tahun, dan persetujuan atas vaksin dengue memberikan kita akses terhadap cara pencegahan yang inovatif untuk mengendalikan penyebaran lebih jauh dari penyakit yang berbahaya ini dan memperkuat strategi pengendalian dengue Indonesia di masa yang akan datang," tambah Sri Rezeki dalam rilis yang diterima Beritagar.id akhir pekan ini.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO pernah menerbitkan position paper atas vaksin dengue pada tanggal 29 Juli 2016 yang isinya merekomendasikan negara-negara endemik untuk mempertimbangkan pengenalan vaksin dengue milik Sanofi Pasteur sebagai bagian dari pencegahan penyakit yang terintegrasi, termasuk di dalamnya pengendalian vektor dan mobilisasi masyarakat.

WHO telah menetapkan tujuan untuk mengurangi angka kematian akibat DBD pada negara-negara endemik sebesar 50 persen dan morbiditas sebesar 25 persen pada 2020.

"Dengue menjadi gambaran masalah kesehatan masyarakat yang serius dan terus berkembang di banyak negara di Asia dengan hubungan yang signifikan antara manusia dengan beban ekonomi," menurut Dr. Anh Wartel, Medical Affairs, Sanofi Pasteur Asia & Japan Pacific.

"Persetujuan di Indonesia baru-baru ini, negara kedua di Asia, merupakan bukti bahwa kami bergerak cepat untuk membuat dengue sebagai penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi pada negara-negara dengan beban penyakit yang tinggi. Hal ini penting karena 70 persen dari populasi dunia yang berisiko terkena dengue berada di wilayah Asia, dan penyedia pelayanan kesehatan di Indonesia sekarang memiliki akses terhadap alat pencegahan klinis pertama yang dapat melindungi manusia lebih baik melawan ancaman kesehatan masyarakat ini," papar Anh.

Dengue yang parah, atau dengue haemorrhagic fever (DHF), pertama kali ditemukan di Indonesia di Kota Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Antara 2004 dan 2010, WHO melaporkan bahwa Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus DBD tertinggi di dunia setelah Brasil, dengan rata-rata kejadian 129.000 kasus per tahun.

Namun demikian, kasus DBD yang dilaporkan dari negara tersebut diketahui tidak lengkap dan prosedur pelaporan efikasi berbeda antara satu provinsi dengan lainnya.

Pada 2013 model studi kartografis memperkirakan bahwa sebanyak 7,6 juta infeksi demam berdarah mungkin terjadi di negara Indonesia pada tahun 2010 dengan sebagian besar kasus tidak dilaporkan.

Pada tahun 2015, jumlah pelaporan kasus meningkat menjadi lebih dari 100.000 dan 907 kematian akibat DBD.

Beban global akibat dengue

Menurut WHO, saat ini dengue merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang paling cepat berkembang di dunia, menyebabkan sekitar 400 juta infeksi setiap tahun. Selama 50 tahun terakhir, dengue telah menyebar; awalnya hanya terjadi di beberapa negara, saat ini merupakan endemik di 128 negara yang dihuni oleh sekitar 4 miliar orang.

Selain itu, angka kejadian penyakit ini juga meningkat 30 kali dalam periode yang sama. Walaupun dengue memengaruhi orang dari segala usia dan gaya hidup, angka kasus DBD terbesar di dunia terjadi pada anak-anak berusia 9 tahun atau lebih, dimana mewakili segmentasi sosial yang sangat aktif yang mampu memberikan dampak yang signifikan dalam penyebaran penyakit tersebut.

Tentang vaksin dengue milik Sanofi Pasteur

Vaksin dengue milik Sanofi Pasteur merupakan puncak inovasi dan kolaborasi ilmiah selama lebih dari dua dekade, serta 25 studi klinis di lebih dari 15 negara di seluruh dunia. Lebih dari 40.000 relawan berpartisipasi dalam program studi klinis vaksin dengue (tahap I, II dan III), yang 29.000 di antaranya menerima vaksinasi.

Gabungan hasil analisis efikasi dan keamanan yang terintegrasi dari 25- bulan Tahap III studi efikasi dan studi jangka panjang, masing-masing diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine pada 27 Juli 2015, yang mendokumentasikan efikasi vaksin yang konsisten dan profil keamanan jangka panjang pada populasi penelitian usia 9-16 tahun.

Pada analisis efikasi gabungan dalam kelompok ini, vaksin dengue milik Sanofi Pasteur terbukti dapat mengurangi dengue yang disebabkan oleh keempat serotipe pada dua pertiga peserta studi. Lebih jauh, gabungan analisis ini menunjukkan bahwa vaksin dengue milik Sanofi Pasteur dapat mencegah sampai dengan 93 persen kasus dengue yang parah, serta 8 dari 10 kejadian rawat inap.

Vaksin dengue milik Sanofi Pasteur merupakan yang pertama dan satu-satunya vaksin yang berlisensi untuk pencegahan demam berdarah dengue di dunia. Dosis vaksin pertama telah diproduksi dan dikirim ke negara-negara di Asia dan Amerika Latin; kapasitas produksi dari fasilitas khusus vaksin dengan skala penuh yang ada di Prancis memproduksi 100 juta dosis vaksin per tahunnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR