KESEHATAN ANAK

Vaksin terbukti tidak menyebabkan autisme

Ilustrasi vaksin untuk bayi.
Ilustrasi vaksin untuk bayi. | HelloRF Zcool /Shutterstock

Riset sudah membuktikan secara ilmiah bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme. Namun, masih banyak orang anti-vaksin karena justru menganggapnya membahayakan kesehatan anak.

Perdebatan soal topik ini masih terus bergulir. Kini, penelitian terbesar dalam sejarah kembali menunjukkan bahwa vaksin campak tidak menyebabkan autisme.

Penelitian, yang dirilis oleh Annals of Internal Medicine ini keluar pada momen yang tepat. CNN melaporkan, wabah campak yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda Amerika Serikat. Dalam setahun terakhir ada 107 kasus yang dilaporkan.

Ini disebabkan oleh para orang tua anti-vaksin yang menolak memvaksinasi anak-anak mereka. Alhasil kekebalan kelompok dan membawa kembali penyakit mematikan yang dulunya hampir diberantas tuntas.

Riset ini mengamati anak-anak yang lahir dari para ibu orang Denmark pada tahun 1999 hingga 2010. Peneliti memantau kesehatan 657.461 anak-anak.

Mereka menemukan vaksin campak, gondok, dan rubela (MMR) tidak punya korelasi dengan diagnosis autisme di kemudian hari dalam kehidupan mereka. Juga tidak ada korelasi antara peningkatan vaksinasi selama beberapa dekade terakhir dan jumlah anak autis yang didiagnosis di seluruh dunia.

Anders Hviid, penulis utama riset menyatakan, "MMR tidak menyebabkan autisme," tulis epidemiologis dari Staten Serum Institute, Kopenhagen ini dalam surel pada NPR.

Pada akhirnya, penelitian membuktikan bahwa vaksin MMR memang aman.

Dari anak-anak yang diamati, HuffPost melaporkan 6.517 di antaranya didiagnosis dengan autisme ketika mereka tumbuh dewasa. Tetapi tidak ada hubungan antara diagnosis itu dan keberadaan satu vaksin atau lainnya.

Para peneliti menjelaskan, "Studi ini sangat mendukung bahwa vaksinasi MMR tidak meningkatkan risiko autisme, tidak memicu autisme pada anak-anak yang rentan, dan tidak terkait dengan pengelompokan kasus autisme setelah vaksinasi. Ini menambah bukti studi sebelumnya melalui kekuatan statistik tambahan yang signifikan."

Variabel lain yang dipertimbangkan para peneliti adalah diagnosis autisme pada saudara kandung, serta faktor-faktor seperti usia, tahun kelahiran, jenis kelamin, riwayat vaksin lain pada masa kanak-kanak, dan faktor risiko autisme lain.

Akhirnya, bahkan dengan mempertimbangkan semua faktor itu, tetap tidak ditemukan hubungan antara vaksin dan autisme.

Selama ini teori bahwa vaksin menyebabkan autisme pertama kali muncul pada 1998, lewat sebuah penelitian yang kini telah dibantah. Seperti dilaporkan Vox, insiden ini dijuluki penipuan penelitian.

Namun, penelitian ini telanjur memiliki dampak berkelanjutan. Bercokol dalam pikiran dan keyakinan segelintir orang di seluruh dunia.

Orang-orang ini percaya mereka melindungi anak-anak mereka dari diagnosis autisme, risiko kehilangan nyawa akibat penyakit mematikan, atau membahayakan kehidupan mereka yang tidak dapat menerima vaksin karena alasan kesehatan.

Sejak saat itu, ada sejumlah penelitian lain yang dilakukan untuk membuktikan bahwa vaksinasi itu aman.

Pada 2002, sebuah studi yang lebih komprehensif dalam New England Journal of Medicine membantah teori ini. Penulis penelitian menjelaskan, "Tidak ada hubungan antara usia pada saat vaksinasi, waktu setelah vaksinasi, atau tanggal vaksinasi dan perkembangan gangguan autistik."

Penelitian lain pada 2015 juga mengungkap hal serupa. JAMA Network merilis data penelitian terhadap 100 ribu anak.

Tidak ditemukan bukti hubungan antara vaksinasi dan diagnosis autisme. Bahkan untuk anak-anak yang saudara kandungnya penderita autisme--faktor risiko diketahui.

Dua riset itu hanya sedikit contoh dari berbagai penelitian yang sedang berkembang. Intinya sama, membuktikan bahwa terlepas dari apa yang tetap diyakini sebagian orang, tidak ada risiko vaksinasi terhadap autisme atau masalah kognitif lain.

Di sisi lain, ada ancaman signifikan yang muncul ketika kekebalan komunitas berkurang. Penyakit mematikan yang sebelumnya sudah hilang jadi berpotensi mendatangkan malapetaka bagi kemanusiaan, sekali lagi.

Berbicara tentang penelitian ini, pakar kesehatan global Saad Omer mengatakan kepada Washington Post, "Penafsiran yang tepat adalah bahwa tidak ada kaitan apa pun."

Dalam editorial pengantar riset, Omer berpendapat, penelitian untuk meyakinkan para anti-vaksin tak ada gunanya. Lebih baik dananya digunakan untuk penelitian lain.

Omer menulis, seperti kata ahli bioetika Syd M Johnson, "Mereka kebal terhadap fakta." Tak lazim baginya membuang waktu, usaha, dan uang untuk orang-orang yang hidup dalam apa yang disebutnya dunia "anti-fakta".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR