POLA ASUH

Waktu di depan layar ganggu kesehatan mental anak

Ilustrasi anak dan ponsel.
Ilustrasi anak dan ponsel. | Pop-Thailand /Shutterstock

Layar gawai yang bersinar, segala stimulasi dari konten, dan otak anak yang sedang berkembang kerap kali menghasilkan kombinasi buruk ketimbang baik.

Hal ini diungkap peneliti dari San Diego State University dan University of Georgia. Mereka melakukan penelitian tentang pengaruh waktu di depan layar terhadap perkembangan mental anak-anak dan remaja.

Studi ini menemukan, terlalu banyak menonton tayangan televisi, main gim, dan menggunakan ponsel pintar dikaitkan dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada anak-anak dan remaja.

Satu jam saja waktu di depan layar ditemukan menyebabkan rasa keingintahuan dan stabilitas emosional berkurang, kontrol diri lebih rendah, dan ada ketidakmampuan lebih besar untuk menyelesaikan tugas pada anak usia di bawah 18 tahun.

"Penelitian sebelumnya tentang asosiasi antara waktu di depan layar dan kesejahteraan psikologis di kalangan anak-anak dan remaja telah menunjukkan hasil bertentangan, ini menyebabkan beberapa peneliti mempertanyakan batas waktu di depan layar yang disarankan oleh organisasi dokter," tulis peneliti Jean Twenge dan Keith Campbell.

The National Institute of Health memperkirakan anak menghabiskan sekitar lima hingga tujuh jam waktu luang mereka di depan layar. Tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan kecanduan gim sebagai gangguan mental dalam International Classification of Diseases edisi ke-11.

Semakin banyak riset yang menemukan hubungan antara penurunan kesehatan mental anak-anak dan waktu di depan layar. Termasuk yang dilakukan Twenge dan Campbell.

Tim ini menggunakan data dari National Survey of Children’s Health 2016 dalam studinya. Mereka menganalisis sampel lebih dari 40.300 survei dari orang-orang yang mengasuh anak berusia dua hingga 17 tahun.

Mereka juga menggunakan data dari survei nasional Biro Sensus AS tentang anak-anak dan penggunaan layar--televisi dan gawai. Survei ini mencakup masalah perawatan medis, emosional, masalah perkembangan, dan perilaku, perilaku remaja dan waktu harian di depan layar.

Survei ini tidak mengikutsertakan anak dengan autisme, cerebral palsy, dan keterlambatan perkembangan lain yang memengaruhi fungsi sehari-hari anak.

Para peneliti menemukan, remaja yang dalam sehari menghabiskan tujuh jam atau lebih di depan layar, punya kemungkinan dua kali lebih besar didiagnosis dengan kondisi kecemasan atau depresi, daripada remaja yang hanya menghabiskan satu jam sehari di depan layar.

"Pada awalnya, saya terkejut asosiasi itu lebih besar untuk remaja," kata Twenge. "Namun, remaja menghabiskan lebih banyak waktu dengan ponsel mereka dan media sosial, dan kami tahu dari penelitian lain bahwa aktivitas ini punya kaitan lebih kuat dengan rendahnya kesejahteraan daripada menonton televisi dan video, yang biasa dilakukan anak usia lebih kecil."

Twenge dan Campbell menemukan, empat jam sehari di depan layar dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis anak-anak yang lebih rendah. Sementara satu jam di depan layar ditemukan memiliki efek negatif paling sedikit pada kesejahteraan anak.

Anak-anak prasekolah yang sering terpapar gawai atau televisi sepanjang hari memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk kehilangan kendali atas rasa marahnya, dan 46 persen lebih mungkin tidak bisa tenang saat bersemangat.

Remaja berusia 14 sampai 17 tahun yang menghabiskan tujuh jam atau lebih sehari di depan layar punya kecenderungan 42,2 persen lebih tinggi tidak bisa menyelesaikan tugas, dibandingkan remaja yang menghabiskan kurang dari tujuh jam di depan layar. Lebih dari 22 persen remaja yang menghabiskan tujuh jam atau lebih di layar, tidak tertarik mempelajari hal-hal baru.

Cara memperbaiki masalah ini, menurut studi yang dipublikasikan di Preventative Medicine Reports, adalah dengan menetapkan aturan dan batasan yang jelas. Berapa banyak waktu di depan layar yang diperbolehkan untuk seorang anak setiap hari, baik itu anak kecil hingga remaja.

Para peneliti mengingatkan, "Setengah dari masalah kesehatan mental berkembang pada masa remaja. Dengan demikian, ada kebutuhan akut untuk mengidentifikasi faktor terkait dengan masalah kesehatan mental yang bisa diintervensi dalam populasi ini, karena sebagian besar pendahulu sulit atau tidak mungkin untuk dipengaruhi."

Mereka melanjutkan, "Dibandingkan dengan anteseden kesehatan mental yang lebih sulit disembuhkan, bagaimana anak-anak dan remaja menghabiskan waktu luang mereka lebih mudah untuk diubah."

Peneliti lain pun meyakini temuan Twenge ini penting. "Ini adalah studi yang sangat mengesankan," kata Dr. Brian Primack, profesor kedokteran dan pediatri dan direktur Center for Research on Media, Technology, and Health di University of Pittsburgh dinukil Time.

Dr. Primack memaparkan, “Penelitian ini melampaui pekerjaan sebelumnya dalam hal memberikan gambaran lebih halus, yang menunjukkan satu jam waktu layar harian bisa menjadi ambang penting. Ini juga memberikan pola yang relatif konsisten di sekitar berbagai hasil yang berbeda, seperti depresi, kecemasan, masalah menyelesaikan tugas, dan meningkatkan perdebatan.”

Bagaimanapun, seperti halnya studi lain, studi ini saja tidak bisa memberikan “gambaran lengkap” tentang efek layar pada kesehatan mental anak-anak. Masih diperlukan lebih banyak penelitian.

Tetapi, orang tua punya alasan khawatir soal aktivitas anak di depan layar. Terutama yang terkait dengan media sosial dan ponsel pintar. “Saya mengatakan bahwa kita sekarang punya cukup bukti atas kekhawatiran bahwa kita harus lebih berhati-hati,” katanya.

Saat ini American Academy of Pediatrics merekomendasikan tidak lebih dari satu jam waktu di depan layar setiap hari untuk anak usia dua hingga lima tahun. Tapi mereka belum memiliki rekomendasi spesifik untuk anak di atas usia lima tahun.

Sementara di Indonesia, rencana pembatasan waktu anak di depan layar baru-baru ini diungkap oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Empat kementerian akan menggodok aturan ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Kementerian Agama (Kemenag), dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

BACA JUGA