Ilustrasi penampilan anggota kelompok suporter Ultras (kiri), Mania, dan Casual © Tito Sigilipoe / Beritagar.id

Ciri Ultras, Mania, dan Casual

Kehadiran suporter sepak bola membuat atmosfer pertandingan semakin meriah

Sepak bola tanpa kehadiran penonton di tepi lapangan ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Kehadiran mereka dengan segala bentuk dukungan menyuntikkan tambahan tenaga bagi para pemain yang berlaga.

Awalnya hanya kerumunan yang datang untuk menyaksikan dan memberikan dukungan kepada tim andalan. Perlahan terbit kesadaran untuk berkumpul dalam satu wadah.

Kepada Beritagar.id, Fajar Junaedi (dosen ilmu komunikasi dan penulis buku Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media) menyebut ada dua pendekatan untuk mengidentifikasi munculnya kelompok suporter, terutama di Indonesia.

Pertama yang berkembang melalui kultur atau budaya. Kelompok ini terbentuk secara organik lantaran disatukan oleh interaksi simbolik, seperti klub, logo, dan ragam nyanyian (chants) dukungan.

Contoh paling bagus dari kelompok ini adalah kehadiran Bondho nekat alias Bonek (kelompok suporter Persebaya) dan Aremania (sebutan untuk pendukung tim Arema FC di Malang).

Pendekatan kedua yang berkembang melalui struktural fungsional laiknya organisasi masyarakat (ormas). Contohnya Pasoepati di Solo, Brajamusti di Yogyakarta, atau Slemania di Sleman.

Ilustrasi penampilan umum suporter dari kelompok Ultras, Mania, dan Casual
© Tito Sigilipoe (ilustrasi), Sandy Nurdiansyah (infografik), Andi Baso Djaya (teks) /Beritagar.id

Mania

Menurut Fajar Junaedi, secara historis penggunaan kata Mania dalam kelompok suporter di Indonesia dipopulerkan oleh Arema saat membubarkan kelompok pendukung mereka yang bernama Arema Fans Club pada 1994.

Kurangnya respons positif terhadap organisasi "resmi" suporter tersebut jadi alasan pembubaran.

Ovan Tobing (62), penyiar radio yang sering menjadi Master of Ceremony dalam pertandingan-pertandingan Arema di stadion, lantas mengusulkan pembentukan kelompok suporter baru bernama Aremania.

Usul tersebut diterima karena suporter ternyata lebih nyaman dengan sistem ketiadaan struktur organisasi dan ketua. Penyebutan Aremania yang merupakan gabungan kata Arema dan maniak juga dirasakan lebih catchy.

Ketika awal terbentuk, Aremania merujuk gaya-gaya suporter Amerika Latin yang dikenalkan oleh para pemain asing tim yang berasal dari kawasan selatan di Benua Amerika.

Casual

Kelompok yang sekarang mulai tumbuh di kalangan suporter sepak bola di Indonesia ini berasal dari Inggris. Berkembang sejak akhir dekade 70-an dan sekarang menjadi sebuah subkultur.

Menyitir Herald Scotland, Casual bermula saat para pendukung Liverpool FC yang merayakan keberhasilan timnya menjuarai Piala Champions Eropa 1977-78 mulai mengenakan pakaian merek Fila, Burberry, Kappa, dan Lacoste sebagai identitas.

Anggota kelompok suporter lain di Inggris kala itu masih asing mengenakan merek-merek tersebut. Salah satu penyebabnya karena harganya lebih mahal dibandingkan yang selama ini mereka pakai.

Sebagai turunan dari Hooligan, anggota kelompok Casual juga kerap baku hantam dengan suporter klub lain.

Oxford English Dictionary terbitan Oxford University Press mengartikan Hooligan sebagai pembuat rusuh dengan tindakan kekerasan.

Tidak mengherankan jika kekerasan karena ulah suporter kemudian diistilahkan sebagai hooliganisme sepak bola.

Gelombang penyebaran Casual bukan hanya terbantu karena sepak bola. Menjamurnya remaja pesolek yang mewarnai subkultur Teddy boy awal era 50-an, mod, dan rude boy ternyata menarik perhatian para suporter untuk mengadaptasinya ke teras sepak bola. Tujuannya untuk mengelabui perhatian aparat keamanan pertandingan.

"Menjadi Casual adalah cara untuk memisahkan diri dari pendukung biasa melalui pakaian dan gaya hidup," tutur admin akun Twitter @thecasualultra, kelompok pendukung klub SC Cambuur di Divisi 1 Liga Belanda, saat diwawancarai vice.com (11/7).

Ultras

Berbeda dengan Casual yang laiknya Hooligan doyan atau fokus mencari kekerasan, Ultras yang berkembang pesat di Italia mendatangi stadion untuk menunjukkan kegairahan berlebih saat mendukung tim andalannya bertanding.

Menempati sudut tertentu di dalam stadion, biasanya di belakang gawang (alias curva), Ultras akan memberikan dukungan secara konsisten selama pertandingan berlangsung dipimpin oleh capo alias dirigen yang memegang megafon.

Kelompok Ultras mewarnai stadion dengan gaya dukung teatrikal dengan beragam koreografi, kibaran panji-panji berukuran besar, chants, bila perlu menggunakan suar dan bom asap warna-warni karena stadion juga diibaratkan spektakel. Pun demikian, terkadang mereka juga dapat menggunakan kekerasan.

Saat duel, kelompok ini punya aturan yang kemudian dikenal sebagai Ultras Codex. Antara lain jumlah petarung harus sama banyak (tidak keroyokan), menggunakan tangan kosong, dan saat lawan sudah terpukul jatuh atau menyerah, pertarungan disudahi.

Apa pun risiko yang diterima pihak yang kalah tidak boleh diteruskan ke pihak kepolisian. Sebagai imbalan kemenangan, Ultras yang ditaklukkan harus menyerahkan bendera identitas yang jadi kebanggaan dan harga diri mereka kepada sang pemenang.

Menurut Kenny Legg, penulis sepak bola yang berbasis di Berlin, Jerman, gerakan Ultras berakar pada politik sayap kiri di Italia.

"Beberapa Ultras di Jerman bahkan sangat politis, juga sering mengambil sikap dalam isu-isu di luar sepak bola, seperti pengungsi, rasisme, dan homofobia," ujarnya.

Walaupun tidak mengharamkan perkelahian, Ultras sering menjadi reaksi melawan hooliganisme yang masih lazim di stadion pada awal hingga medio 90-an.

"Kelompok Ultras, dalam beberapa kasus, mengambil alih tribune dan menjadikannya tempat yang menyenangkan dan cerah untuk masyarakat luas. Bukan tempat yang perlu ditakuti," pungkas Legg.

Andi Baso Djaya
Seni dan hiburan

BACA JUGA