HUKUMAN MATI

Infografik: Antrean eksekusi

Ratusan terpidana mengantre eksekusi mati. Penantian bisa puluhan tahun sejak vonis dijatuhkan.
Ratusan terpidana mengantre eksekusi mati. Penantian bisa puluhan tahun sejak vonis dijatuhkan. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

KEPASTIAN| Jaksa Agung yang baru dilantik ST Burhanuddin siap menyelesaikan tumpukan perkara. Ia akan mengeksekusi terpidana mati setelah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap atau inkracht.

Menurut Amnesti International, pada 2018 terdapat 308 orang terpidana mati yang sedang menunggu eksekusi di Indonesia. Tahun ini, ada tambahan 66 orang terpidana yang juga divonis mati.

Selama pemerintahan Jokowi, tercatat ada 18 terpidana yang dieksekusi mati. Sebanyak 14 orang dieksekusi pada 2015, sedangkan empat lainnya dieksekusi pada 2016.

Napi bisa mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) selama puluhan tahun sebelum akhirnya ada kepastian. Terpidana mati Bahar Matsar, misalnya, harus menanti 43 tahun untuk dijemput maut - bukan di depan regu tembak, tapi lantaran penyakit TBC.

Bahar, pelaku perampokan, pembunuhan berencana, pemerkosaan dan penculikan ini divonis pidana mati pada 5 Maret 1970 oleh Pengadilan Negeri Tembilahan, Riau. Bahar meninggal pada 12 Agustus 2012 di LP Nusakambangan, Jawa Tengah, sebelum eksekusi dilakukan.

Kejaksaan Agung membutuhkan biaya Rp1,2 miliar untuk mengeksekusi 6 orang pada tahun 2015. Biaya tersebut meliputi ongkos para eksekutor, petugas kerohanian yang membantu menenangkan terpidana dan keluarganya, serta ongkos pemakaman.

Bagi keluarga napi, hukuman mati juga bisa membuat keluarga yang sebenarnya miskin harus menjual harta bendanya untuk membiayai ustaz, doa bersama, dan mengundang tetangga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR