PEMINDAHAN IBU KOTA

Infografik: Satwa langka di ibu kota baru

Sejumlah elemen aktivis lingkungan menyoal perpindahan ibu kota baru mengancam fauna endemik.
Sejumlah elemen aktivis lingkungan menyoal perpindahan ibu kota baru mengancam fauna endemik. | Bagus Triwibowo /Beritagar.id

Setelah meminta izin kepada para wakil rakyat untuk memindahkan ibu kota Republik Indonesia ke pulau Kalimantan. Presiden Joko "Jokowi" Widodo kemudian mengumumkan ibu kota baru kepada khalayak.

"Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur," ujar Jokowi dalam pengumuman resmi di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Keputusan Jokowi menunjuk Kaltim sebagai lokasi pemindahan ibu kota baru Indonesia mendapat respons negatif dari para aktivis lingkungan.

Lalu, apa persoalan yang ada di sana?

Di sekitar kawasan bakal ibu kota baru terdapat habitat satwa langka kebanggaan Indonesia, yang menjadi representasi kekayaan hayati namun mesti dilindungi dan dilestarikan, di antaranya:

  • Badak Sumatra: Populasi hewan endemik bernama latin Dicerorhinus sumatrensis ini diperkirakan tinggal 12-15 ekor. Mereka terancam punah akibat perburuan yang dilakukan bertahun-tahun lalu.
  • Orangutan Kalimantan: Populasinya semakin berkurang pada 2019. Pakar orangutan Universitas Indonesia Rondang Siregar bilang, "Dulu kita bisa bilang Kalimantan masih aman... Sekarang sama dengan Sumatra, kritis."
  • Rangkong: Dirjen KSDAE Kementerian LHK RI Wiratno menyebut populasi rangkong sulit diperkirakan lantaran protokol pengambilan data tidak sama, "Namun, dari sampel pengamatan... Berkisar antara 0,2-2,1 individu/ km persegi."
  • Beruang Madu: Hewan omnivora bernama latin Helarctos malayanus ini merupakan beruang terkecil dari semua beruang yang ada di bumi. Spesies ini dilindungi lantaran kini mendekati kepunahan.
  • Bekantan: Populasi fauna endemik Kalimantan dengan nama ilmiah Nasalis larvatus adalah monyet berhidung panjang berambut coklat kemerahan ini makin langka, di Kaltim kini tersisa sekitar 300 ekor.
  • Owa: Dikenal dengan sebutan Owa Kelempiau (Hylobates albibarbis), dari ke hari jumlahnya semakin memprihatinkan. The International Union for Conservation of Nature mengategorikan sebagai satwa berstatus genting, atau endangered.
  • Pesut mahakam: Mamalia atau lumba-lumba air tawar penghuni Sungai Mahakam (Orcaella brevirostris) yang dijadikan maskot fauna Provinsi Kalimantan Timur, ini statusnya terancam punah. Hanya tersisa puluhan saja.
  • Penyu: Pencurian dan eksploitasi penyu masih kerap terjadi. Populasi penyu, misalnya penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Kaltim, pada tahun 2018, sekitar 6.700 ekor.

Namun, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro meminta pelestarian hutan konservasi Kalimantan dijaga. Ia berkomitmen membantu upaya restorasi hutan terdampak pengembangan ibu kota dan menjadikannya kawasan paru-paru dunia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR