KESEHATAN ANAK

Infografik: Tekan stunting tingkatkan kualitas SDM

Prevalensi bayi stunting turun memang menjadi 30,8 persen (2018) namun masih lebih tinggi dari target WHO yaitu  20 persen.
Prevalensi bayi stunting turun memang menjadi 30,8 persen (2018) namun masih lebih tinggi dari target WHO yaitu 20 persen. | Bagus Triwibowo /Beritagar.id

Pada Hari Kesehatan Nasional ke-55 (12/11/2019), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyoroti masalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama stunting.

“Sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Presiden dalam pelantikan Kabinet Indonesia Maju 2020-2024 bahwa perhatian pemerintah dalam kurun lima tahun mendatang diprioritaskan pada pembangunan Sumber Daya Manusia,” kata Terawan dalam sambutannya. Kementerian Kesehatan memang mengusung tema "Generasi Sehat, Indonesia Unggul" sebagai tema HKN tahun ini.

Kaitan stunting dengan kualitas SDM

Stunting atau kondisi gagal tumbuh berpengaruh terhadap pertumbuhan otak balita, membuatnya tak ada daya saing saat dewasa. Balita perempuan yang mengalami stunting ketika dewasa menjadi ibu yang berpotensi melahirkan bayi dengan gizi buruk pula.

Peristiwa tersebut akan berulang sehingga menghasilkan hambatan besar terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Dalam jangka panjang, stunting menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Jika prevalensi stunting tidak segera ditekan, tren balita yang pendek diproyeksikan menjadi 127 juta pada 2025. Anak yang stunting ketika dewasa berpotensi mendapat penghasilan 20 persen lebih rendah dari anak yang tidak mengalami stunting.

Mengenali Stunting

Balita yang stunting bertubuh pendek, namun biasanya proporsional. Untuk membedakan pendek karena stunting atau karena penyebab lainnya (misalnya karena hormonal), WHO membuat panduan standar pertumbuhan anak. Selain stunting, berat kurang (underweight) dan kekurusan (wasting) juga digolongkan ke dalam masalah gizi.

Bayi mengalami stunting sejak di dalam kandungan karena kekurangan gizi kronis. Tanda-tanda kekurangan gizi baru terlihat setelah dua tahun.

Target WHO

WHO menetapkan target balita stunting di bawah angka 20 persen. Indonesia masih di bawah target, tahun 2018 ada 30,8 persen balita yang mengalami stunting. Tahun 2019 ini prevalensinya turun menjadi 27,67 persen bila merujuk pada Survei Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

“Selama lima tahun ini Kemenkes sudah bisa menurunkan stunting sekitar 15% dan tinggal 12%. Angka stunting bisa menurun dengan baik karena ada kerja sama untuk promotif dan preventif,” ujar Menteri Kesehatan saat itu Nila Moeloek (18/10/2019).

Mencegah lebih baik

Perbaikan gizi dilakukan dimulai dari pemenuhan gizi ibu, karena stunting anak dimulai sejak dalam kandungan. Menurut Terawan, salah satu langkah yang dilakukan untuk menurunkan angka stunting adalah meningkatkan lagi kegiatan-kegiatan Posyandu. “Posyandu harus digiatkan lagi. Komunikasi antara ibu-ibu menjadi baik, tidak ngerumpi saja, tapi menolong bayi-bayi, menolong saling membantu pemberian peningkatan gizi,” katanya (27/10/2019).

Provinsi dengan prevalensi balita stunting tertinggi berada di Nusa Tenggara Timur (42,7%), diikuti Sulawesi Barat (41,6%), Aceh (37,1%), Sulawesi Selatan (35,7%), Kalimantan Tengah dan Maluku (masing-masing 34%).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR