Konsumsi garam orang DKI seperdelapannya orang NTB

BANDINGKAN | Tujuh teratas dan tujuh terbawah dalam konsumsi garam di Indonesia.
© Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Garam dibutuhkan oleh tubuh, antara lain untuk mencegah dehidrasi. Tapi kalau asupan garam terlalu tinggi -- lebih dari enam gram (setara 2,4 gram natrium; Alodokter) -- bisa mendongkrak tekanan darah.

Lalu ada kabar pasokan garam berkurang, harganya naik. Juga terpapar kenapa produksi garam Indonesia tak memenuhi kebutuhan.

Jika bicara kebutuhan garam, yang diterjemahkan sebagai konsumsi, temuan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, oleh Badan Pusat Statistik, itu menarik. Konsumsi garam di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta ternyata paling rendah: 3,94 gram per orang/minggu.

Sebagai perbandingan, konsumsi di Nusa Tenggara Barat adalah yang tertinggi di Indonesia: 32,82 gram. Setelah itu Kalimantan Barat: 31,94 gram.

Konsumsi yang dihitung dalam Susenas adalah rerata per orang, dalam rumah tangga, selama sepekan. Artinya, dihitung dari seluruh jumlah penduduk provinsi, baik yang membeli garam dapur maupun tidak, sebagai pembagi.

Adakah yang tak beli garam dapur? Lho siapa tahu ada, karena mereka selalu makan di luar atau memesan dari kedai -- tapi mereka selalu mengasup garam.

Tentang garam sebagai komoditas, di sejumlah daerah garam dulu menjadi sarana barter. Misalnya produk pertanian ditukar dengan garam.

Meskipun begitu, pada zaman ekonomi uang, hal itu pun dapat terjadi. Misalnya lima tahun silam di Nusa Tenggara Timur. Petambak garam di Desa Pitai, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, membarter garamnya dengan petani di desa tetangganya, Pariti dan Nunkurus (Antara Kalbar, 28/7/2012).

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.