Monumen proyek warisan Daendels

Monumen 1000 Km Anyer - Panarukan yang sedang dirampungkan di Situbondo, Jatim
Monumen 1000 Km Anyer - Panarukan yang sedang dirampungkan di Situbondo, Jatim | Foto: Seno | Infografik: Antyo Rentjoko /Antara Foto/Beritagar.id

Di balik sebuah prestasi juga bisa ada penindasan. Jalan Raya Pos dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jatim), sepanjang 1.000km, yang dibangun dalam setahun (1808), disebut meminta korban hingga 12.000 jiwa.

Mobilisasi kerja paksa itu tak hanya menghasilkan kelaparan namun juga mengundang malaria perampas nyawa. Tempat bernama Cadas Pangeran di Sumedang, Jabar, adalah kenangan pahit tentang tewasnya 5.000-an pekerja rodi pembuat jalan.

Namun dari proyek Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), saat Hindia Belanda dijajah Prancis, Indonesia modern beroleh sejumlah warisan. Tak hanya jalur Pantura Jawa karena Daendels adalah perintis infrastruktur (Nederlandsindie, tanpa tahun) namun juga arsitektur indis (Hadinoto, Petra, Surabaya, tanpa tahun).

Pramudya Ananta Toer mengemas rekam jejak itu dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (Lentara Dipantara, 2005). Buku yang selesai pada 1995 dan dibuat film dokumenter oleh Pieter Van Huystee Film and Television dari Belanda (Jalan Raya Pos, Bernie Ijdis, 1996).

Kini Monumen 1000 Km Anyer - Panarukan sedang diselesaikan di Panarukan, Situbondo, Jatim — lihat ilustrasi. Kisah apa saja yang kelak melekati benak para para penikmat monumen itu?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR