Persekusi: polisi salah, pelaku bukan FPI?

SEMAUNYA | Ormas, misalnya FPI, bisa melakukan persekusi karena menganggap sasaran menghina tokohnya yang berarti juga menghina agama mereka.
SEMAUNYA | Ormas, misalnya FPI, bisa melakukan persekusi karena menganggap sasaran menghina tokohnya yang berarti juga menghina agama mereka. | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Polisi sudah menangkap dua tersangka persekutor terhadap PMA (15) di Balai RW 03 Cipinang Muara, Jakarta Timur, lima hari setelah peristiwa pada Minggu malam 28 Mei 2017.

Terhadap kasus kekerasan di Cipinang Muara, Jakarta Timur, juru bicara FPI Slamet Ma'aruf menyangkal terjadi pemukulan. Pelakunya pun ia sebut simpatisan FPI, bukan anggota (CNN Indonesia, 2/6/2017).

Perihal persekusi di Solok, Sumatra Barat, yang menimpa Dokter Fiera Lovita akhir Mei lalu (BBC Indonesia, 27/3/2017), Ma'aruf di CNN Indonesia menyatakan tak punya pengurus di kota itu.

Karena kasus di Solok, Kepala Polri Tito Karnavian telah mencopot Kepala Polres Ajun Komisaris Besar Susmelawati Rosya. Imam FPI Sumatra Barat Buya Busra bilang, "Saya kecewa dengan kesewenangan-wenangan Kapolri." (Tempo.co, 3/6/2017)

Menurut Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Kombes Awi Setiyono, persekutor melanggar KUHP. Misalnya pengancaman (Pasal 368), penganiayaan (Pasal 351), dan pengeroyokan (Pasal 170) -- (detikNews, 1/7/2017)

Akan tetapi bagi Sufmi Dasco Ahmad, anggota Komisi III DPR dari Partai Gerindra, yang terjadi sekarang bukan persekusi. Menurutnya, "Justru, persekusi itu bisa ditujukan pada kelompok penjahat bermotor yang membabibuta menganiaya korbannya di jalanan..." (Pos Kota, 4/6/2017)

BACA JUGA